Mengapa Saya Membaca Komik

By: Karna Mustaqim

Dulu, rasanya komik begitu sederhana. Dibendel, diikat tali pada tepian jilidannya, baunya apek oleh debu, tiap halaman cuma diisi dua kotak panel: Atas-bawah, hitam-putih, itupun kadang berbagi tempat dengan balon teks dan teks suara. Sudah begitu, pembagian panelnya biasanya tidak konsisten. Kualitas cetaknya pun berbeda-beda. Apa sih menariknya media ini? Mengapa saya tetap membaca komik?

Sungguh, pertanyaan ini lebih mudah dijawab di masa anak-anak dulu. Boleh jadi jawabannya, “Gambarnya lucu, ceritanya seru, bisa dibaca sambil makan atau tiduran.” Tapi tatkala dewasa, alasan-alasan semacam itu rasanya justru akan membuat diri ini kurang percaya diri.

Yang aneh, pertanyaan serupa jarang menimpa penggemar cerpen, novel, atau film. Padahal bila itu ditanyakan, dijamin mereka juga susah menjawabnya. Kenapa baca cerpen? Kenapa baca puisi? Kenapa baca cersil? Kenapa nonton film? Bahkan, kenapa nonton bola?

Sayangnya, yang kerap dipersoalkan adalah, “Kenapa MASIH baca komik?” Tambahkan sepotong “sih!?” dan sedikit nada mencibir, maka terdengarlah pertanyaan itu begitu mengecilkan hati. Refleks saja otak ini melakukan kontraksi untuk segera mengonstruksikan jawaban (yang besar kemungkinannya sekedar bersifat defensif).

Karena itu, di sini saya ingin memberikan alasan yang tidak terburu-buru. Alasan yang aman, nyaman, tapi mungkin tidak praktis. Semua berdasarkan pengalaman saya.

Sebetulnya, tak ada yang terlalu istimewa dengan pengalaman saya mengomik. Lain halnya dengan menggambar yang bagi saya merupakan sebuah cara untuk beristirahat. Mengomik itu susah, bikin pening. Melukis justru lebih menyenangkan, menambah semangat, meskipun energi juga terkuras sehabis melakukannya. Sampai sekarang saya masih menggambar komik atau sekedar tokoh komik, namun tak sebanyak membuat sketsa lukisan atau membaca komik.

Melalui persentuhan yang panjang dengan komik itulah saya mengenal beberapa tipe komik. Dari rumah seorang teman, saya berkenalan dengan buku komik lebar yang penuh warna, memuaskan mata dengan jumlah panel yang lebih banyak: Besar, kecil, rapi, terstruktur. Membuat saya tak bosan-bosan membolak-baliknya.

Tak lama kemudian, saya bersua kembali dengan komik-komik yang lebih kecil, juga komik seukuran majalah. Isinya berseri, sambung menyambung, dengan adegan gedebak-gedebuk. Persamaan kedua jenis komik yang berbeda ukuran ini adalah panel-panelnya yang supersibuk.

Komik besar dengan komposisi terstruktur membuat saya cukup santai menikmatinya. Sungguh berbeda dengan membaca komik seukuran majalah yang isinya berwarna namun panel dan gambarnya sangat sibuk. Mata mengikutinya dengan cepat, kenikmatan menelusuri gambar pun dinomorduakan. Betapa tidak, perasaaan ingin lekas menuntaskan bacaan dan mengetahui akhir kejadian menjadi begitu menggoda.

Panel-panel yang sibuk juga dimiliki komik seukuran dua tangkup tapak tangan. Walau gambar-gambar di komik mungil ini cenderung kartunal, imajinasi yang muncul justru berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tatkala komik besar menyeret saya berpetualang ke tempat-tempat yang tidak saya kenali, komik jenis mungil justru menciptakan khayalan tentang tempat-tempat di dekat saya.

