Menulis, apalagi fiksi, itu bebas. Tema apapun, dengan teknik apapun, sah-sah saja. Namun, ketika tulisan itu hendak kita tampilkan untuk publik, ada banyak aturan yang mengadang. Berita baiknya, hadangan itu bukan beban. Aturan-aturan tersebut sebenarnya mudah dinalar. Salah satunya tentang penulisan sudut pandang tokoh.
Kakak lebih suka bertutur dengan gaya aku (“Hari ini, aku bla-bla-bla ….”) atau ia (“Kemarin si A mendatangi kampusnya. Ia bla-bla-bla ….”)?
Awalnya, mungkin kita hanya mengandalkan insting untuk menentukan Point of View (POV) yang pas bagi karya-karya kita. Namun, ketika kita mencoba menalarnya, semua menjadi jelas. Kenapa untuk novel yang ini kita lebih pas menggunakan “ia”? Kenapa untuk menulis di blog (nonfiksi) kita suka “gue”? Alasannya ternyata sederhana.
Penulisan Sudut Pandang Orang Pertama (POV-1)
Di sini, pencerita adalah tokoh utama. Karya ditandai dengan banyaknya penyebutan kata ganti orang pertama, seperti “saya”, “aku”, dan segenap sinonimnya. Contohnya:
“Kuhampiri ia dengan senyum mengembang. Namun, alih-alih balas tersenyum, Yuanita melengos. Dan temannya tiba-tiba datang, makin menghancurkan niatku untuk bersapa.” (cerpen Yuanita, S.Psi dalam Semanyun Senyuman Mahasiswa)
Kebanyakan, kata ganti tunggallah yang digunakan. Bukan berarti jamak tidak bisa. Ada juga, lo, cerpen yang tokoh utamanya “kami”, meskipun tidak lazim. Secara teknis pun sulit dilakukan.
Pilih sudut pandang orang pertama jika Kakak ingin pembaca akrab dengan tokoh utama. Namun, tokoh ini harus cukup kuat untuk menghidupkan keseluruhan cerita.
Saat menggunakan mata orang pertama, awas tertukar dengan mata orang ketiga. Misalnya, ada kisah bersudut pandang orang pertama dengan tokoh Ariel. Ia masih SD.
Kecuali bila Kakak mau ambil risiko tidak dipercaya pembaca, seharusnya Kakak bercerita layaknya anak SD. Jangan malah menjadikan Ariel mampu menganalisis potensi ekonomi suatu daerah, lalu menerangkan teori-teori fisika.
Juga menjadi tidak logis ketika sekonyong-konyong cerita melompat ke detail keadaan rumah teman Ariel di kota lain, lengkap dengan apa yang dilakukan teman Ariel saat itu.
Kenapa tidak logis? Karena, Ariel (tokoh “aku”) tidak ada di sana untuk menyaksikan dan melaporkan semua itu.
Penulisan Sudut Pandang Orang Kedua (POV-2)
Sudut pandang ini jarang sekali menjadi pilihan penulis. Dengan menggunakan kata “kau”, “Anda” dan segenap sinonimnya sebagai subjek cerita, sudut pandang ini menyeret paksa pembaca untuk lebih terlibat dalam cerita. Walaupun, tidak semua pembaca mau diseret-seret begitu (terutama jika mereka tidak ngeh dengan ceritanya).
Contoh ceritanya?
“Anda tak pernah menyangka air laut di selat bisa seasin ini. Sekalipun piawai berenang, untuk sesaat Anda harus menelan air garam itu banyak-banyak.” (novelet Pemuja Oksigen).
Kalau pernah memainkan novelet interaktif itu, Kakak pasti menemukan cerita itu terkadang juga menggunakan kata ganti orang kedua jamak (“kalian”). Ini memungkinkan sekali dalam kasus Pemuja Oksigen. Sebab, dalam cerita tersebut, tokohnya memang banyak, dan berada dalam satu tubuh.
Jadi, penyebutan “kalian” yang bertubi-tubi pun terasa masuk akal.
Penulisan Sudut Pandang Orang Ketiga (POV-3)
Gunakan sudut pandang ini jika cerita Kakak memiliki banyak latar dan tokoh yang menonjol. Dengan menggunakan kata “dia” atau “ia”, penulis lebih bebas mengatur nasib dan ikhtiar tokoh-tokoh ciptaannya. Contohnya?
