Komik Digital Indonesia, Sudahkah Jadi Lahan Bisnis?

Film Indonesia mulai bangkit. Musik Indonesia sudah lama jadi tuan di rumah sendiri. Begitu pula sastra Indonesia. Komik Indonesia? Boro-boro membuat komikusnya hidup makmur, sekedar menjadi sandang-pangan saja terseog-seog lantaran konsumennya cenderung memilih komik manca. Tapi di tengah-tengah kelesuan tersebut, komik digital hadir sebagai senjata baru untuk menggempur hati konsumen. Patut diapresiasi.

Digitalisasi komik di Indonesia barangkali baru diterapkan sebatas eksplorasi alat, seperti digital pen, digital painting, pengeditan, sekedar pemajangan hasil scan komik di situs/blog (dalam satu sudut pandang ini disebut membajak), dst. Belum ada yang secara signifikan mengeksplorasi media layar digital sebagai bentuk kreativitas baru, apalagi menjadikannya bisnis.

Padahal, “Dibandingkan komik cetak, komik digital—terutama komik online—tidak membutuhkan aspek produksi cetak dan distribusi fisik. Promosi dan penjualan bisa berjalan sekaligus, sehingga akan lebih murah dan efektif,” terang Wisnoe Lee, komikus Gibug ‘n Oncom.

Lebih lanjut, peraih The Best Cyber Comic di Kosasih Award 2007 ini menerangkan pada saya bahwa memalingkan pembaca komik pada komik lokal lewat internet itu lebih mudah ketimbang melalui cara-cara konvensional. “Komik-komik kita seringnya tenggelam dalam deretan rak komik-komik impor. Jumlahnya kurang banyak dan kurang menonjol di mata para pembelanja toko buku. Tapi di internet, rak-rak promosi itu lenyap.”

Kita tahu, sejak awal 1990-an, banjir komik terjemahan asal Amerika, Jepang dan Eropa telah menyikut komik Indonesia keluar dari hati konsumennya. Komikus lokal pun satu per satu surut, amit mundur, untuk kemudian beralih profesi. Dan seolah keadaan belum cukup menjengkelkan, pihak penerbit, distributor dan toko buku malah bertindak pragmatis dengan lebih mengakomodasi komik-komik impor yang terus berdatangan bak air bah tadi.

Memang, komik lokal tidak lantas mati klepek-klepek. Generasi baru terus bertumbuhan melahirkan karya-karya anyar. Ada yang jualan dengan memanfaatkan situs dan blog. Lihat saja Anto Motulz (KaptenBandung.com) dan Erick Sulaiman (Ericbdg.blogspot.com).

Melalui blognya, Erick mempromosikan komik-komik kocaknya. Dagangannya sendiri dititipkan ke berbagai toko buku, baik online maupun offline (semacam Toga Mas). Pengajar di Institut Teknologi Nasional Bandung itu juga menerima pemesanan langsung lewat blog tersebut. Banyak sekali komikus yang berjuang secara sporadis seperti ini.

Namun komunitas-komunitas pun tidak berpangku tangan. Mereka saling bergabung, berdiskusi dan berkarya, sehingga setiap tetes perjuangan tidak sampai tercecer. Sinergi semacam ini antara lain diperagakan oleh Ahmad Zeni dan Didi Sunardi melalui PragatComic.com. Portal ini bisa dibilang profesional meskipun jaringan dan produknya indie. Yang saya puji, PragatComic bukan sekedar ajang pamer karya atau diskusi, mereka juga menyeleggarakan lomba komik bertitel Tarung Komik, menjual komik, mengagensikan, memproduksi sendiri, dsb.

Sementara itu, usaha lebih canggih dilakukan dengan memanfaatkan gadget ponsel yang memang sedang naik daun lima tahun belakangan ini. Dua di antara para penyelenggaranya adalah Fun-Dering (Fun-dering.com) dengan GnO Cellular-nya dan Telkomsel (M-komik.co.id) dengan M-Komik-nya. Sebenarnya di Amerika dan Jepang terobosan semacam ini sudah sangat populer dan mempunyai pasar tersendiri.

