Memperkenalkan Genre Baru Penulisan: Cinelit

By: Mochammad Asrori

Cuaca yang tidak menentu dewasa ini rasanya cukup membuat aktivitas menjadi lesu darah. Musibah bertebaran di berbagai daerah dengan konsistensi yang mulai rapat. Ketika menulis catatan kecil ini saya sedang terjebak di toko buku, di luar sana hujan deras disertai angin keras membuat ciut nyali untuk menerobosnya meski dengan tameng jas hujan. Saya pun melihat rak-rak bagian novel yang dipenuhi teenlit. Genre satu ini memang punya pangsa yang luas, jadi eksistensinya (di luar kualitasnya) saya rasa tidak bakal ada matinya. Tapi wow, saya melihat deretan novel yang saya sendiri bingung menyebutnya. Sebagai chicklit? Bukan ah. Novel teenlit? Bukan kok. Namun tanpa perlu petugas sensus handal untuk mengetahui jumlahnya yang terus bertambah secara signifikan: Novel adaptasi dari film.

Saya samasekali tidak bermaksud mengatakan fenomena ini sebagai musibah, sebagaimana analogi di pembukaan tulisan saya. Hanya saja perlu garis tegas terhadap sebuah genre besar bernama novel yang merupakan sebuah produk dasar pengembangan kreativitas manusia. Kita mengenal novel sebagai satu produk dari pengarang yang di dalamnya melekat unsur utama yang wajib hadir: otentisitas. Pengarang bisa berlaku sebagai mediator kehidupan yang memimetiskan pengalaman kehidupan. Pengarang memiliki kekuatan kecil Tuhan untuk mencipta. Tentu saja ciptaan yang unik, bukan duplikasi.

Berangkat dari sana sastra, khususnya novel, memiliki kedudukan yang istimewa dan menjadi patokan dalam pengembangan bidang kreatif lainnya. Contoh paling sering adalah karya sastra yang menjadi naskah drama dan dipentaskan, atau menjadi skenario film dan difilmkan. Proses ini bisa kita lihat dari sederetan karya-karya besar masa lalu, dari yang paling klasik seperti Ramayana dan Mahabharata di Asia, hingga Romeo and Juliet, Hamlet, dan Julius Caesar di Eropa, yang semuanya kemudian diangkat menjadi pertunjukan drama dan film.

Novel kontemporer yang digandrungi anak-anak muda seperti Harry Potter dan The Lord of the Ring ketika difilmkan pun sukses menangguk keuntungan dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.

Karya sastra tersebut menjadi ide, menjadi sebuah sumber, yang digali unsur-unsur teks dialognya dan teks deskripsinya untuk diramu menjadi sebuah dialog dalam pentas drama yang memikat. Atau diolah menjadi perjalanan skenario visual film yang indah. Tengoklah film Bulan Tertusuk Ilalang oleh sutradara Garin Nugroho yang dibuat berdasar puisi penyair Madura D. Zawawi Imron.

Pertanyaannya, bagaimana dengan proses terbalik, ketika sebuah novel hadir dari sebuah film, cukupkah sebagai pemantik bahwa karya tersebut layak mendapat label novel (otentik)? Kita bisa simak dan memberikan penilaian novel-novel yang diadaptasi dari film, seperti film-film bertema hantu Terowongan Casablanca, Hantu Bangku Kosong, Genderuwo, Pocong 2, Lantai 13, Angker Batu, dan Rumah Pondok Indah. Juga film-film bertema bumbu-bumbu cinta seperti Dara Manisku, The End of Story, Kangen, Merah Itu Cinta, Sang Dewi, Bukan Bintang Biasa, 30 Hari Mencari Cinta, Mendadak Dangdut, Cewek Matrepolis, dan Medley.

Jika dalam proses menuangkan karya sastra, khususnya novel, ke dalam bentuk film membutuhkan waktu lumayan lama, novel-novel adaptasi dari film rata-rata dikerjakan oleh penulis relatif cepat, sangat instan, dan sesuai pesanan. Sekedar memindah script skenario menjadi bentuk prosa. Padahal idealnya, tentu saja bukan sekedar mendaur ulang apa yang terlihat dalam film menjadi kata-kata.

Film sangat dibatasi oleh durasi dan aturan main yang ketat. Banyak lubang yang menjadi pertanyaan bagi penikmatnya, banyak yang tidak tersampaikan atau tidak terselesaikan dalam sebuah film. Inilah yang harus dipenuhi sebagai nilai tambah novel adaptasi.

Dia harus memiliki bidang garap yang lebih detail, seperti pengungkapan latar belakang yang biasanya kurang dalam film, tokoh dan penokohan yang kurang mantap dan beralur dangkal, setting yang dalam film diakali untuk meminimalkan pengeluaran bisa leluasa dikembangkan dalam sebuah novel. Dari sisi ini, novel adaptasi dari film yang patut dikedepankan adalah novel Biola Tak Berdawai oleh Seno Gumira Ajidarma, dan novel Naga bonar Jadi 2 oleh Akmal Nasery Basral.

Tapi yang jelas, saya sangat tidak menyukai aspek komersial yang duduk manis di belakang kemudi novel adaptasi. Maraknya novel-novel yang diadaptasi dari film secara jelas lebih mementingkan sisi komersial. Novel itu biasanya merupakan pesanan dari pemegang hak film untuk menangguk keuntungan lebih dari film yang telah dan akan beredar. Novel yang hadir lebih sebagai merchandise dari film daripada sebagai sebuah karya novel yang “utuh”.

Hal tersebut tampak dalam medan garapan di dalamnya yang antara sisi film dan novelnya hampir tidak ada perbedaan berarti, hanya berganti media. Rasanya saya lebih menikmati novel-novel teenlit yang kemudian diangkat ke layar perak, seperti Jomblo, Dealova, Tentang Dia, dan Cintapuccino dari pada proses sebaliknya.

