Sekadar Usulan demi Perfiksian Indonesia

Setelah bertahun-tahun malang melintang sebagai penikmat fiksi, saya jadi semakin prihatin dengan perkembangannya di Indonesia. Yang paling kentara adalah filmnya (sinetron termasuk film). Di sana banyak pencontekan, bahkan plagiat, terhadap film-film luar. Memang, mereka terkadang memiliki ijin memproduksi versi Indonesianya (remake). Tapi bukankah dengan begitu kian terbukti bahwa kita telah dan sedang kekeringan ide cerita?

Saya ingin mengkritik sekeras-kerasnya keadaan ini, namun khawatir nanti malah merebut sandang-pangan kritikus yang jumlahnya sudah seabrek di negara kita. Maka alih-alih mengkritik, saya dan teman-teman memilih berkarya saja. Tapi jumlah karya itu kecil sekali, ternyata.

Barangkali di antara Anda ada yang suka menulis atau punya karya fiksi unik, menarik, minimal ceritanya tidak pasaran. Bukan misalnya, cerita mertua meracuni menantu, jenazah berbelatung anak SMU yang selama hidupnya kurang ajar, pocong-pocongan, atau sebangsanya. Jika berkenan, Anda bisa menggabungkannya dengan karya-karya kami. Berbentuk apapun fiksi tersebut (novel, skenario, cerpen, cerpan, komik), kami tunggu di email kami.

Peran kita nantinya mungkin tetap tak banyak. Namun kami percaya itu akan cukup memberi warna lain perfiksian Indonesia. Dengan demikian, krisis ide ini pelan-pelan akan berlalu. Jayalah fiksi Indonesia!

Tulisan ini dimuat di Harian Surya, Jumat 30 Maret 2007.
Posted in fiction writing | Tagged , , , | Leave a reply

About Mochammad Asrori

is an alumnus of Indonesian Literature Study. He is first winner of The Short Story Writing Competition 2003 which held by State University of Surabaya, third winner of The Writing Contest of East Java’s Student 2004, first winner of The Essay Writing Contest and also second winner of The Poetry Writing Contest in Surabaya Anniversary 2005 event, additional winner of The Youth Theater Script’s Writing Competition 2008 which held by Taman Budaya Jatim. Several publisher and media have published his works, e.g. Widyawara, Sesasi, Gema, Surya, Kompas, Jawa Pos, Radar Surabaya, etc. He is now a teacher in Mojokerto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.