Tentu saja mengomsumsi komik digital, apapun bentuknya, tidaklah senyaman membaca komik kertas. Tapi ini hanya masalah kebiasaan. Seiring bergulirnya waktu, orang akan semakin terbiasa. Di kutub lain, isu perusakan lingkungan, pemanasan global, sampai kian menipisnya bahan baku kertas pun sedikit-banyak membantu keniscayaan proyek digitalisasi global ini.

Bagaimanapun, “Setahu saya pebisnis komik online yang murni belum ada. Yang ada hanya sekedar hobi atau presentasi karya. Saya sendiri yang mengawali komik online sejak lebih dari lima tahun lalu hingga sekarang masih menggratiskan. Komik online masih saya perlakukan sebagai hiburan, atau untuk mempromosikan karakter Gibug,” terang Wisnoe.

Menurutnya, komik seluler malah selangkah lebih maju. Banyak penyelenggara konten yang sudah membuat komik seluler sebagai lahan bisnis. Mungkin karena teknologinya lebih mudah dijalankan oleh pebisnis dan lebih mudah dibeli/dinikmati oleh masyarakat dibanding komik di internet, terobosan ini bisa jadi menjanjikan, baik dari segi kreativitas maupun komersialitas.

Saat ini pengguna seluler tanah air diperkirakan lebih dari 70 juta nomor. Meskipun angka 70 juta itu masih perlu digali: Berapa yang didukung ponsel dan perangkat keras yang kompatibel? Di antara sekian yang didukung ponsel kompatibel, berapa yang pemiliknya merupakan konsumen komik? Lalu berapa di antara konsumen komik itu yang puas membaca komik dalam media sekecil dan seterbatas ponsel? Lantas, bagaimana pula kalau orang yang memenuhi kriteria komik seluler itu ternyata gaptek?

Namun semua itu tak menyurutkan niat Telkomsel untuk meluncurkan M-Komik di akhir tahun lalu. Dengan layanan ini, pelanggan Telkomsel dimudahkan untuk mengunduh katalog dan membaca (membeli) komik melalui layar ponsel. Teknologinya dikembangkan oleh InTouch, sementara manajemen komikusnya ditangani oleh komunitas Akademi Samali, Splash, serta KomikIndonesia.com.

Muluskah rencana itu? Tidak juga, saya rasa.

“Keterbatasan pada layar ponsel membuat komikus terpaksa mengurangi balon teks pada setiap panel gambar. Bahkan bisa jadi tidak ada teks sama sekali, karena teks pada balon sulit dibaca,” kata Ariela Kristantina dari komunitas Splash.

Biasanya komik seluler menggunakan teks berjalan di setiap panel sebagai pengganti balon teks. Di media ini, bentuk panelnya pun harus seragam, yaitu landscape (memanjang horisontal) semua atau portrait (memanjang vertikal) semua. Tidak ada variasi sebagaimana kerap kita jumpai dalam komik fisik.

Itu saja kendalanya? Tunggu dulu. Untuk bisa menikmati, umpamanya M-Komik, ada beberapa persyaratan teknis yang harus dipenuhi ponsel. Mulai dari kapasitas memori, GPRS dan bluetooth, sampai OS (sistem operasi) yang berbasis Java atau Symbian. Ribet kan? Untuk pertama kali, barangkali iya.

Yang jelas, komikus-komikus senior seperti Hans Jaladara, Mansjur Daman, Armin Tanjung, Djair Warni, Teguh Santosa, Wid NS dan Ganes Th. pun ikut berpartisipasi dalam proyek M-Komik Telkomsel. Walaupun karya-karya mereka harus rela disesuaikan agar memenuhi syarat komik seluler.

Sisi unggulnya, distribusi produk ini lebih praktis bagi produsen maupun konsumen. Pembaca komik jenis ini juga dapat menikmati berbagai efek seperti suara bom, pistol meletus, derap langkah kaki, jeritan korban, dsb. Sensasi berupa audio dan getaran pada ponsel ini mustahil diperoleh melalui komik fisik kan?

