
Lantaran sifatnya yang rekaan, banyak yang menganggap menulis fiksi itu enteng. Tinggal melamun, kemudian tulis. Wow, enak sekali!
Faktanya, menulis cerita fiksi tak pernah semudah itu. Seringnya, mengarang fiksi bahkan lebih sulit dari menulis nonfiksi, karena di sini kita benar-benar harus melibatkan otak kanan dan kiri sekaligus. Perhatikan proses minimal dalam menulis fiksi:
- Membaca
Bukan hanya untuk mengetahui ilmu baru serta pengalaman orang lain, membaca juga berguna sebagai pemicu motivasi dan inspirasi. - Berimajinasi
Ide terciptanya pesawat terbang pun berasal dari imajinasi. Begitu pula inovasi-inovasi lainnya. Masalahnya ada pada bagaimana mengembangkan imajinasi-imajinasi yang abstrak menjadi sebuah karya yang konkret. Di ujung semua ini, tugas Kakak adalah menuangkan imajinasi itu ke dalam alur cerita dan karakter yang nyata. - Mengetahui Teori-Teori Menulis
Alah bisa karena biasa, bukan karena teori ini-itu. Namun, penting juga mengetahui teori-teori menulis. Teori akan membantu Kakak menghindari inefisiensi dalam menulis dan meningkatkan keterbacaan tulisan Kakak. Mau diaplikasikan atau tidak, terserah Kakak. Atau bisa saja Kakak memercayai teori setelah tahu praktiknya. - Membuat Riset
Untuk menulis Satin Merah dahulu, saya sampai bolak-balik menjelajah sudut-sudut Bandung, membaca belasan buku Sunda, dan meramban puluhan situs web. Waktu itu, belum ada AI. Buat apa repot-repot riset semacam ini? Untuk menahan cerita agar tidak melenceng (terlalu jauh) dari fakta. Ini penting supaya cerita fiktif Kakak layak dipercaya oleh pembaca. - Latihan Menulis
Bagi yang suka menulis diary atau blog, jangan tinggalkan aktivitas ini. Selain untuk mengeluarkan unek-unek, menulis catatan harian juga berguna untuk melatih kemampuan mengemukakan gagasan secara verbal. Yang penting, teruslah menulis, apapun medianya. - Mengetahui Prosedur Penerbitan Buku
Tidak ada salahnya sedari sekarang Kakak mencari tahu prosedur penerbitan sebuah buku melalui penerbit. Misalnya, editing berapa lama, bagaimana sistem pembayaran royaltinya, dan sebagainya. Supaya Kakak bisa mengatur waktu dan strategi yang lebih tepat.
Rasanya, itu saja untuk tulisan kali ini. Atau, ada yang mau menambahkan?
Thanks ilmu nya. bagus sekali
Saya setuju tuh dengan point nomer 3. Mungkin teori yang dipakai itu maksudnya teknis menulis ya. Bagaimanapun seorang penulis harus tahu teknisnya.
Ya, semacam itu. Buat referensi aja sih, krn tiap penulis pasti punya jurus masing2.
Makasih banyak udah dibagi ilmu 🙂
Semoga ilmunya berguna ya.