Komik yang satu ibarat orang Batak yang bicaranya “tembak langsung”, komik lainnya seperti orang Minang yang bicaranya berlapis-lapis laksana berpencak. Taruhlah kita bicara kisah romantika remaja; sebuah komik akan memperlakukan adegan cinta yang ditolak hanya sebagai salah satu plot, sementara sebuah komik lainnya tak segan-segan mengeksploitasi kejadian air jatuh ke tanah demi menambah dosis emosi pembaca.

Perbedaan budaya menimbulkan perbedaan kepadatan cerita. Rasanya, cerita dari industri komik belahan Asia yang maju selalu lebih bertele-tele dalam memainkan perasaan pembacanya. Di sini logika boleh dikesampingkan dalam beberapa hal. Sementara itu, komik Eropa bertutur dengan nalar, setiap penggambarannya pun logis.

Maka dari itu, umumnya komik-komik Asia lebih banyak halamannya ketimbang komik Eropa yang singkat-padat. Andaikata kita menemui komik Eropa yang panjang, berarti ceritanya niscaya akan memerah otak dan melelahkan pembacanya, mengingat karakteristiknya yang singkat-padat tadi.

Mungkin karena memang sudah sifatnya, orang Timur lebih puitis, metaforis, suka akan bunga-bunga bahasa, gemar berpanjang-lebar dalam menyampaikan maksud. Sehingga ketika metode ini diterapkan pada komik, hasilnya terasa lebih menyenangkan dan memuaskan pembaca.

Saat membaca komik, imajinasi timbul lantaran pendeskripsian terhadap diri seseorang, tempat kejadian dan lingkungan cerita melalui gambar. Dengan gambar yang detail, komik dapat menghemat kata-kata. Lantaran dilukis secara realis atau stilasi, pikiran pembaca hanya menyederhanakan karakter dan obyek dalam cerita ke bentuk-bentuk yang mudah diingat. Misalnya ada ciri fisik tertentu dari penggambaran sang tokoh yang kita ingat, maka dari halaman ke halaman, ciri khas karakter itulah yang menjadi penandanya.

Seorang komikus yang baik berusaha melukiskan obyek-obyek setepat mungkin, dalam artian bahwa apa yang dia lukiskan dapat dipahami pembaca, baik dilukis secara sederhana maupun detail. Yang terpenting, obyek-obyek komik itu dapat membangun imajinasi dalam pikiran pembaca.

Tantangannya adalah bagaimana menciptakan atmosfer yang diinginkan oleh cerita. Sebab atmosfer cerita inilah yang kelak memerangkap pembaca untuk masuk dan terus membaca.

Sebuah atmosfer menerangkan situasi cerita. Ingat, komik tidak memunyai suara untuk menjelaskan perkembangan alurnya. Jadi, atmosfer inilah satu-satunya alat untuk membantu pembaca mengetahui emosi serta suasana cerita. Kalau diterapkan ke ranah yang lebih luas, atmosfer ini pulalah yang membedakan antara film-film festival Inggris dengan Perancis, dengan Iran, dengan Jepang, atau dengan Indonesia.

Lain komik, lain pengarang, lain pula cara menciptakan atmosfer tersebut. Atmosfer bisa dibuat lewat teknik toning pada komik Jepang, teknik arsiran pada komik Prancis, teknik bayangan gelap-terang pada komik Amerika.

Tantangan kedua ialah penciptaan idiom-idiom visual. Contohnya, gambar gergaji memotong kayu sebagai simbol suara dengkuran orang tidur. Dalam teori literatur, ungkapan-ungkapan seperti ini dinamakan fonosemantik. Yang kadarnya paling bawah adalah onomatopoeia, yang biasa kita kenal sebagai visualisasi suara pada komik. Crash, Boom, Bang! pada komik berbahasa Inggris. Krak, Dhuar, Dor! pada komik berbahasa indonesia.

Bahasa Jepang yang menggunakan tulisan Cina (kanji) identik dengan obyek visual. Huruf kanji adalah gambaran dari obyek itu sendiri, yang disebut fonograf. Karenanya idiom-idiom visual komik Jepang agak sulit dipahami oleh budaya dengan bahasa yang bukan ditulis menggunakan model fonograf.

