The Last Three Hostages

The Last Three Hostages (Tiga Sandera Terakhir)

  • Title: Tiga Sandera Terakhir (a novel)
  • Subtitle: Terinspirasi dari konflik berdarah di timur Indonesia
  • Genre: Military thriller
  • Language: Indonesian
  • ISBN: 978-602-0989-47-1
  • Author: Brahmanto Anindito
  • Editor: Hermawan Aksan & Miranda Harlan
  • Format: Paperback
  • Dimension: 14 cm x 21 cm
  • Thick: 309 + xiv pages
  • Weight: 280 g
  • Publisher: Noura Books 2015

Indonesia is in tumult due to a brutal hostage-taking. Five tourists from France, Indonesia and Australia are captured. As it occurs in Papua, the forefingers suddenly point to OPM, a militant organization of West Papua liberation. But surprisingly, OPM denies that. They say, “It’s not us! Taking of hostages won’t bring any good for OPM’s image. Why would we do that?” Continue Reading →

Happy End, Sad End, or Cliffhanger?

Happy End, Sad End, or Cliffhanger?

The ending may only be a small part of your whole story. But it is crucial. It can make your audience re-read or re-watch your work. So, it is always good to think thoroughly your story’s ending well. You can choose one of three common ends: happy, sad, or cliffhanger. In the end, whichever ending you chose, make sure the main conflict in your story has been resolved.

* * *

Ending atau pamungkas suatu cerita barangkali hanya bagian kecil dari bangunan cerita. Namun, perannya begitu krusial, mengingat bagian ini adalah pemuncak yang berpengaruh sekali dalam membentuk kesan akhir di benak pembaca atau penonton. Sebuah ending yang baik tentu dapat membuat audiens membaca atau menonton ulang karya tersebut sambil membawa perasaan kagum… atau kecewa.

Mari melihatnya dari kacamata konsumen. Ketika suatu cerita berhasil menyentuh emosi kita di bagian awal sampai tengah, bukankah kita menanti bagian ending dengan penuh antisipasi dan rasa penasaran?

Maka dari itu, jangan kecewakan pembaca atau penonton Anda. Jangan pernah meremehkan ending. Bilamana perlu, berikan ending yang sangat mengejutkan dan tidak disangka-sangka, tetapi tetap relevan dan masuk akal.

Jenis-jenis Ending

Anda dapat memilih satu di antara ketiga tipe untuk mengakhiri cerita:

  1. Happy End. Ini ending favorit bagi sebagian besar penulis, karena disukai pula oleh sebagian besar pembaca atau penontonnya. Memang menyenangkan melihat tokoh yang kita sukai berhasil melewati masa sulit dan kemudian hidup bahagia, bukan?
  2. Sad End. Kebalikan dari happy end, sad ending adalah akhir yang menyedihkan bagi tokoh utama. Akibatnya, penonton atau pembaca pun akan ikut merasa sesak. Hati-hati menggunakan akhir cerita yang mengenaskan ini, karena hanya sedikit penikmat yang menyukainya.
  3. Cliffhanger. Secara harfiah, cliffhanger artinya “menggantung di tebing”. Jadi, cliff hanger adalah ending yang bersifat menggantung tidak pasti, entah itu alurnya atau nasib tokoh utamanya. Pembaca atau penonton dipersilakan menafsirkan sendiri apa yang terjadi berikutnya.

Jika Anda penulis pemula, sangat disarankan untuk memilih ending yang pertama: happy end. Sebab, itulah tipe yang paling kecil risiko dibenci pembaca atau penonton. Ada baiknya tidak “sok gagah-gagahan” dulu dengan memilih Sad End atau Cliffhanger.

Baru nanti, setelah mulai piawai “menghibur” pembaca atau penonton, silakan menggunakan ending tipe yang lain.

Apapun pilihan ending Anda, pastikan konflik utama dalam cerita telah terselesaikan. Jadi, sebenarnya membuat ending cliffhanger pun tidak boleh asal menggantung.

Stephen King dalam The Mist pernah membuat cerita berakhir sad yang menurut banyak penggemarnya menjengkelkan. Namun, setidaknya masalah utama di dalam cerita tersebut telah selesai: makhluk-makhluk yang meneror warga itu sudah tidak ada lagi.

