4 Cara Cepat Mengarang Dialog Yang Realistik

Fiksi tanpa dialog ibarat pohon tanpa daun. Terasa kering dan kurang hidup. Karya fiksi selalu berusaha mencontoh kehidupan riil. Manusia perlu mengobrol. Maka, dialog menjadi salah satu unsur terpenting dalam fiksi. Penulis mutlak memerlukan keterampilan mengarang dialog yang terdengar realistik.

Cara Cepat untuk Mengarang Dialog Tokoh

Masalahnya, sebagai penulis, mengarang dialog yang meyakinkan terkadang tidaklah mudah. Namun, pelan-pelan saya menemukan cara tercepat untuk menciptakannya. Intinya begini.

1. Awali Mengarang Dialog dengan Diri Sendiri

Awali Mengarang Dialog dengan Diri Sendiri

Cara yang paling gampang, buatlah tokoh utama seperti Kakak. Bila sudah begini, yang perlu Kakak lakukan cuma berpikir, “Apa ya yang aku ucapkan seandainya berada pada situasi semacam ini?”

Saya tidak menganjurkan semua tokoh berbicara (dan berpikir) seperti Kakak, karena itu kurang produktif dalam membangun tokoh-tokoh yang meyakinkan. Cara malas seperti ini akan menimbulkan kesan “penulis pemula” di karya tersebut.

Cukup satu tokoh yang mirip Kakak. Untuk mudahnya, karakter utamanya. Selain satu tokoh itu, ada tip lainnya.

2. Perhatikan Cara Orang-orang Sekitar Mengobrol

Perhatikan Cara Orang-orang Sekitar Mengobrol

Lantas, untuk mengembangkan dialog-dialog tokoh lainnya, sering-seringlah mendengarkan dan mengamati bagaimana orang sekitar Kakak bercakap-cakap. Percakapan riil.

Kakak akan segera tahu, misalnya, betapa orang cenderung mengatakan “Saya butuh tiga tang, empat obeng, dua pisau. Sekarang!” alih-alih bahasa tulis “Sekarang saya sedang membutuhkan tiga tang, empat obeng, dan dua pisau.”

Namun, sekadar catatan, jangan langsung mentranskrip percakapan orang-orang ke dalam karya Kakak. Kalau mau jujur, percakapan yang riil itu mungkin seperti transkrip pembicaraan hasil sadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke ponsel pejawab.

Masih ingat penyadapan Anggodo Widjojo? Dialog yang terekam tidak rapi, tidak efisien. Sebab, fungsi utamanya memang untuk berkomunikasi, tanpa terlalu mempertimbangkan aspek bahasa. Perhatikan salah satu dialog Anggodo ini:

“..dan ini kronologinya saya sudah di Bang Farman semua.”

“sebetulnya ada satu saksi lagi si Edi Sumarsono Pak, yang Antasari itu Pak”

Jika dialog itu mau diubah ke bentuk yang lebih rapi (untuk tujuan hiburan), tetapi tetap terdengar realistik, bisa kita utak-atik sedikit menjadi:

“Kronologinya sudah di Bang Farman semua.”

“Sebetulnya ada satu saksi lagi. Edi Sumarsono. Yang Antasari itu, lo, Pak.”

Lebih efisien dan rapi, kan?

3. Gunakan Distorsi Percakapan dalam Mengarang Dialog

Gunakan Distorsi Percakapan dalam Mengarang Dialog

Dari pembicaraan telepon yang riil itu, saya menemukan sesuatu yang menarik tentang dialog manusia: orang menyatakan A tak selalu akan ditanggapi sesuai A. Ini namanya distorsi percakapan. Penyimpangan, tetapi tidak perlu diluruskan juga.

Pikirkan sewaktu Kakak bercakap-cakap dengan seorang teman. Tanpa disadari, ada distorsi-distorsi yang membuat percakapan justru tampil lebih manusiawi, kan? Lawan bicara Kakak bisa saja:

  • Mengutarakan hal lain. “Kau lihat gunung menjulang itu, Bang? Suatu hari aku bakal menaiki puncaknya. Aku yakin, Bang.” Lawan bicara malah menanggapi, “Eh, ada nasi tuh di pipi kau, tuh!”
  • Membalas pertanyaan dengan pertanyaan. “Mau kemana lo, Jek?” Lawan bicara pun menjawab, “Sialan. Hujan ini udah dari tadi pagi, ya?”
  • Tidak menanggapi sama sekali. “Din, kata sandi wi-fi di sini apa?” Dina masih menutup telinganya dengan bantal sembari memejamkan mata.