Seperti dalam pengantar awal saya, maraknya novel adaptasi hanyalah efek dari cuaca yang tidak menentu. Perfilman Indonesia yang sedang giat berbenah layaknya hujan yang ikut menyuburkan bibit-bibit baru di luar konteks film, yaitu novel adaptasi. Saya takut menyebutnya sebagai musibah atau aib sastra Indonesia, karena sebagai bibit yang baru lahir, kita tidak tahu buah apa yang akan tumbuh kelak. Cuma, proses kelahirannya memang penuh ironi dan kontradiksi.

Namun apa salahnya jika kita menandainya dengan sebuah nama. Sebuah genre penulisan yang baru.

Pembagian genre bukanlah suatu pembagian kelas atau kasta dalam novel, melainkan lebih ke arah segmentasi pembaca, baik dari segi usia, intelektual, sekedar dorongan mood pembaca, maupun murni untuk kepentingan pembaca, jadi tujuannya memudahkan pembaca menemukan jenis bacaan yang diinginkan. Jika dulu muncul genre chicklit, lalu teenlit, lalu kidlit, mungkin ada baiknya menambah satu genre lagi. Sebut saja cinelit, untuk karya-karya novel yang diadaptasi langsung dari film.

Selamat meramaikan peta penulisan novel di Indonesia, cinelit.

Posted in fiction writing | Tagged | 11 Replies

About Mochammad Asrori

is an alumnus of Indonesian Literature Study. He is first winner of The Short Story Writing Competition 2003 which held by State University of Surabaya, third winner of The Writing Contest of East Java’s Student 2004, first winner of The Essay Writing Contest and also second winner of The Poetry Writing Contest in Surabaya Anniversary 2005 event, additional winner of The Youth Theater Script’s Writing Competition 2008 which held by Taman Budaya Jatim. Several publisher and media have published his works, e.g. Widyawara, Sesasi, Gema, Surya, Kompas, Jawa Pos, Radar Surabaya, etc. He is now a teacher in Mojokerto.

11 Replies to “Memperkenalkan Genre Baru Penulisan: Cinelit”

  1. zhanzhe

    Selain “cinelit”, mungkin perlu juga ditambahkan 1 genre lagi: “songlit” — novel yang diadaptasi/terinspirasi dari lagu-lagu yang lagi ngetop.

    Reply
  2. Rori

    Trims, Zhanzhe. Yap, songlit juga mulai marak. Tapi “pembongkarannya” masih besar. Bandingkan dengan cinelit yang bisa saja si penulis hanya menulis apa yang ia tonton, ditambah contekan dari skenario film itu, beres dah. Bikin songlit masih mending, mau tidak mau penulis harus mengarang. Karena cerita dalam lirik lagu itu cenderung belum berbentuk kisah yang utuh.

    Reply
  3. matapena

    kadang cinelit malah lebih bagus dari filmnya sendiri… tapi kalau sebagai genre yang bisa memperkaya genre kesusastraan populer indonesia, kenapa tidak?

    salam kenal ya dari komunitas matapena

    Reply
  4. Rori

    Thanks buat Matapena. Secara pribadi, saya hanya ingin menandai satu proses kreatif yang baru saja lahir. Sebagai sebuah karya, tentu ada yang bagus, ada pula yang jelek, bagaimanapun prosesnya. Pemberian nama “Cinelit” itu sendiri merupakan ikhtiar saya dalam memperkaya genre kesusastraan populer Indonesia.

    Salam balik. Kami senang mendapat kunjungan dari Matapena.

    Reply
  5. Calvin Michel Sidjaja

    sejauh ini Cinelit yang saya baca adalah Biola tak Berdawai (bahkan saya belum membaca film-nya), tapi saya tidak tertarik membaca cinelit yang bertema pop dan klise, jadi saya tidak menggubris buku2 itu di gramedia.

    Tapi saya sendiri ingin sekali-kali membuat novel adaptasi seperti itu, pasti ada sensasi tersendiri bagi sang penulis agar novelnya tidak kalah bagus dibandingkan dengan filmnya, atau bahkan membuat karya yang dapat berdiri sendiri.

    Reply
  6. Rori

    Trim atas kunjungannya Mas Calvin. Banyak yang mengatakan bahwa novel Biola Tak berdawai memberi sisi-sisi baru yang berbeda, bahkan lebih kaya dari filmnya.

    Semestinya hal ini memang menjadi keharusan bagi buku-buku cinelit. Sebagai produk kedua, apapun produknya, rasanya siapapun ingin mendapat sajian yang lebih wah dan berbeda, termasuk dari sebuah produk film ke buku. Apalagi buku memiliki ruang eksplorasi yang luas dan memiliki batasan-batasan yang lebih lunak dari film. Kecuali jika memang buku itu dibuat dengan semangat hanya sebagai merchandise bagi filmnya.

    Reply
  7. maris begin

    awalnya saya menonton film benua Amerika yang berjudul Fantastic Four ,lalu saya berniat tulus ingin secepatnya membuat novelnya ,tapi dengan karakter berbeda .Contohnya saya memasukkan tokoh manusia karet sebagai dude herlino. Bisa gak ,ya ?

    Reply
  8. suntikmati

    satu2nya cinelit yang sa pernah baca…”betina”…dah nonoton juga, tapi bener2 nda ngerti klo belum baca novelnya heeee
    yang lain jadi nda minat, karena nge-pop banget…harusnya sih lebih bagus novelnya..harus lebih banyak ngungkap sesuatu…harusnya sih saling isi yahhh…???

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.