Bila makhluk-makhluk itu masih seru-serunya meneror dan ceritanya berakhir begitu saja, mungkin Mr. King akan dimaki oleh ratusan ribu penggemarnya. Sebab, eksekusi semacam itu bisa dibilang tidak bertanggung jawab. Bukan sad ending lagi namanya, melainkan bad ending (karena bad writing).

Termasuk dalam bad ending adalah klise dan predictable end. Klise adalah trik yang bolak-balik dipakai. Misalnya, tokoh pria dan wanita yang awalnya bertengkar, lalu akhirnya saling mencintai.

Ending yang klise cenderung mudah ditebak (predictable), tetapi predictable end tidak selalu klise. Anda bisa saja membuat cerita yang tidak klise. Namun bila twist-nya kurang, audiens akan mudah menebak, “Oh, setelah ini tokoh anu pasti melakukan itu!” Dan terbukti memang begitu. Uh-oh, bad ending detected!

Cara Membuat Ending yang Bagus

Menciptakan akhir cerita yang bagus itu gampang-gampang susah. Namun, sebagai awalan, Anda bisa mengikuti tiga langkah berikut ini:

  1. Pastikan ide karya tidak klise. Tema klise akan menggiring alur jadi klise. Alur klise akan mengarah ke ending klise. Tidak selalu seperti itu, tetapi kebanyakan memang demikian.
  2. Pastikan konflik utama tuntas. Jangan membawa-bawa suatu masalah kalau tidak mampu memecahkannya dengan memuaskan. Ingat, yang Anda buat adalah produk hiburan. Jangan malah menyuruh penikmat karya Anda memikirkan solusi bagi kesulitan tokoh-tokoh Anda.
  3. Teruslah berlatih dan bereksperimen membuat twist. Percuma saja Anda rajin membaca novel, belajar banyak teori penulisan, atau banyak menonton film sebagai referensi, kalau Anda jarang praktik menulis cerita. Practice makes perfect.

Demikian jenis-jenis ending dan cara membuatnya. Semoga tips ini berguna. Selamat menulis!

Newbies Have Questions

Sir, how to save this file? Please hurry, I'm in deadline.

Sir, how to save this file? Please hurry, I’m in deadline.

Beberapa bulan belakangan, saya banyak menerima pertanyaan-pertanyaan dasar tentang penulisan. Hm, aneh. Padahal saya bukan guru atau motivator penulisan. Saya cenderung orang lapangan dalam dunia penulisan. Man in the arena, kata Theodore Roosevelt. Bagaimanapun, jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab, kesannya saya sombong. Namun kalau mau dijawab, kok pertanyaannya itu-itu saja, bikin capek, hehehe.

Maka tebersitlah ide untuk membuat daftar pertanyaan-jawaban (FAQ) dasar tentang penulisan. Sehingga ketika ada pertanyaan yang berulang, saya cukup menjawabnya dengan URL artikel ini, biar si penanya baca sendiri jawabannya. Win-win solution, bukan? Baiklah, kita mulai saja.

Buat apa saya harus menulis?

JAWABAN PENDEK: Kalau tidak tahu menulis itu buat apa, ya tidak usah menulis.

JAWABAN PANJANG: Menulis itu tidak butuh alasan, Mas, Mbak. Bila Anda sibuk mencari alasan dulu, bisa-bisa yang Anda temukan malah alasan untuk tidak menulis: tidak ada waktulah, momong bayilah, banyak kerjaan kantorlah, PR dari sekolah bejibunlah, sedang tidak punya idelah, tidak mood-lah. Biasakan diri dulu untuk menulis. Soal jadi karya yang layak disajikan ke publik atau tidak, itu urusan nanti.

Dari mana harusnya saya mulai menulis? Kok rasanya sulit, ya, mengawali tulisan?

JAWABAN PENDEK: Sudah baca “Bismillah”, belum?

JAWABAN PANJANG: Sebaiknya Anda menulis jangan mulai dari awal. Tidak usah repot-repot mencari bagaimana awalnya menggiring tulisan sampai ke poin X. Justru mulailah dari poin X itu! Lalu, berkembanglah dari sana: bisa ke belakang (kembali ke awal), bisa terus maju. Berpikirlah lateral.

Bagaimana kalau sudah mencoba menulis tetapi tetap buntu?

