Lika-liku Membisniskan Agama melalui Film

Lika-liku Membisniskan Agama melalui Film

Kata kawan saya, di kampungnya ada pemuda yang bandelnya nggak ketulungan: Kurang ajar terhadap orangtua, maling sandal di musala, mencuri kotak amal masjid. Benar-benar menjengkelkan, pokoknya. Sampai-sampai salah satu ibu di sana nyeletuk, “Aku pingin tau matinya tuh anak. Pasti ada banyak belatung di mayatnya.”

Komentar ini dipicu, apalagi kalau bukan, oleh sinetron-sinetron religius kegemaran warga sana. Kami pun geleng-geleng berjemaah.

Pernah juga, saya mendengar dengan kuping kepala sendiri betapa para jurnalis (yang terbiasa dengan objektivitas) meributkan hal-hal demikian. Begitu pula mahasiswa. Bukan komentar-komentar kritis, sayangnya. Melainkan kalimat-kalimat beginian, “Wiih, ternyata azab perempuan yang suka menggoda itu seperti itu ya.”

Alamak, media ternyata masih digdaya dalam memengaruhi khalayak. Saya pun akhirnya paham mengapa para teoritisi Komunikasi tak pernah tega melempar teori-teori karatan seperti Jarum Hipodermik ke tong sampah.

Sasa Djuarsa Sendjaja (1999) pernah mewanti-wanti, ada tiga dampak dari pesan media massa:

  1. Kognitif: mengubah apa yang diketahui, dipahami atau dipersepsi khalayak
  2. Afektif: Mengubah apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak
  3. Konatif: Menimbulkan pola-pola tindakan, kegiatan atau perilaku nyata yang dapat diamati.

Dampak, lazimnya, mencapai tahap kognitif dan afektif saja. Efek terkuat, yaitu konatif, hanya terjadi bila didukung beberapa prinsip. Dua di antaranya ialah kredibilitas dan konsonansi.

Maksud konsonansi yaitu ketika isi informasi yang disampaikan berbagai media massa relatif sama, baik dalam hal materi dan orientasinya maupun dalam hal waktu, frekuensi dan cara penyajiannya.

Sederhananya, bila banyak stasiun televisi menayangkan sinetron-sinetron serupa, aspek konsonansi akan terpenuhi. Apalagi di akhir tayangan, ada tokoh agama yang tugasnya menyimpulkan dan memberi legitimasi berupa ayat-ayat (aspek kredibilitas) yang relevan, meskipun ayat-ayat itu sebetulnya tidak spesifik.

Ini yang belakangan diprotes, setidaknya di Surat Pembaca sebuah majalah islami. Sang pengkritik menulis, ”Mana ada ayat atau sanad yang secara spesifik memvonis, misalnya, orang berperangai begini pasti matinya begitu?”

Saya setuju. Namun toh, pertanyaan ini masih bisa dijawab, ”Sinetronis, kan, berkreasi berdasarkan saksi, bukan ayat!”

Oke, saya pikir, saksi dari kejadian yang diceritakan sinetron-sinetron itu pun patut diragukan kredibilitasnya. Belum lagi kalau orangnya sudah meninggal, sinetronis harus menafsirkan sendiri pernyataan para saksi yang hanya tahu sepenggal-sepenggal tentang peristiwa yang diangkat.

Fakta makin samar ketika diaduk dengan adonan kapitalisme. Bukankah tayangan-tayangan “merakyat” seperti itu berarti duit?

Kalau sudah begini, logika dikesampingkan. Salah satu contohnya, sineas kita umumnya tidak pernah merasa bersalah ketika menghadirkan deus ex machina dalam karyanya.

Deus ex machina adalah seseorang atau sesuatu (dalam konteks fiksi) yang tiba-tiba tampil dan menciptakan solusi untuk kesulitan yang kelihatannya tak terpecahkan.

~ Kamus Webster

Coba, seberapa kerap sinetron dengan tokoh utama yang lemah (secara fisik, ekonomi atau status), tetapi kemudian menang melawan si antagonis lantaran dibantu tokoh peri? Kiai yang mandraguna?

