4 Cara Praktis Membangun Tokoh Fiksi

Fictional character is like man with the mask

Tidak ada karya fiksi yang tidak punya tokoh atau karakter. Karakterisasi atau proses menciptakan tokoh pun menjadi hal yang krusial. Proses ini tidak terlalu sulit dilakukan. Yang perlu diingat sederhana: tidak ada orang (tokoh) yang sepenuhnya malaikat, sebagaimana tidak ada orang yang sepenuhnya iblis.

Setelah itu, mulailah menuliskan profil tokoh-tokoh Kakak. Nama lengkapnya, jenis kelaminnya, umurnya, hobinya, fisiknya, sifatnya, tujuan hidupnya, dan sebagainya. Makin detail, makin baik.

Lalu, kembangkanlah tokoh-tokoh itu dalam alur cerita Kakak. Karakter-karakter tersebut bisa dikembangkan melalui nama, narasi, dialog, dan pendapat atau sikap tokoh lain terhadapnya. Mari kita bahas satu-satu.

1. Melalui Nama

Pemberian nama bisa berpengaruh pada karakterisasi tokoh Kakak. Contohnya, nama Teguh akan berkesan gigih, kuat mental, pantang menyerah. Sedangkan nama Mini kesannya centil, manja, dan genit.

Namun, saya rasa, penamaan adalah jenis karakterisasi yang paling lemah. Dalam fiksi realis (fiksi-fiksi yang berusaha semirip mungkin dengan kehidupan nyata), kebanyakan nama-nama tokohnya justru bermakna netral. Pembaca tidak bisa menebak sifat tokoh itu hanya dari namanya.

2. Melalui Narasi

Pembentukan karakter fiksi melalui narasi sedikit lebih rumit, tetapi masih relatif mudah dilakukan. Ketika ingin mengenalkan seorang tokoh, sisipkan saja keterangan seperti:

Riana adalah wanita yang terobsesi menjadi yang terdepan. Saat kuliah, ia datang paling pagi, duduk paling depan. Begitu juga saat naik kendaraan umum, ia selalu duduk di barisan terdepan hanya untuk memastikan dirinya tiba lebih dulu dari penumpang-penumpang di belakangnya.

Kakak sebenarnya tidak harus mendeskripsikannya secara langsung seperti itu. Sebab, terkadang pembaca bisa mengenal seorang tokoh dari tindakan, lingkungan, harta benda, atau kombinasi ketiganya. Contoh narasinya begini:

Meski digunakan setiap hari, debu sepeda motor kesayangannya dibiarkan menebal. Riana memang tak pernah punya waktu untuk merawatnya. Seandainya dalam 10 tahun motor itu tak pernah mogok, niscaya selama itu pula ia tak pernah menginjakkan kaki di bengkel.”

Membaca narasi semacam itu, pembaca pasti sudah terbayang seperti apa karakter Riana ini. Ya, kan?

3. Melalui Dialog

Tentu ini berpengaruh sekali pada karakterisasi. Gaya bicara orang yang santun tentu berbeda dengan orang yang suka memaki. Karakter seorang tokoh pun bisa dilihat dari bagaimana ia bersilat logika. Jika Riana hendak Kakak jadikan tokoh yang tidak mau kalah, perlihatkan itu dalam rangkaian ucapannya.

Riana dan temannya sedang beruntung. Mereka mendapat jatah makan siang dari panitia seminar. Satu piza ukuran besar, dan satu lagi ukuran reguler. Tanpa menengok, Riana langsung menyahut piza yang besar dan memakannya.

“Kapan kamu akan belajar bersikap sopan, Riana?” tegur temannya.

“Kenapa? Aku salah apa?”

“Yang lain belum ambil, kamu langsung ambil tanpa permisi. Yang besar pula. Enggak sopan banget!”

“Lo, emangnya kamu sopan?” tanya Riana balik dengan mulut penuh pizza. “Coba, kalau kamu duluan yang punya kesempatan milih kedua kotak piza ini, mana yang bakal kamu pilih?”

“Pizza yang kecil, tentu saja!” jawab temannya mantap.

“Nah,” Riana tersenyum penuh kemenangan, “kenapa sekarang kamu protes? Udah, yang kecil itu emang buat kamu, kok.”

Sekadar catatan, editor terkadang menyunting dialog tokoh-tokoh Kakak sesuai standar umum. Artinya, dialek tokoh Bugis dan tokoh Minang akan diseragamkan dengan struktur dan standar bahasa Indonesia.

