Alasan Menulis Yang Terkuat

Setiap orang punya alasan untuk melakukan sesuatu. Begitu juga penulis. Seseorang menjadi penulis bisa karena berbagai hal: untuk menyampaikan gagasan, mengkritik, supaya beken, atau menambah penghasilan. Kakak sendiri, apa alasan menulis Kakak?

Alasan Menulis Yang Terkuat

Kalau saya, sejak kecil saya suka melamun. Saya juga paling senang kalau guru bahasa Indonesia memberi tugas mengarang. Karena dengan begitu, saya punya wadah untuk menuangkan lamunan-lamunan saya tadi.

Nah, suatu hari, guru Sastra Indonesia SMA saya menyuruh kami membuat cerpen. Bukan main girangnya saya. Hasilnya, delivery over promise! Cerpen-cerpen hampir satu buku berhasil saya hasilkan! Saya memang gemar menulis.

Sayangnya, kegiatan tulis-menulis itu sempat terhenti saat kuliah. Padahal saya kuliah di Fakultas Sastra. Aneh, ya? Sering, sih, menulis, tetapi tidak didokumentasikan. Saya hanya mencoret-coret kertas ketika suntuk. Begitu mood saya bagus lagi, tulisan itu saya buang.

Baru setelah lulus kuliah, saya memutuskan balik menulis, bahkan menjadi penulis. Namun, saya harus belajar dari nol. Dan kebanyakan secara autodidak. Tidak pernah saya memakai teori apapun. Dengan kata lain, saya belajar menulis dengan menulis.

Pun, bagi saya tidak penting pengklasifikasian tulisan seperti cerpen, puisi, esai, sketsa, dan lain-lain. Walaupun terkadang saya harus berkompromi. Jika saya mengincar penerbit mayor, misalnya, maka saya hanya bisa menulis cerpen atau novel.

Namun, bila rencananya menerbitkannya sendiri (self publish), maka saya bebas menentukan bentuk: cerpen yang lebih condong ke sketsa, esai yang mirip cerpen, dan sebagainya. Seperti itulah kebanyakan karya-karya saya.

Yang terbiasa dengan pengklasifikasian secara konvensional mungkin akan menganggap gaya penulisan saya aneh. Memang. Sering saya sendiri tak tahu tulisan saya pantasnya dimasukkan ke mana. Pasalnya, saya menulis bukan karena ingin dibilang cerpenis, novelis, esais, atau penyair. Saya menulis karena… pengin aja.

Justru itulah alasan terkuat saya dalam menulis!

Lihatlah. Jika seorang pria ditanya oleh pasangannya, “Kenapa kamu mencintaiku?” dan kemudian menjawab, “Karena kamu cantik, kaya, cerdas,” apakah itu alasan yang bagus?

Saya pikir tidak. Karena begitu sang wanita mendadak tidak kaya lagi (umpamanya karena usahanya bangkrut) atau tiba-tiba tidak cantik lagi (misalnya gara-gara tabrakan), habislah raison d’être dari cinta tersebut. Habis pula hubungan tersebut.

Sebaliknya, pria yang dengan tulus mencintai pasangannya bisa saja malah gelagapan dan tidak tahu harus menjawab apa ketika ditanya “Kenapa kamu mencintaiku?” Sebab, rasa cintanya datang begitu saja, dan makin lama makin kuat tanpa teranalisis penyebabnya.

Dalam menulis pun demikian. Jika Kakak ditanya kenapa menulis, cobalah untuk tidak mencari-cari alasan, apalagi alasan yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Cobalah untuk berkata, “Saya menulis karena ingin menulis.” Percayalah, kelak Kakak akan mendapatkan sesuatu yang melebihi harapan Kakak.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

11 thoughts on “Alasan Menulis Yang Terkuat”

  1. Ada fakta unik. Beberapa penulis yg kukenal, sebagaimana aku jg, punya benang merah: pas sekolah dulu tulisannya diragukan, maksudnya dituding memplagiat. Pdhl jelas2 itu karya kita.

    Di SD aku pernah diketawain guru pas nyerahin cerpen karyaku, “Ini ngarang sendiri? Bukannya dari majalah apa gitu?”. Teman2 yg nggak ngerti apa2 ttg bakat dan minatku ikutan sok tahu meragukan keaslian karyaku.

    Di SMP, puisiku pernah dicibir oleh guru, “Paling ini dibuatin kakakmu ya?” Apapun argumenku, pertanyaan itu diulang lg. Salah seorang teman yg ngerti proses kreatifku sampai ikut panas, “Tunjukin aja coret-coretanmu tadi, tunjukin!”

    Tp aku yg waktu itu msh pemalu males ribut. Cukup membatin, “Aku pasti tunjukin. Tp nanti, Pak. Setelah dewasa!”

    “Dendam” itulah the strongest reason to write versiku.

    Reply
  2. Alhamdulillah, aku nggak pernah dituduh memplagiat karya orang. Lagian dari SD sampe SMA aku akur2 aja sama guru Bahasa Indonesia. Mungkin mereka punya sama dendam sama kamu, Brahm, makanya kamu kena tuduhan gitu. Atau kamu emang memplagiat? Wkwkwk…

    Anyway, sekarang dendammu sudah terpuaskan dong? Kan kamu udah jadi penulis. 🙂
    .-= Rie´s last blog ..Mama dan Pasar =-.

    Reply
  3. saya menulis untuk detoksifikasi 😀 melepaskan toksin- toksin dari pikiran dan jiwa… he he he… cuma saja saat dilepas biasanya saya ‘daur ulang’, agar tidak mengotori lingkungan, syukur2 kalau berguna… 😀 d.~

    Reply
  4. sama banget dengan saya,,suka sekali nulis,,dan sempet terhenti sampai sekarnag belum di teruskan lagi.
    kalau nyoba nulis malah berhenti di tengah jalan..:'(

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!