Penerbit lebih menyukai naskah-naskah yang rapi. Maka sebelum mengirim naskah buku, pastikan naskah itu sudah rapi dan dalam keadaan terbaiknya. Tentu, supaya rapi, Kakak perlu membaca berulang-ulang.
Kabar baiknya, Kakak tidak perlu menyewa jasa editor profesional, kalau memang isi dompet pas-pasan. Kakak tetap bisa memeriksa naskah itu sendiri. Di bawah ini, poin-poin penting yang perlu dicek agar naskah fiksi Kakak rapi.
1. Opening Chapters
Periksalah bab pembukanya. Terutama di tiga bab awal. Apakah sudah cukup mengenalkan tokoh utama dan masalah yang sebentar lagi dihadapinya? Apakah kira-kira bab itu berhasil mengajak orang untuk membaca lebih dalam?
2. Plot
Cek alur ceritanya. Apakah sudah mengalir lancar? Apa logikanya sudah konsisten? Juga, apakah sudah konsisten dengan sudut pandang yang dipilih? Maksudnya, kalau sejak awal pakai POV “aku”, jangan sampai secara ajaib bercerita tentang peristiwa ketika si “aku” tidak ada di sana.
3. Characters
Bagaimana tokoh-tokohnya, terutama tokoh utamanya. Apakah sudah meyakinkan? Apa porsi kehadirannya sudah cukup banyak dan tepat? Apa ada kelebihan yang menonjol dibanding tokoh-tokoh lain? Sudah terbaca jelaskah tujuan hidupnya di cerita Kakak?
4. Dialogues
Apakah percakapan antartokohnya sudah natural? Coba lisankan sendiri dialog-dialog itu, apakah terasa aneh? Atau sudah seperti percakapan riil manusia?
Lalu, apakah dialog itu sesuai karakter masing-masing tokoh? Atau masih seragam semua seperti gaya bicara Kakak sendiri (penulisnya)?
5. Descriptions & Narrations
Apakah ada kalimat-kalimat yang panjang? Jika ada, pangkaslah menjadi lebih pendek. Kecuali bila gaya Kakak memang suka kalimat-kalimat panjang. Namun, pembaca modern rasanya lebih suka kalimat-kalimat pendek.
Adakah deskripsi yang justru membuat alurnya terhambat? Misalnya, sedang seru-serunya menceritakan penjambretan di pasar, eh, ada deskripsi panjang tentang sejarah pasar itu, siapa donaturnya, siapa yang meletakkan batu pertama, dan berbagai detail lain yang sebaiknya tidak usah Kakak ceritakan.
6. Sentences
Apakah masih ada kesalahan ketik (saltik alias typo) dalam kalimat-kalimat Kakak? Apakah masih ada inkonsistensi? Misalnya Kakak menyebut orang ketiga kadang-kadang “dia”, tetapi kadang-kadang “ia”.
Sebisa mungkin, hindari kalimat pasif. Pembaca terbukti lebih cepat memahami kalimat aktif “Badrus menggosok hidungnya” daripada kalimat pasif “Hidung itu digosok oleh Badrus”.
Asal tahu saja, kalimat aktif juga memudahkan penerjemahan ke dalam bahasa Inggris. Siapa tahu Kakak berorientasi go international juga dengan naskah itu, ya kan?
7. Paragraphs
Apakah ada yang terlalu panjang? Saran terbaiknya, maksimal enam kalimat dalam satu paragraf, supaya pembaca tidak mudah lelah membacanya. Meskipun sering juga, untuk kebutuhan layout, pihak penerbit menggabungkan kembali paragraf-paragraf itu supaya sesuai dengan keterbatasan ruang buku/media.
8. Ending
Sudahkah akhir dari kisah ini mengesankan? Memberi kejutan? Mudah mengiang-ngiang benak pembaca? Membuat pembaca tidak keberatan membaca ulang novel itu?
9. Title & Tagline
Apakah judul dan subjudul naskah Kakak cukup unik? Menarik? Membuat calon pembaca penasaran, tetapi benar-benar mewakili isi novel?
Nah, setelah semua itu Kakak anggap layak. Silakan kirimkan naskah itu ke penerbit dengan kepala tegak. Semoga beruntung!
Wah.. makasih banyak ilmu nya 🙂
salam hangat..
Salam juga. Semoga bermanfaat 🙂