Saya rasa hanya waktu yang bisa membuktikan semua ini.

“Komik nasional sekarang ini pada kenyataannya hanya berupa potongan roti yang siap disantap oleh pasarnya sendiri. Bukan tidak ada pasar. Ada. Begitu juga, jika dibilang pangsa pasar komik digital mengecil, itu tidaklah mengapa. Sekecil apapun itu, tetap pasar. Tapi bukankah (komik di) situs kita dibaca oleh para netter sedunia?” ujar Wisnoe lagi.

Yah, secara nalar, komik digital (khususnya komik online) memang lebih mudah go internasional dibanding komik cetak. Contohnya adalah komik Garuda Riders. Tapi ketika melempar kembali pandangan ke sekitar, saya rasa pertanyaannya tetap: Kapan konsumen komik kita siap?

11 Replies to “Komik Digital Indonesia, Sudahkah Jadi Lahan Bisnis?”

  1. bosangjay

    Salam kenal,

    Artikel yang bagus, ada sedikit usul bagaimana kalau komunitas komik Indonesia bekerja sama membuat majalah komik seperti Donald Bebek seperti di Belgia ada Spirou atau di jepang ada Shonen ….

    Terlebih lagi harusnya komik komik Indonesia paling tidak mudah ditemui di Perpustakaan perpustakaan umum yang ada. Dengan begitu orang juga tahu “oh ternyata begini toh komik Indonesia”.

    Masalah penggunaan teknologi, karena paling enak menggambar ya pakai pinsil dan kertas 😉

    Reply
  2. Brahm

    Thank u, Mas Bosangjay. Usul2 yg bagus. Apa majalah komik = kompilasi komik? Soalnya kan Donal Bebek jg kompilasi komik (meski karakter2nya sudah ditentukan), dg komikus yg bisa siapa saja di perusahaan Disney. Kalau mmg begitu, udah ada yg merealisasikan tuh. Setahuku, contohnya Tarung Komik, Komedo, Splash, dll.

    Iya, kenapa ya komik nggak ada di perpus umum? Setahuku sih kalau di perpus komik-komik itu ada di ruang anak2. Tp itu bukan komik2 dg segmen luas. Pasti komik2nya bersegmen anak2 aja.

    Reply
  3. sahabat88

    mungkin kekuatan cerita yang kurang dari komikus indonesia…
    atau karakter yg belum digemari masyarakat komik indonesia
    terima kasih infonya..
    sangat bermanfaat
    😀

    Reply
  4. Prangg RN

    Salam Kenal,,,

    Pergerakan Komik Indonesia seperti tikus yang melawan gajah. Ha,,ha,,ha,, wajar jika penggiatnya kita sebut sebagai gerilyawan. Dan yang perlu digarisbawahi, mereka masih belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Berjuang dan terus bergerak membenahi diri. Salut,,,

    Kenapa komik nggak ada di perpustakaan umum…? Pertanyaan ini layaknya ditanyakan kepada pengurus perpustakaan.

    Dilain pihak, masyarakat kita memang memiliki kebanggaan terhadap produk luar, bangga dengan merek luar, bangga bisa jalan-jalan keluar negeri. Nah untuk yang ini semoga saya salah.

    Reply
  5. Brahm

    Trims, Mas Prangg. Anda gerilyawan jg ya, ternyata. Utk komik Indonesia rasanya perjuangannya masih panjang. Tp maju terus!

    Reply
  6. phu

    yg jadi petanyaan, sudikah para pengguna telkomsel memberikan beberapa rupiahnya untuk mengakses komik dalam ukuran kecil sperti itu ?

    jng2 bkal jd tren sesaat saja

    Reply
  7. Brahm

    Thanks, Phu. Nah, itu sebenarnya sudah kutanyakan ke Telkomsel bln lalu (krn hanya mrk yg tahu statistiknya kan), tp blm ada jawaban sampai sekarang. Kalau dapet datanya sebetulnya enak buat memprediksi ke depan ttg terobosan ini.

    Reply

Leave a Reply to sahabat88 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.