Misalnya pada adegan yang menunjukkan ketololan seseorang, muncul ikon bergambar burung gagak yang distilasikan melintasi panel atau halaman.

Sekedar informasi, pengucapan “burung gagak” identik dengan pengucapan kata “bodoh” dalam bahasa Jepang. Nah, penerjemah komik Jepang yang cukup rajin akan membubuhkan catatan-catatan kaki tentang perubahan kata-kata identik, agar pembaca memahami dengan tepat kelucuan adegan tersebut.

Bagi saya, menciptakan atmosfer dan idiom-idiom visual itulah tugas terberat bagi komikus yang ingin karyanya dihargai sebagai komik bercitarasa Indonesia. Dan kedua hal ini harus disosialisasikan ke pembaca melalui halaman per halaman komiknya, jangan sampai yang mengerti hanyalah komikusnya sendiri. Seuniversal apapun komik sebagai sebuah bahasa gambar, sosialisasi itu tetap perlu.

Orang (komunitas) yang terbiasa dengan atmosfer dan idiom visual komik superhero atau shonen akan sulit mengerti apa kenikmatan membaca komik drama percintaan atau komik shoujou. Komunitas pembaca komik Eropa akan merasa sangat terganggu dengan banyaknya dekorasi di komik shoujou (padahal dekorasi bunga-bungaan itu dimaksudkan untuk menciptakan atmosfer tertentu).

Komik Eropa begitu terstruktur komposisinya, sehingga mereka yang terbiasa dengan model tuturan visual seperti ini bakalan kerepotan membaca komik-komik kungfu yang banyak mengandalkan garis-garis gerakan serta kecepatan, apalagi ikon simbol-simbol bertaburan di sepanjang halamannya.

Untuk lebih memahami representasi visual dan idiom-idiom visual, ada baiknya komikus memiliki pengalaman berhadapan dengan kegiatan kesenirupaan, entah mengenal aliran-alirannya, macam-macam lukisan dan bentuk seni lainnya, atau mengetahui sedikit teori estetika.

Sebab jika tidak, seorang komikus hanya bakal seperti buruh pabrik elektronik yang piawai merakit namun tak menguasai teknologinya untuk menciptakan perbedaan. Karena melulu bekerja di dalam pabrik, mereka cuma bisa bingung manakala ada rencana pemecatan dari pihak manajemen karena kegagalan meluaskan pemasaran.

Komikus itu bahkan tidak mengerti mengapa komik yang satu ini menarik hatinya sedangkan yang lain tidak. Ketika mencoba meniru-niru, dia mungkin saja berhasil membuatnya, tapi tetap tidak tahu mengapa komik itu digemari orang.

Suka-tidak suka, komikus harus membaca lebih banyak dari pembaca komik pada umumnya. Yang dikhawatirkan, sementara para pembaca menuntut hal-hal baru, komikus lokal kita baru sampai batas mampu meniru, belum menghayati representasi visual atau idiom-idiom visual dari komik-komik yang sudah ada.

Pembaca komik seperti saya hanyalah konsumen yang menginginkan pengalaman baru. Nah, apa yang terjadi kalau komikusnya baru membaca 10 jenis komik sedangkan saya sudah membaca 100 lebih jenis komik? Ditambah lagi dengan produktivitas komikus yang rata-rata saja, sulit rasanya bagi pembaca seperti saya untuk menoleh dan menaruh hati kepada komik-komik lokal.

Tidak adanya representasi visual yang baru barangkali masih termaafkan, namun tak ada narasi komik yang berbeda? Tidak adanya inovasi dalam penciptaan idiom-idiom visual komik? Niscaya akan membuat pembaca menilai komik Indonesia sebagai sebuah komoditas belaka, sekedar komik buatan anak negeri.

Padahal komik lokal sedang dan senantiasa menghadapi tantangan dari berbagai penjuru. Termasuk dari media lainnya. Sekarang ini sedang musimnya cerita komik diangkat menjadi film. Saya tak tahu apakah dijadikan bentuk film berarti “diangkat” ke tempat yang lebih baik atau bukan. Dan entah mengapa pemindahan komik ke media film menggunakan kata kerja “diangkat”.