Amatilah percakapan-percakapan di sekitar. Maka Kakak akan mendapati, di luar ketiga itu, masih ada beberapa kemungkinan yang lain. Tinggal kita terapkan ke tokoh-tokoh fiksi kita.

4. Setelah Mengarang Dialog, Segera Uji!

Gunakan Distorsi Percakapan dalam Mengarang Dialog

Ada satu metode untuk mengetes dialog Kakak realistik atau sekadar dialog mati: bacalah keras-keras. Rasakan. Resapi.

Sudah enakkah didengar? Sudah seperti percakapan riil atau belum? Terdengar geli di telinga atau sudah pas?

Masih belum bisa memutuskan? Terkadang, kita memang tidak bisa menilai bagus-tidaknya sebuah dialog jika sambil membacanya.

Jadi, rekam saja dengan ponsel saat Kakak membacakan dialog tersebut. Lalu, putar ulang. Dengarkan. Resapi. Sudah enakkah didengar? Sudah seperti percakapan riil atau belum? Terdengar geli di telinga atau sudah pas?

Astaga, masih tidak yakin juga dengan dialog karangan Kakak sendiri?

Panggil beberapa teman. Putar ulang rekaman tadi. Lalu tanyakan kepada mereka, “Sudah enakkah didengar dialog karanganku ini? Sudah seperti percakapan riil atau belum? Terdengar geli di telinga atau sudah pas?”

Kalau jawaban dari semua pertanyaan itu adalah “belum”, utak-atik lagi dialog Kakak. Ulangi prosesnya. Oke? Semangat!

BAGIKAN HALAMAN INI DI

11 thoughts on “4 Cara Cepat Mengarang Dialog Yang Realistik”

    • Dialog dimulai dari kebutuhan cerita. Begitu saatnya tepat, langsung saja tokoh2 berdialog, menyambung narasi sebelumnya.

      Kapan menggunakan narasi, kapan menggunakan dialog, itu yg pakai feeling sbg penulis. Tp sebenarnya ini seperti tulisan jurnalistik (nonfiksi), baik cetak (termasuk portal internet), radio, maupun TV. Ada kombinasi narasi (penyampai berita) dan kata2 langsung para tokoh (narasumber).

      Reply
  1. Wah, syukurlah artikel ini bisa membantu, Nia. Bikin dialog emang gampang2 susah. Kadang2 kalau dialognya tampil spt bhs tulis dikritik nggak realistis. Tp aku pernah dikritik temanku justru gara2 terlalu realistik. “Hasil wawancara digubah begitu aja ya?” katanya. Padahal kpn wawancaranya, wakakakak!

    Reply
  2. Saya pernah baca dimana, ya, Cerpen ga ada dialognya sama sekali. Film juga perasaan pernah nonton yang ga berdialog. Tetep bagus, tuh. Jadi sebenernya dialog itu elemen utama ga, sih?

    Reply
  3. Bisa aja sih, Leen. Tapi cerpen kan? Bukan novel. Soalnya kalau ceritanya panjang dan tokohnya nggak ngomong2, rasanya bakal membosankan tuh cerita. Film pun aku yakin film pendek. Kesannya jd nyeni kalau teknik tanpa dialog ini diterapkan di film berdurasi pendek. Lha kalau film feature tanpa dialog, wuah, nggak tahan nontonnya deh. Seperti nonton film2 muet jaman dulu, seperti Charlie Chaplin.

    Yah, tp semua kembali ke selera penonton/pembaca sih.

    Reply
  4. Aku sih kalo ceritanya perlu pake dialog, ya pake. Kalo nggak, ya nggak. Nggak pernah pake teori ini-itu krn aku nggak percaya teori. Semua ditulis berdasarkan feeling dan pembacalah yg menilai, termasuk aku. Kan habis nulis aku suka baca tulisanku, terus mengedit. Kalo tadinya tulisanku terlalu naratif dan dirasa kurang lucu tanpa dialog, baru aku pake. Tapi kalo narasi pun fine-fine aja, ya sudah, biarkan saja apa adanya.
    .-= rie´s last blog ..Fastest Way to Write a Realistic Dialogue =-.

    Reply
  5. Ah, oui, Brahm. Pour le roman on doit faire le dialogue. The White Castle-nya Orhan Pamuk nyaris nggak ada dialog. Ca m’ennuyeux. Cape juga bacanya.

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!