Tergelitik menelusuri sejarah kekonyolan ini, saya pun mengais-ngais media-media cetak yang lapuk menguning. Hasilnya: Ternyata film semacam itu lumayan banyak!

Sepanjang kaisan saya, yang paling lawas adalah Harta Berdarah (disutradari R. Hu, Rd. Ariffien: 1940). Film ini menuturkan berbagai keburukan manusia, kekuasaan uang, plus cerita cinta klasik. Si kaya yang antagonis akhirnya sadar setelah Allah menjatuhkan hukuman duniawi-Nya.

Sialan. Kalau dipikir-pikir, temuan ini apa gunanya?

Untunglah, tiba-tiba saya teringat kontroversi Buruan Cium Gue (disutradarai Findo Purwono). Otak saya langsung menggelandang ke awal Agustus 2004. Waktu itu Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, tidak bisa menyembunyikan kecemasannya terhadap film yang katanya mengajak orang berzina itu.

Padahal, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Titi Said, bersikeras merasa produksi Multivision Plus tersebut telah melewati setiap tahap sensoring.

Namun, di UU No. 8/1992 pasal 31, disebutkan bahwa pemerintah bisa menarik suatu film bila dalam penayangannya mengganggu ketertiban, ketenteraman, dan keselarasan hidup masyarakat. Syaratnya, harus ada keberatan dari masyarakat dalam bentuk tertulis.

Da’i muda itu pun segera mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengirimkan surat keprihatinan atas film tersebut.

Selain mendatangi kantor LSF bersama Sekjen MUI Din Syamsuddin, beberapa rohaniawan Kristen dan Katolik, mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Tuty Alawiyah, serta artis Inneke Koesherawati, Astri Ivo, dan Cheche Kirani, kiai karismatik itu menyempatkan diri berdialog dengan produser Buruan, Raam Punjabi, lewat gelombang milik RRI Pro 2 FM.

Di live talkshow radio tersebut, Raam mengaku telah berkoordinasi untuk menarik Buruan atas kesadaran sendiri. Raja sinetron itu tak ingin menimbulkan perpecahan di masyarakat (sifat khas orang bisnis). Bahkan kabarnya, Raam juga sempat menawari Aa Gym bermain dalam salah satu sinetron islaminya.

Sejak itu, kurang-lebih, sinetron-sinetron religius berebut menghiasi jagad pertelevisian.

Gelagat ini pun sudah terendus jauh hari. Di beberapa milis perfilman yang saya anggotai, sempat bertebaran tawaran menulis skenario. Cerita yang diminta adalah yang religius. Ini seperti menyodorkan daging segar ke singa yang kelaparan. Banyak penulis yang sudah lama ngebet, butuh penyaluran, lantas menyambarnya.

Hanya dalam hitungan bulan, naskah-naskah itu sudah bisa ditonton di layar gelas! Begitulah ceritanya.

Namun, Kiamat Sudah Dekat (Deddy Mizwar: 2003) juga tak bisa diabaikan peranannya. Film yang versi sinetronnya memperoleh beberapa penghargaan di FFI 2005 itu cukup sukses secara komersial. Kiamat adalah satu dari sedikit sekali film-film religius yang tidak menggunakan deus ex machina. Lainnya?

Lainnya, sebagian besar justru berusaha membangun spiritualisme melalui deus ex machina, pesan moralnya terasa menggurui, dan jalinan ceritanya kurang logis. Misalnya:

  • Seorang kyai muda yang terlalu kuat, sehingga tidak mencerminkan kesulitan sebenarnya para kyai dalam ber-nahi munkar di lingkungannya.
  • Mudah saja seseorang menjadi pemuja setan atau seorang intelektual yang gampang sekali dihasut. Intelek, kok, geblek?
  • Orang jahat diperlihatkan jahat total. Ini manusia atau iblis?
  • Orang baik digambarkan sabar sekali. Meski bolak-balik diinjak harga dirinya dan dilecehkan agamanya ia hanya bilang, “Astaghfirullah, sadar, Bang. Sadar ….”

