Menulis cerita yang menyentuh, atau bahkan membuat audiens mengeluarkan air mata, adalah tantangan bagi penulis. Sulitkah itu? Tentu saja! Setidaknya, ini akan lebih sulit dibanding menulis puluhan status galau di media sosial.
Namun, kalau bersabar mengikuti “aturan mainnya”, kemungkinan berhasilnya lebih tinggi. Kakak akan tersenyum bangga melihat dada audiens sesak, matanya berair, dan hidungnya beringus.
Kunci menulis cerita yang menyentuh sebenarnya hanya tiga: tokoh, alur, dan wawasan penulis.
1. Cerita Yang Menyentuh Dimulai dari Tokoh Utama
Ciptakan tokoh-tokoh yang meyakinkan, terutama tokoh utamanya. Ceritakan ambisinya (tujuan hidupnya), kekurangannya (pembaca/penonton sering bersimpati pada tokoh yang punya kelemahan-kelemahan tetapi hatinya baik), perjuangannya (jatuh-bangunnya mengejar tujuan hidup).
Ceritakan semuanya dengan masuk akal. Buatlah audiens begitu memahami tokoh Kakak, sampai menyukainya, bahkan mencintainya.
Juga penting untuk membuat tokoh itu tidak sedikit-sedikit menangis, tak peduli ia sedang mengalami penderitaan atau kekecewaan yang dahsyat sekalipun. Sebab, jika tokoh utamanya gampang menangis, pembaca akan merasa jengah dan menganggap karya Kakak adalah novel, komik atau film cengeng.
Namun, bila tokoh itu tetap tertawa penuh semangat meski menghadapi cobaan-cobaan berat, justru pembaca atau penontonlah yang akan menangis untuknya. Contohlah bagaimana tokoh Guido di film Life is Beautiful (1997) atau Ryu Seung-ryong di film Miracle in Cell No. 7 (2013) ditulis.
2. Alur Rapi untuk Membangun Cerita Yang Menyentuh
Mungkin templat Save The Cat ini bisa Kakak pakai: awali sesuatu dengan keadaan yang baik-baik saja, menyenangkan dan penuh impian. Namun, mendadak, sesuatu yang drastis terjadi. Tiba-tiba saja… BLAAAR! Semua berputar 180 derajat.
Tunggu, jangan pernah buru-buru masuk ke bagian yang sedih. Tahan dulu beberapa lama. Pastikan pembaca/penonton menghayati alasan mengapa mereka harus bersedih.
Saya pernah terpukul karena kehilangan seorang sahabat. Ini kisah nyata. Namanya Aris Sugianto (saya menulisnya di halaman persembahan novel Pemuja Oksigen). Penyakitnya sampai sekarang pun dokter belum yakin. Karena saat itu, Aris masih berusia 20 tahun dan tidak punya penyakit berat apa-apa.
Anyway, lantaran saya termasuk sebagian kecil yang tahu berita ini langsung dari rumah sakit, saya kebagian tugas menyampaikan ke teman-teman yang lain.
Tanpa ada niatan bereksperimen, saya menelepon teman-teman lainnya dengan dua skenario: langsung dan tak langsung.
Skenario langsung itu seperti, “Aris meninggal.” Dan biasanya dijawab dengan, “Ah, yang benar? Innalillahi wa inna ilaihir rajiun.…” Sudah, begitu saja.
Sedangkan skenario yang tidak langsung itu seperti, “Hei, kemana aja kamu? Masih di Surabaya? Eh, masih ingat Aris kan? Kuliahnya udah lulus, lo. Dia udah dapet kerja, bla-bla-bla….” Saya menghabiskan sekitar satu menit untuk menyampaikan kabar baik tentang Aris.
Teman yang saya kabari itu bertanya, saya menjawab. Yah, mengalir seperti dialog biasa. Setelah itu, baru saya sampaikan gongnya, “Tadi malam, sekitar jam 8, Aris meninggal.”
Tahukah Kakak bagaimana reaksi teman-teman saya ketika saya menerapkan skenario tak langsung ini? Kebanyakan mereka terdiam. Lama.
Dan saat mengatakan “Ah, yang benar kamu?” saya selalu mendengar suara mereka bergetar. Mungkin emosinya terbangkitkan. Mereka rata-rata lebih emosional dibandingkan dengan teman-teman yang saya kabari secara to the point.
Terbukti, kita selalu bisa membangkitkan sisi sentimental audiens melalui alur yang rapi dan tidak terburu-buru.
3. Perkaya Wawasan dan Teknik Menulis
Nah, ini yang terakhir. Kalau kebetulan Kakak mengalami sesuatu yang menyedihkan, bagus! Karena Kakak seharusnya bisa menuliskan kisah sedih itu dengan lancar.
Namun, Kakak tidak perlu memaksakan diri untuk mengalami kesedihan, tentu saja. Jadi, saran saya, bacalah banyak novel atau film yang sedih. Lalu tirulah cara sang penulis membawakan drama itu. Peniruan adalah cara yang paling ampuh dan murah. Tetapi ingat, yang ditiru caranya, bukan ceritanya.
Itu saja tiga prinsip membuat cerita yang menyentuh.
Tahukah Kakak, keterampilan penulisan ini ternyata tidak hanya berguna untuk penulis novel, film atau komik, melainkan juga untuk wartawan (penulis nonfiksi) dan copywriter iklan, lo. Salah satu contoh, yang menurut saya berhasil, adalah iklan ini:
Kurasakan pahit dan pedihnya hati
Melihat kenyataan hidup
Yang jauh dari kedamaian…
Diri ini bagai bunga yang layu…
Tak pernah dirawat dan disayangi…
Selalu dibiarkan dalam sepinya hidup..
Bunga itu layu dalam sudut kehidupan
Yang tanpa daya, menopang segala beban
Sungguh ia tak ingin mengantungkan hidupnya pada siapapun…
Tapi, sehebat apapun bunga itu…?
Pasti ia, akan tetap membutuhkan bunga yang lain…
Karena ia hanya bunga yang layu,,,
Yang tak selalu bisa berdiri tegak dalam hembusan angin yang semakin kuat…
Diri ini bagai bunga layu
Yang hanya diambil dan disayangi apabila dibutuhkan…
Dan dihempaskan, setelah tidak dipergunakan lagi…
Mungkin masih tersimpan di sudut hati ini…
Sebuah rasa sayang yang tiada terkira…
Dan beribu – ribu kali, hati ini ingin mengadu…
Namun, tak tau kepada siapa harus mengadu…
Kecuali, hanya kepada Allah…
Dzat Yang Maha Mendengar…
Walaupun pedih dan sakitnya hati ini
Namun, diri ini yakin bahwa semuanya…
Akan baik – baik saja…
Mengingat bahwa bunga yang layu itu…
Tak akan selamanya layu ….