“Tiga jam lamanya Lina menyibukkan diri. Hingga pukul 17.13, dia berhenti. Mengangkat lengannya dan meletakkan anyaman jemarinya di atas kepala. ‘Eureka!’ teriaknya pelan.” (novel Satin Merah)
Sebenarnya, ini sudut pandang favorit sewaktu saya menulis cerita bergenre thriller atau misteri. Dengan begini, enigma demi enigma lebih gampang diurai. Cerita pun menjadi lebih ringkas.
Misalnya, Kakak menceritakan organisasi pecinta lingkungan yang ekstrem. Rimba Bonaventur adalah tokoh yang berusaha menguak keganjilan organisasi itu.
Mau pakai penulisan sudut pandang orang pertama? Oke, silakan.
Masalahnya, Rimba harus dibuat jadi tokoh penyelidik, tetap hidup dari awal sampai akhir cerita untuk terus memberi laporan kepada pembaca, dan ia harus ada di mana-mana. Lebih memeras otak, kan? Lebih tebal juga novel itu nantinya.
Saat misteri dan konspirasi terlalu kompleks, orang pertama takkan sanggup membongkarnya sendirian. Jadi ia perlu “menyerahkan” pekerjaan itu kepada orang ketiga.
POV-3 Objektif (Mahatahu)
Sudut pandang orang ketiga terdiri dari gaya pengarang “mahatahu” dan “orang ketiga terbatas”. Semuanya memungkinkan cerita untuk dilempar-lempar dari mata satu tokoh ke mata tokoh lain.
Dalam persepsi mahatahu atau orang ketiga objektif, penulis lebih bebas melakukan ini-itu. Misalnya, dalam satu bab, penulis bisa mengisahkan apa yang terjadi di sekitar tokoh Nadyasari, lalu tiba-tiba melempar pembaca ke tokoh Lina Inawati, lantas ke Echa. Terus bergulir bergantian seperti itu.
POV-3 Subjektif (Terbatas)
Sementara, sudut pandang orang ketiga terbatas (orang ketiga subyektif) unggul dalam detail penjelasan tokoh, hampir sedetail sudut pandang orang pertama (POV-1). Tidak sekadar melompat-lompat, tetapi melompat lalu diam sambil mengeruk data-data subjektif dari kepala sang tokoh, baru kemudian meloncat lagi ke tokoh lain, dan menetap lagi.
Disebut “terbatas” karena memang batasan antara meloncat dan menetap itu jelas. Misalnya ditandai melalui pergantian bab. Atau kalau lompatan sudut pandang itu terjadi dalam satu bab, penandanya lazimnya spasi kosong, atau tiga bintang (* * *).
Bagian di atas tiga bintang itu, umpamanya, mengisahkan cerita dari Bi Iis (pembantu Nadya) dan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya, sedangkan bagian bawah dari tiga bintang menceritakan Lina Inawati dan permasalahan di sekitarnya. Begitu seterusnya.
Konsistenlah dengan POV Yang Sudah Ditentukan
Pilihlah penulisan sudut pandang tokoh yang paling sesuai dengan cerita Kakak. Bebas. Namun, konsistenlah!
Jangan mengubah POV atau penulisan sudut pandang di tengah cerita, karena pembaca akan merasa aneh. Ingat pula logika dan batasan masing-masing sudut pandang itu.
Akhirnya, selamat berkarya dan bereksperimen!
This is an important information for writers. Thanks.
tulisan anda sangat membantu, terima kasih.
Sepertinya paling enak bercerita dari sudut pandang orang ketiga deh
Terima kasih, Mas Ichsan.
Nggak mesti, Pasha. Tergantung kebutuhan cerita lho.
wah… makasih [enjelasan nya 🙂
pengen nanya Mas.
kalau misalnya memilih sudut pandang orang pertama, menggunakan “aku”, lalu bagaimana dengan penyebutan tokoh lain misalnya ayah atau ibu si aku saat si “aku”nya sedang tidak bersama mereka. apa disebutkan dengan nama sayang ayah/ibu, atau bagaimana? mohon penjelasannya mas,
terima kasih banyak sebelumnya
Lho, kalau pakai “aku”, sepanjang cerita ya harus ada “aku”-nya dong. Meski “aku” itu nggak mengalami sendiri peristiwa yg diceritakan, tetep hrs si “aku” yg menceritakan. Dan tentu saja, sebutan2 pd tokoh2 di dalamnya menurut pd kebiasaan si “aku” manggil tokoh2 itu.