Pemburu pesan? Jangan menduga tulisan ini akan menyinggung masalah pesan-pesan WA, email, atau model-model penyampaian pesan lainnya. Ini murni tentang pembacaan karya sastra.
Aktivitas membaca tersebut, entah cerita pendek maupun novel, dapat kita ibaratkan seseorang yang sedang bepergian ke kota lain, baik untuk tujuan rekreasi, tugas kerja, atau sekedar silaturahmi. Setelah semua selesai, dan ketika sudah tiba kembali lagi ke rumah, kita umumnya ditodong, “Sudah pulang? Mana oleh-olehnya?”
Jika lebih sopan, mungkin pertanyaan tersebut akan hadir setelah pertanyaan-pertanyaan penggugah selera, katakanlah:
- “Bagaimana perjalanannya, lancar?”
- “Berkunjung ke mana saja sewaktu di sana?”
- “Wah asyiknya, cerita dong gimana serunya?”
Setelah itu, biasanya pembicaraan berkembang menjadi dua arah. Barulah saat seluruh menu utama pembicaraan habis, masalah oleh-oleh menjadi semacam pertanyaan penutup.
Tentu jika tidak menyiapkannya dari semula, kita akan kelimpungan untuk menjawabnya. Buah tangan menjadi sesuatu yang wajib dihadirkan sebagai efek samping bepergian. Malu juga rasanya jika kita sekadar menjawab lupa tidak membawa oleh-oleh.
Perlu diketahui bahwa karya sastra merupakan dunia penjelajahan baru bagi pembacanya. Di dalamnya, kita bisa hanyut dalam aneka rasa petualangan tema, belukar karakter tokoh, atau rimba alur yang memilin-milin jadi ular konflik yang menarik.
Sama menyenangkan dengan sebuah perjalanan liburan, barangkali juga sama melelahkannya. Mungkin bila dituntut untuk menceritakan kembali, kita juga gelagapan.
Analogi panjang di atas rasanya cukup pas untuk kasus ketika seseorang membaca karya sastra. Apalagi jika pembaca tersebut berada dalam satu lingkup lingkungan pembaca aktif, orang-orang yang gemar membaca dan merefleksikannya, katakanlah lingkungan kampus.
Tak ayal, pertanyaan seputar karya-karya sastra yang telah dibaca oleh masing-masing orang akan turut menjadi bahan perbincangan.
Masalah yang timbul pada pembaca aktif adalah sama seperti ketika orang menjalani masa liburannya. Ia tidak ingin mengecewakan orang-orang dekatnya, maka disiapkannya berbagai daftar oleh-oleh sebagai rambu-rambu agar tidak kelewatan. Ia merasa malu bila hanya mengatakan:
- “Betapa menyenangkan liburannya.”
- “Wah, tempatnya indah sekali.”
- “Alhamdulillah, ya, sekarang tinggal capeknya, nih.”
Maka ia selalu terlebih dahulu membangun sebuah mitraliur praduga dan selalu menembak-nembak pada saat pembacaan, bukan pasca pembacaan. Pikirannya dipenuhi pertanyaan seperti:
- “Buku ini bicara masalah apa?”
- “Apa memiliki alur yang bagus, tokoh yang bulat, dan latar yang prima?”
- “Apa ada hal urgen dan baru yang ditawarkan?”
- “Apa memiliki nilai-nilai psikologis, sosiologis, atau historis yang bisa dipetik?”
Pendeknya, ia mencari-cari kutu pada saat pembacaan, mencoba memahami isi buku langsung di saat membacanya.
Model pembacaan ini, membuat kita menomorsatukan sebuah pemahaman dan mengesampingkan pentingnya penghayatan dalam membaca karya sastra. Kita jadi lebih dahulu mencoba menangkap pesan dalam membaca karya sastra, terlepas ada atau tidaknya pesan tersebut di sana.
Kita pun terjebak menjadi pemburu pesan!
Pesan selalu memerlukan pemahaman. Tanpa pemahaman, ia tidak akan mampu memetik apapun di dalamnya.
Berbeda dengan makna. Makna bukanlah sebuah pesan, ia hadir bukan untuk dipahami, tetapi untuk dihayati.
Membaca karya sastra berbeda dengan membaca sebuah buku pengetahuan. Sebab, karya sastra merupakan keunikan yang dihasilkan seorang penulis dengan licencia puitika-nya. Kita tidak bisa bertanya langsung, “Apa maksud dan tujuan pengarang ketika menciptakannya?”
Akan sangat mengecewakan jika kita kemudian tidak bisa menemukan apa yang kita cari, sesuatu yang telah kita beri praduga. Sesuatu yang sudah kita siapkan sebagai satu pisau bedah untuk mengulas dan mengurai pemahaman karya, sebelum melalui tahapan membaca serta memaknainya.
Jadi, barangkali yang paling baik adalah kita tak perlu berpusing-pusing memikirkan pemahaman akan karya yang kita baca. Cukup kita mencoba menghayatinya, turut merasakan sedihnya, gembiranya, kemencekamannya, keasingannya, kenakalannya, keegoisannya, atau kemarahannya.
Dari sanalah nantinya terbit satu medan makna dalam benak. Kita bisa memaknainya sebagai sesatu yang berarti dalam kehidupan dan membekas dalam hati. Barulah di tahap selanjutnya, kita bisa menggali pemahaman di dalamnya.
Katakanlah, seperti seseorang yang sedang kesal dengan kekasihnya, “Kamu enggak paham perasaanku?” katanya. Haha, bagaimana mau memahami perasaannya jika ia tidak menganggapnya bermakna dalam hati.
hmm…jadi kaeknya kita ini harus ganti perspektif penulisan ya?
Thanks, Mas Scarion. Sori baru bisa menanggapi sekarang, habis liburan nih. Ganti perspektif penulisan? Mungkin yang dimaksud ganti perspektif pembacaan kali ya? Tulisan ini cuma untuk meluruskan gaya pembacaan tradisional khas pelajaran sekolah dimana kita selalu dituntut untuk mencari pesan-pesan dalam suatu karya. Karena sebelum membaca kita dibebani untuk selalu mencari kesan begitu, jadi kita melewatkan tahap yang menyenangkan dalam menikmati bacaan.