Namun pada kasus kisah manusia super, saya memang lebih suka menonton filmnya. Apalagi kalau ternyata efek komputernya mampu membuat adegan-adegan luarbiasa yang tak masuk akal menjadi meyakinkan. Rasanya komik-komik superhero jadi kehilangan daya tariknya disebabkan itu pula.

Untuk komik superhero, saya lebih memilih membeli dan membaca komik-komik yang ceritanya manusiawi dan artwork-nya non mainstream, alias nyeni. Dan untuk kisah-kisah serius, semisal drama kehidupan atau kritik sosial, saya merasa lebih enak membacanya dalam bentuk teks buku cerita.

Pertanyaannya pun kembali: Mengapa saya (masih juga) membaca komik? Apa yang saya cari dari media komik, kalau begitu?

Komik pada dasarnya produk budaya juga, sebab dia dikreasikan oleh manusia untuk kebutuhan hidupnya. Meskipun membaca belum tentu menjadi kebutuhan primer seseorang, apalagi membaca komik. Namun pada beberapa kalangan terbatas, sejumlah orang membaca komik sebagai kebutuhan. Lebih-lebih dengan semakin pentingnya hiburan bagi manusia, komik pun seakan menjelma menjadi kebutuhan primer (pseudo-primary needs).

Sebagai produk budaya, representasi visual pada komik mengandung banyak hal yang menarik. Misalnya, cara membangun atmosfer cerita, mengembangkan dan menjalin-jalinkan cerita yang tampak berlainan, tergantung latar belakang komikusnya.

Selain merupakan wujud dari pola industrinya, format ukuran dan kemasan masing-masing komik juga merupakan sebuah ruang pergulatan antara keinginan publik pembaca dan idealisme komikus. Sehingga antara komikus dan publik pembaca terdapat sebuah konvensi kesepahaman, mengacu pada konsep semiologi Barthes, dalam merepresentasikan secara visual idiom-idiom yang ada dalam komik.

Di lain sisi, komik merupakan artefak sosial, karena dia merepresentasikan secara visual kehidupan dari sekelompok masyarakat yang percaya pada komik. Keyakinan dan kepercayaan kepada potensi-potensi tersembunyi yang dikandung media komik menjadi sebuah doxa bagi mereka. Walaupun situasi sekarang belumlah kondusif bagi pengembangan industri komik nasional, para aktivis komik itu ternyata belum menunjukkan tanda-tanda kelelahannya.

Kita sebenarnya punya konsumen pembaca komik yang besar. Hanya, ruang produktivitas bagi komik anak negeri untuk tampil di publiknya sendiri memang sangat minim. Padahal membuat komik tak serumit merakit televisi. Proses produksi dan konsumsinya diibaratkan sama saja.

Di bidang teknologi elektronik, bukan mudah untuk mengklaim ini teknologi Jepang, Korea, Jerman, Inggris, atau Amerika. Melalui riset, mereka menciptakan metode dan teknologi baru yang diklaim menjadi milik negaranya.

Kendati pada buku komik kita tidak sampai meletakkan label; ini komik Jepang, ini komik Korea, komik Amerika, Prancis dst., label-label itu secara kasat mata memang nyata. Darimana kita mengenali komik-komik tersebut?

Dalam dunia teknologi pun bukan selalu dari hulu ke hilir untuk menyatakan sebuah teknologi milik negara tertentu, namun dapat pula pada suatu bagian terkecil yang sifatnya signifikan dalam membawa perbedaan, dan merupakan inovasi atau invensi dari sebuah negara. Itulah yang diklaim sebagai teknologi miliknya! Selanjutnya, ini tentunya urusan hak cipta, hak paten dan perlindungan intelektual.

Pada komik, barangkali tak ada klaim terhadap cara mengomik atau hak cipta idiom-idiom visual maupun cara penuturan. Namun bagi pembaca dan pengkajian kritis komik, hal tersebut terbaca bak genome DNA, jejak genetika pada komik masing-masing negara atau bangsa. Pembaca komik yang kritis dapat membongkar semua itu, termasuk ke detail latar belakang sosio-kultural (dan negara kelahiran) komikusnya.