Lantas Kakak bertanya, kalau memang sejelek itu, kenapa karya-karya semacam ini banyak penontonnya?

Saya rasa prinsipnya tetap, menyeru kepada kebaikan adalah kebaikan itu sendiri. Membangun spiritualisme dengan karya-karya audiovisual massal seperti ini selalu dianggap baik, demi kesehatan moral-akhlak penontonnya.

Skenario religius juga dapat mereligiuskan aktor-aktrisnya. Yang awalnya tak tahu doa berbuka puasa, dipaksa menghapal (karena doa itu termasuk dialog yang harus dilisankannya di depan moncong kamera). Yang mulanya tidak tahu gerakan salat yang benar, jadi belajar, karena tentunya ia tidak ingin ditertawakan fansnya.

Yang jadi masalah, ada pemisahan antara keyakinan dan logika. Manakala sebuah karya ditujukan untuk menyiram rohani, sebagian sineas tak merasa perlu lagi berlogika.

Dalam kepercayaan, apa yang ajaib dan tidak logis toh kerap terjadi. Faktor emosional pun cenderung berbicara lebih lantang ketimbang nalar. Penggalan kisah nyata di awal tulisan ini adalah buktinya.

Padahal, segala hal di semesta ini sebenarnya bisa diurai berdasarkan logika kalau kita mau sedikit berpikir. Eksistensi setan saja dapat dikaji secara ilmiah, kok. Hanya satu yang berhak tidak logis, yaitu Tuhan. Sebab, Ialah yang menciptakan logika, dan berhak memutuskan untuk menuruti atau tidak menuruti ciptaan-Nya itu.

Jadi, film yang tidak meletakkan logika sebagai prioritas pada dasarnya adalah film yang malas. Celakanya, banyak sekali film malas di tanah air kita. Dan laku!

Logika dalam fiksi ekivalen dengan konsistensi bertutur. Dengan konsistensi bertutur inilah, sebuah film (religius, terutama) dapat tampil bermutu dan elegan. Sehingga, penonton dari agama lain tidak perlu risih atau ngakak saat menontonnya. Luberan segmen pun kian lebar. Bagus buat dakwah, kan?

Ya, bila semua ini soal dakwah, bukankah lebih efektif berdakwah lewat film dengan cara begini? Bila semua ini soal bisnis, bukankah akan makin berharga produk Kakak di mata konsumen (penonton) dengan memprioritaskan logika?

BAGIKAN HALAMAN INI DI

7 thoughts on “Lika-liku Membisniskan Agama melalui Film”

  1. Hi….. ‘Lam kenal. Tulisan yang bagus banget. Saya jadi paham asal-usul sinetron-sinetro relijius itu. Tapi kok sumber-sumber tulisannya enggak ada?

    Reply
  2. Hai, salam kenal juga, Asip. Trims udah mau mampir dan berkomentar. Tulisan itu berangkat dari pengamatan saya. Awalnya temen saya (yang sudah meninggal di usia 22), Lulus Waluyo, cerita ke saya. Ya seperti di paragraf awal. Terus saya tergelitik untuk menulis, berdasarkan pengamatan dan pengetahuan saya aja. Sumber2 sih pasti ada, misalnya kamus Webster, buku Komunikasi-nya Sasa Djuarsa (1999), Katalog Film Indonesia-nya JB. Kristanto (2005), beberapa portal berita, koran2 lawas, diskusi milis, dsb. Tapi, masa’ perlu ditulis lengkap? Kayak karya tulis ilmiah aja. (Eh, apa memang perlu ya?)

    Reply
  3. ass. mas bram thx ya dah dibantwin ngedapatin info ttg demam sinetron religi ini tapi btw sumber itu penting banget loh buat dapus hehehe

    Reply
  4. salam kenal mas. memang nampaknya agama sudah menjadi komoditi yang sangat menjajikan, sampai-sampai ceritanya dilebih-lebihkan. jadinya ya masyarakat ketakutan dengan cerita itu.

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!