Maka hancurlah karakterisasi yang sedang Kakak bangun, hehehe….

Namun, jangan menyalahkan editor juga. Mereka bekerja supaya tulisan Kakak lebih rapi, bernas, dan diterima secara umum (baku). Bila Kakak yakin dialog yang rapi dan umum itu akan melemahkan karakter tokoh Kakak, sampaikan saja.

Si editor mungkin juga akan menyampaikan pertimbangannya. Sehingga nanti, kedua belah pihak akan sampai pada pertanyaan, “Enaknya gimana nih?”

4. Melalui Pendapat atau Sikap Tokoh Lain

Seorang sopir taksi dan penumpangnya terlibat percakapan. Muka penumpang itu tertekuk-tekuk. Dan setelah didesak, ia mengaku baru saja melakukan kesalahan: lupa menghadiri acara ultah anaknya.

Si sopir berusaha menghibur, “Jangan sedih, Pak. Semua orang pasti melakukan kesalahan. Kita, kan, bukan Tony.”

“Tony?” dahi penumpang itu berkerut.

“Iya, si Tony. Sampean ndak kenal Tony? Ia itu pria sempurna. Melakukan segalanya dengan benar. Tanpa kesalahan!”

“Hahaha, mana ada orang kayak gitu, Mas?”

“Lho, piye, to?” si sopir tertawa masam, logat Jawanya terdengar lucu. “Tony itu atlet hebat. Dia menangan kalau badminton. Dia bisa ngimbangi bos-bos main golf. Wawasannya luas. Dia juga punya daya ingat yang kuat. Ingat ulang tahun semua orang. Dia bisa memperbaiki apa saja. Enggak kayak saya yang pas memperbaiki sekring rumah, eh, satu RT mati semua.”

“Kayaknya dia memang istimewa, ya,” penumpang itu tersenyum.

“Woo, ada lagi, Pak! Tony juga betul-betul tahu bagaimana memperlakukan perempuan. Dia ndak akan mendebatnya walaupun dia yang benar. Pakaiannya selalu rapi, wangi,” tutur si sopir panjang-lebar.

Penumpang itu geleng-geleng. “Hebat banget teman sampean itu.”

Sopir taksi menjawab, “Teman? Wah, Tony bukan teman saya, Pak. Bahkan saya ndak pernah ketemu dia. Tony itu kan sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Dan saya menikahi Riana, jandanya.”

Kakak tidak kenal siapa Tony, sopir taksi, maupun penumpang itu. Namun, Kakak bisa menebak bagaimana karakter istri si sopir taksi: sulit dipuaskan, penuntut, suka membanding-bandingkan (mantan suaminya dan suami barunya).

Nah, saya yakin Kakak mampu menciptakan tokoh-tokoh fiktif yang lebih menarik.

Ada cara cepatnya, lo! Mau tahu?

Jadikan diri Kakak salah satu tokoh dalam cerita. Atau sekalian, jadikan diri Kakak tokoh utamanya! Bukankah sudah banyak pengarang yang memasukkan dirinya sebagai tokoh utama kisah-kisahnya? Hanya, Kakak harus punya cerita hidup yang luar biasa untuk mengikuti aliran “narsisme” ini.

Cara gampang lainnya, comot saja profil orang-orang sekitar Kakak. Mungkin teman, saudara, orang tua, bos, atau anak buah.

Namun, untuk menghindari konsekuensi hukum (apalagi kalau ini tokoh antagonis), lakukan beberapa perubahan. Misalnya, ganti namanya, umurnya, kalau ia perempuan balikkan jadi pria, dan seterusnya.

Akan tetapi, jangan mengganti ciri utama orang itu. Jangan pula mengganti sebagian besar cirinya. Karena kalau demikian, apa bedanya dengan Kakak menciptakan tokoh baru dari nol?

Oke. Saya tinggalkan Kakak di sini untuk bereksperimen sendiri dengan tokoh-tokoh Kakak.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

4 thoughts on “4 Cara Praktis Membangun Tokoh Fiksi”

  1. yups bener bangt cara cepat mengetahui siapa karakter superhero adalah diri ini sendiri yang harus jadi pahlawannya.. ahihihi,, mantep ni.. 🙂

    Reply
  2. Itu cara cepat, tanpa perlu mengarang2 lagi. Tp kalau sering2 begitu, hati2 pembaca bosan dan menganggap kita penulis narsis. Hehehe….

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!