Does A Writer Need to Write on Newspaper before Start the Writing Career?

NewspapersBy Rie Yanti

Literary on newspaper, such as short story, essay, poetry, critique, is interesting. It is high standard of literary, but popular at the same time, and as my friend said, “You see the money sooner.” However, newspaper literary has particular taste that does not always suit every writer. If any contributing writer insists with his own taste, it’s predictable, he will get a refusal. Sooner or later the question come up, “Do I really need to write on paper before start my writing career?”

It is important to show your name publicly via newspaper, as often as you can. But since the era of Web 2.0 (the other says that it is 3.0 now), you don’t have to stuck on classical media to begin your writing reputation. Many cases proven, a “nobody writer” became “somebody writer” who has published the books productively, only by compiling her posts on net.

How about keep the conventional publishing part away? Fine! As long as you write and make money with it, people will see you as a writer still, even without any published book. You can stay and survive in blogosphere path, indeed. On the internet, content is the king. Making money by write something to other websites or even your own blog (of course with your very writing style) is possible. And guess what, yet you can be famous.

So, stop staring at that newspaper.

* * *

Sastra koran. Istilah ini tentu sudah tidak asing lagi bagi Anda. Inilah sastra-sastra yang biasa tampil di koran. Bisa cerpen, puisi, kritik sastra, atau esai. Umumnya, para penulis memulai karir mereka dari sini. Saya pernah bertanya kepada seorang teman penulis: apakah setiap penulis pemula wajib menulis di koran?

Dia mengangguk. Pertama, karena dapat dimuat di surat kabar sama seperti memiliki pengalaman bekerja di perusahaan kecil. Bekerja pada perusahaan kecil memang kurang gengsi, tapi akan menjadi bekal untuk bekerja di perusahaan besar.

Kedua, perhatikan bagaimana tradisi baca di negara kita. Masyarakat kita lebih banyak membaca koran alih-alih buku. Berbeda dengan tradisi membaca di luar. Sejak kecil, orang-orang bule terbiasa membaca buku. Membaca pun tanpa memedulikan apa pengarangnya pernah menulis di surat kabar atau tidak.

Nah, di Indonesia, konon beken-tidaknya seorang penulis dilihat dari seberapa sering karyanya dimuat di media cetak. Ini pun (katanya) menjadi pertimbangan penerbit dalam meloloskan naskah buku ke mesin cetaknya. Naskah dari penulis yang tak pernah tampil di media? Nanti dulu deh.

Kecuali jika si penulis itu sudah tenar di bidang lain seperti Dewi Lestari. Kecuali kalau cerita yang diangkat si penulis bisa mengobarkan semangat (meski terkesan utopis) seperti Laskar Pelangi.

Kecuali bila penerbit merasa naskah itu benar-benar akan menjadi best seller. Kecuali kalau si penulis mau menanggung biaya cetak sehingga seperti menerbitkan sendiri (tapi di bawah nama sebuah penerbitan).

Sastra koran memang punya citra yang adiluhung, tapi populer dan kata teman saya, “Uangnya cepat terlihat.” Namun itu bukan jaminan bahwa seorang sastrawan koran akan cepat terkenal.

No more mainstream movie, begitu slogan sebuah acara televisi lokal yang menayangkan film-film pendek besutan sutradara indie. Demikian halnya dengan dunia tulis. Sastra koran bukan satu-satunya pintu masuk.

Sekarang ada blog. Di sini orang bisa menulis apa saja sesuai selera mereka, tidak harus nyastra maupun njurnal. Raditya Dika mengawali karir kepenulisannya dari blog, ingat? Tetap menulis di blog tanpa menerbitkan apa-apa secara konvensional (offline) pun bisa. Dan tetap dapat reputasi serta uang.

Alternatif lain, di kampus-kampus biasanya ada buletin kampus dimana mahasiswanya bisa menyumbang tulisan. Ada pula majalah indie yang walaupun lokal dan banyak yang tak berhonor, tapi lumayan untuk mengasah kemampuan menulis dan merintis jalur kepenulisan.