Itulah kenapa membaca komik selalu begitu menantang dan perlu alasan yang tidak asal-asalan. Komik tidak pernah menjadi media yang sekedar, “Gambarnya lucu, ceritanya seru, bisa dibaca sambil makan atau tiduran.”

12 Replies to “Mengapa Saya Membaca Komik”

  1. amplifier

    sama gw juga seneng baca komik apalgi yang berbau horor…palagi tentang pembunuhan..hehehe *psikopat kali*
    apalagi klo gw bisa baca pikiran oang enak kali yee..

    Reply
  2. PastikA

    Mungkin akan semakin jelas kalo sekalian ditulis contoh – contoh komiknya ne. Komik lebar tuh golongan Asterix? Yg seukuran majalah = Tiger Wong? Saya sendiri penggemar komik -komik eropa. ada banyak jenisnya, dari yang lucu (kaya Asterix) sampe komik yg isinya, ehm…. dewasa. Eit. tapi bukan porno lho, coz adegan dewasa disana bukan inti dari cerita/konflik.
    Btw, pertanyaan mengapa saya membaca komik mungkin udah terjawab lewat tulisan ini. Tap apa mungkin menjawab sepanjang ini kalo ditanyai spontan ama orang disebelah kita? Jadi apa dong jawaban praktisnya??

    Reply
  3. karna

    lhaa… di atas khan uda dibilangin kalo disini memang bukan mau ngasi jawaban praktis. Hehe… coba tanyain orang yang suka ngikutin informasi terkini gadget dan komputer, padahal belum tentu dia selalu upgrade barang2 gadget atau prosesor komputernya. =)
    Tp kalo ditanya dan rasa2nya terpaksa menjawab, maka lebih praktis menjawab pertanyaan orang sebelah itu dengan sebuah senyum yang tulus dan cobalah mengerti kenapa orang sebelah itu ‘masih’ menanyakan hal itu. ^~^m

    Reply
  4. karna

    ada istilah atau frasa lucu untuk pembelaan terhadap ‘komik’, namanya comics advocay/evangelism: “actively trying to convince people
    unfamiliar with comics that comics are a valid art form worthy of
    serious study.”

    Reply
  5. Ericbdg

    Saya setuju banget dengan artikel diatas. Mungkin karena dunia komik di Indonesia belum semeledak di luar negeri, jadi kerap kali dianggap bacaan anak seperti buku cerita dongeng. Hal yang sama juga terjadi pada film animasi seperti shin chan yang kebanyakan joke-jokenya untuk remaja dan pemuda, tapi film itu diputarnya pagi-pagi.
    Mungkin untuk mempopulerkan bahwa komik itu juga salah satu media (seperti novel, film, game, dll) yang bisa diisi apapun, dari cerita anak, dewasa, horor , satire, tidak bisa langsung dilakukan dengan sekali event komik atau pameran atau peluncuran komik lokal yang best seller, tetapi kegiatan tersebut dilakukan terus menerus, sehingga lama-lama masyarakat kebanyakan bakal mudeng “oh ini toh yang namanya komik? Asik juga ya!”

    Reply
  6. karna

    Meskipun sudah semakin banyak dan terus menerus diadakan kegiatan penyadaran ttg komik, lebih penting lagi kegiatan2 tersebut saling terkordinasi, supaya tidak berkesan sporadis sesaat saja. =)

    Reply
  7. martin

    komik bacaan untuk segala usia,
    tidak usah malu baca komik, yang penting tidak mengganggu ketertiban umum. salam……..
    martin (radjakomikbekas.blogspot.com)

    Reply
  8. Andini Rizky

    Saya ingat ada komik Jepang yang mengajarkan dunia wine (minuman anggur) dan sommelier (ahli wine) melalui komik. Sambil mengikuti cerita kita diperkenalkan dengan istilah-istilah khusus dunia itu. Membaca komik sambil belajar. Tentu saja yang baca orang dewasa.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.