Di Indonesia, pasar pembaca remaja begitu menggiurkan. Penduduknya kebanyakan pemuda belasan tahun. Pasarnya luas. Maka, tidak ada salahnya mencoba menulis untuk remaja. Sayangnya, ternyata masih banyak yang meremehkannya.
Tidak Semudah Itu, Ferguoso!
Mereka kira, menulis untuk remaja itu mudah. Tinggal mengarang fiksi berlatar sekolah atau kampus, memasukkan tokoh-tokoh berusia belasan tahun, lalu menambahkan dialog-dialog berbahasa gaul plus kata ganti lo-gue, jadilah!
Semudah itu?
Coba saja sendiri. Lantas jawablah sendiri, hehehe….
Yang jelas, Kakak akan gagal kalau hanya bermodal bahasa gaul. Penggunaan “lo” atau “gue” dalam dialog malah bukan keharusan. Yang wajib justru penyesuaian terhadap latar cerita. Narasi maupun gaya bicara tokoh-tokoh Kakak pun tidak harus terdengar seperti pemuda-pemuda ibu kota.
Apa yang perlu Kakak ketahui sebelum memulai menulis untuk pembaca remaja?
Persiapan Menulis untuk Remaja
- Bergaullah dengan anak muda. Setidaknya, sering-seringlah menongkrong di tempat para remaja hang out. Atau minimal medsos tempat mereka menongkrong. Seperti TikTok, Thread, atau lainnya. Perhatikan bagaimana mereka berdialog: pilihan katanya, spontanitasnya dalam membentuk ujaran, dan sebagainya.
- Amati bagaimana anak-anak muda menyikapi suatu persoalan. Dalam cerita remaja, Kakak sebaiknya jangan menggunakan logika dan pola pikir orang dewasa (yang biasanya lebih matang), kecuali untuk tokoh-tokoh yang memang dewasa.
- Jangan lupa meminta beberapa remaja untuk membacanya setelah jadi nanti. Anggaplah mereka adalah pembaca pertama Kakak. Lalu, dengarkan komentar mereka. Lakukan revisi jika kritik-saran mereka memantik a-ha moment di kepala.
5 Teknis Menulis untuk Remaja
- Hindari tema-tema yang biasanya diabaikan anak muda. Contohnya, tema politik, sejarah, militer, dinamika perkantoran, dan sebagainya.
- Usahakan tokoh utamanya remaja. Ini akan lebih menyerap perhatian daripada, misalnya, jika tokoh utamanya emak-emak.
- Jadikan penyebab konflik dan pembawa solusinya adalah tokoh muda. Untuk melibatkan emosi pembaca Kakak, jangan biarkan tokoh dewasa yang menyelesaikan konflik itu. Percayalah, di mata (pembaca) remaja, itu enggak asyik banget!
- Gunakan bahasa yang sederhana. Bangunlah alur dengan kalimat-kalimat lugas, alih-alih kalimat pengandaian. Pilihlah kosakata sehari-hari yang mudah dipahami, dan tidak terlalu rimbun oleh variasi.
- Perbanyak dialognya. Fiksi-fiksi remaja biasanya banyak berisi dialog, bukan narasi atau deskripsi. Porsinya mungkin 60-70 persen. Secara alami, dialog mempercepat tempo, menampilkan karakter secara langsung, menciptakan kedekatan emosional, dan membuat bacaan terasa lebih ringan. Remaja suka itu!
Selebihnya, semua seperti menulis biasanya. Bagaimana, berani mencoba menulis untuk remaja?
nice info.. nice blog.. please visit my blog. Thanks
betul betul, syusah kalau bikin teenlit yg berbobot *manggutManggutSetuju
mas mas… satin merah kok ga ada di togamas surabaya?
*laporanDenganBumbuProvokasi
yuk gramed dilabrak *apaSih? hihi
Ya, kalau aku nggak salah, buku2 terbitan Agromedia Groups (termasuk GagasMedia) hampir pasti nggak akan kamu temui di Togamas (seluruh Indonesia). Jangan tanya kenapa, aku nggak tahu. Sebaiknya tanyakan ke Togamas atau Agromedia langsung. Tp di Uranus, Gunung Agung, Sari Agung, dan toko2 buku kelompok Gramedia Bookstore ada kok.
pas banget… syukur ketemu blog ne..
Kalo bikin cerita buat remaja tuh kudu ada tokoh yang seumuran mereka juga nggak sih ? Atau malah bisa aja tokoh utama orang dewasa tapi tetep relate ke anak SMA ? Soalnya kadang cerita orang dewasa juga nyambung ke hidup remaja kan ? misalnya guru.
Gampangnya, sih, remaja. Tapi enggak harus juga. Yang penting adalah sudut pandang dan pengalaman yang bisa dirasakan relevan oleh pembaca muda. Tokoh dewasa pun bisa menarik, asalkan konflik atau interaksi yang ditampilkan menyentuh hal-hal yang dekat dengan kehidupan remaja, seperti hubungan keluarga, sekolah, atau pencarian jati diri.