Yang terpenting, jadilah profesional dengan konsisten dan produktif menulis. Sastra koran hanyalah sebuah pilihan. Setiap orang punya selera masing-masing kan? Ada yang keukeuh berada di jalur mainstream, ada yang betah menulis secara indie, atau bergaya pop-art, ada pula yang tulisannya tidak masuk kategori manapun.

Dan banyak bukti berserakan di luar, semua “aliran” itu berpeluang untuk menjadikan penulisnya terkenal. Sastra memang seharusnya tidak perlu dikotak-kotakkan. Mari bersulang untuk perbedaan pilihan jalur dan gaya tulis!

BAGIKAN HALAMAN INI DI

20 thoughts on “Does A Writer Need to Write on Newspaper before Start the Writing Career?”

  1. Halah Bram, kamu juga pernah nulis tentang komik digital, e-novel, m-novel, kan? Itu juga apa namanya kalo bukan virus pemberontak??

    Reply
  2. Kalo dibilang memberontak, nggak juga. Aku cuma mau ngasih alternatif aja buat para penulis. Kan tiap orang punya selera membaca yg berbeda2, tiap penulis punya fans-nya masing2. Nggak mutlak koran/ major label kan? Pelangi aja warna2nya macem, krn kalo nggak macem2, namanya bukan pelangi (apa hayo?).

    And i wonder, apakah tulisan2 berbau budaya/ sastra (artikel, cerpen, puisi) yg dimuat di koran2 itu dibaca sama pembaca koran? Belum tentu juga kan? Bisa aja cuma kalangan tertentu. Orang biasa mungkin aja cuma tertarik sama berita2 kriminal/ infotainment/ olahraga.
    .-= rie´s last blog ..Does A Writer Need to Write on Newspaper before Start the Writing Career? =-.

    Reply
  3. Pojokpradna dot wordpress dot com itu apa ya? Obrolan sor… Oh, yg nyastra koran itu ya? Yg penulisnya slengekan? Yg penulisnya masih bingung menentukan jati dirinya antara tokoh rasta cebol atau Bugs Bunny? :))

    Reply
  4. Mendukung Rie, sepenuh hati (rock)

    eh iya, kemaren dulu aku nulis Kisah Hidup Paman Gober di Pradna Cahbagus…tp disitu nyritain Scrooge McDuck, ding ya

    jadi ndak begitu sial2 amat, kecuali kegagalannya selama 20 tahun sebelum berhasil 😛

    Jadi baru kepikiran kalo beberapa tokoh Quaker selalu disialkan

    *jadi bahan investigasi, nih*
    .-= Pradnasatunya´s last blog ..Perahu Kertas =-.

    Reply
  5. Belum pernah dibahas di sini, Rie. Tp Wufi hrs bahas produk Indonesia. Jd kalau ttg Donal Bebek nggak bisa. Tp kalau bahasan ttg kenapa tokoh bebek selalu sial, bisa aja. Kenapa kamu nggak nulis. Kalau dipikir2, di Wufi, bahasan komik sedikit banget ya. Kebanyakan sastra.

    Maksud tokoh bebek itu ya tokoh ikoniknya, Prad. Bukan Uncle Scrooge, apalagi Untung Bebek (siapa sih nama Inggrisnya si Untung itu?). Kamu kan udah bahas Walt Disney sekaligus penggemar Looney Tunes. Kamu pasti tahu jawaban kenapa tokoh bebek sial?

    Reply
  6. @Pradna
    Makasih… Hidup Pradna… Tp aku sih nulis di mana aja yg aku suka & kurasa cocok.

    @Brahm
    Ntar kupikir2 lg buat nulis ttg nasib si bebek itu. Pasti ada unsur filosofisnya.

    @Ariez
    Seingatku, Silvester nggak pernah mujur. Jadi nggak salah kamu suka Silvester. Kasihan dia kalo nggak ada yg ngedukung, ntar nggak jadi presiden.

    Guyz, obrolan ttg kartun di artikel ttg sastra koran ini memberiku sebuah ide cemerlang: bagaimana kalo kita meredaksi koran ttg kartun.

    Reply

Leave a Comment

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No right-click, please!