JAWABAN PENDEK: Berhenti saja dulu. Ngopi-ngopi kek, nonton film kek, tidur kek…

JAWABAN PANJANG: Tulis saja apa yang terlintas di pikiran. Apa adanya. Seperti menulis status Facebook atau Twitter begitu. Pastilah banyak yang berkelebat di benak Anda sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Tulis saja semua yang Anda anggap menarik. Baru setelah selesai, silakan menyuntingnya.

Prinsipnya, mau menulis ya menulis saja. Jangan membebani diri dengan target “harus bagus”. Sebab, terkadang beban itulah yang membuat tulisan kita tersendat.

Saya bingung dengan genre. Ada berbagai versi penjelasan. Bisa dijelaskan yang valid yang mana?

JAWABAN PENDEK: Tidak perlu merisaukan genre. Itu urusannya kritikus dan penerbit. Tugas penulis hanya menyelesaikan tulisan.

JAWABAN PANJANG: Genre itu dibuat gampang saja. Kalau tokoh-tokohnya lebih banyak berbicara, dan adegan-adegan pentingnya berupa pembicaraan, berarti itu drama. Kalau tokoh-tokohnya lebih banyak aksi, gebak-gebuk atau dar-der-dor, dan adegan kuncinya di situ, berarti itu laga atau aksi. Kalau banyak menyanyi dan menarinya berarti musikal.

Kalau kita banyak dibuat ketawa, berarti komedi. Kalau ceritanya menegangkan karena kita tahu ada bahaya, berarti itu thriller. Kalau menegangkan karena kita tidak tahu pelaku kejahatannya, berarti itu misteri. Kalau melibatkan alam lain, tokoh-tokoh yang ajaib, di luar logika keseharian kita, berarti fantasi.

Kira-kira, apa tema yang laris, gampang meledak, dan best seller?

JAWABAN PENDEK: Kalau saya tahu, buat apa saya kasih tahu Anda? Mending saya tulis sendiri.

JAWABAN PANJANG: Menulis kontroversi, tema superunik, atau keterampilan menulis tingkat dewa pun belum cukup. Selain faktor isi dan desain, formula best seller itu rumit: Anda harus artis terkenal, Anda penulis hebat yang sudah punya basis pembaca (bukan sekadar fans, tetapi yang juga memiliki kebiasaan membaca dan mereview buku), Anda mau jor-joran promosi (dengan risiko waktu-tenaga-uang Anda terkuras), atau sedikit nakal dengan jor-joran membeli sendiri karya Anda (biar seolah-olah cetak ulang atau menangkring di rak Best Seller), atau sekalian membeli rak Best Seller itu dari beberapa toko buku strategis.

Apa Anda termasuk kriteria itu? Siap melakukan itu semua atau sebagian besar dari langkah-langkah itu? Jika iya, kemungkinan buku Anda best seller akan terbentang lebar.

Siapa guru atau motivator penulisan saat ini yang sekiranya patut dirujuk supaya kita bisa termotivasi menulis?

JAWABAN PENDEK: Jelas bukan saya, hahaha.…

JAWABAN PANJANG: Mau menulis, menulis saja. Apa perlunya mencari motivator segala? Pun, tidak perlu kursus-kursus segala. Hati-hati, ada banyak motivator penulisan yang kerjaannya hanya memotivasi. Namun dia sendiri miskin karya, miskin prestasi di bidangnya. Mereka itu tipikal penulis yang mengajarkan, bukan melakukan.

Saya menyarankan, belajarlah dari penulis-penulis yang karya-karyanya Anda kagumi dan sesuai selera Anda. Pelajari perkembangan karya-karyanya, gaya bahasanya, cara bertuturnya, dsb. Namun jangan berharap mereka akan memotivasi atau menolong Anda, apalagi menjadi pembaca pertama atau endorser Anda. Mereka orang sibuk. Ingat, pendekar pilih tanding justru jarang memiliki murid. Anda bisa ATM karya-karyanya dari jauh saja: Amati-Tiru-Modifikasi. Itulah metode belajar yang paling efektif, menurut saya.

* * *
Artikel ini untuk sementara saya akhiri di sini. Nanti kalau ada pertanyaan-pertanyaan dasar yang masuk lagi, saya akan tambahkan/edit artikel ini dan re-post. Supaya Warung Fiksi punya FAQ tentang penulisan dasar.

– Photo from SteveLaube.com