Kali ini, mari bicara tentang peranti keras (hardware) paling utama dan berharga dari seorang penulis. AI paling canggih sekalipun takkan berguna jika kita tidak memilikinya. Apa itu? Alat itu bernama… otak! Tepatnya, otak kiri dan otak kanan. Cobalah baca kata-kata di bawah ini:
HIJAU BIRU MERAH
HITAM MERAH HIJAU
KUNING HIJAU HITAM
HITAM BIRU MERAH
Bingung, kan? Rancu, kan? Tanpa Kakak sadari, terjadi konflik antara otak kiri dan otak kanan Kakak. Otak kiri berusaha membaca teks, sementara otak kanan mengotot membaca warnanya.
Namun, jika akhirnya Kakak mengucapkan HIJAU sebagai merah, dan itu juga terjadi pada sebagian besar dari 11 kata yang lain, berarti Kakak adalah right brain people.
Pembagian Otak Kanan dan Otak Kiri
| OTAK KANAN | OTAK KIRI |
|---|---|
| Emosi | Logika |
| Intuisi | Analisis |
| Personal | Matematika |
| Kreasi dan Seni | Bahasa |
| Emotional Quotient (EQ) | Intelligence Quotient (IQ) |
| Bisa membuat sensitif, kurang manajemen, dll. | Bisa memantik sifat egois, arogan, dll. |
Apakah Kakak memperhatikan, kolom otak kanan di sebelah kiri dan kolom otak kiri justru di sebelah kanan? Hahaha, sama sekali tidak ada niat untuk merancukan Kakak lagi. Namun, gimmick-gimmick semacam ini, percaya atau tidak, bisa membantu menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri.
Kedua belah otak kita memang harus digunakan secara seimbang. Jangan terbiasa memforsir otak kiri saja, atau sebaliknya. Sebagaimana otot, bagian tubuh yang selalu digunakan akan makin kuat. Sedangkan bagian otot yang jarang dilatih, seiring bertambahnya usia, akan kian menyusut atau kendur.
Konon, pria terbiasa menggunakan otak kirinya, sementara perempuan cenderung memakai otak kanan. Bagaimanapun, baik Kakak laki-laki atau perempuan, kita tetap bisa membuat penggunaan otak ini lebih seimbang.
Jika Kakak terlalu sering menggunakan otak kiri karena pekerjaan Kakak adalah akuntan, misalnya. Tidak ada salahnya sesekali Kakak mengarang puisi. Sebaliknya, bila profesi Kakak lebih dominan menggunakan otak kanan, seperti pelukis, cobalah sekali-sekali belajar bahasa pemrograman.
Benarkah Otak Tengah Itu Ada?
Begitu pentingnya menyeimbangkan kedua otak ini sampai kemudian muncul wacana baru: otak tengah. Midbrain alias otak tengah berfungsi seperti pengendali otak kiri dan otak kanan.
Ketika aktif, katanya, ia bisa meningkatkan kemampuan mengingat, kreativitas, menyeimbangkan hormon, emosi, juga memunculkan kemampuan ajaib yang tak pernah kita sangka-sangka ada.
Masalahnya, midbrain hanya bisa diaktivasi sebelum seseorang berumur 15 tahun. Jepang ditengarai telah lama melakukan praktik aktivasi otak tengah pada bocah-bocahnya. Seorang anak yang telah diaktivasi otak tengahnya konon bisa memiliki kemampuan lebih, seperti dengan mata tertutup mampu:
- menebak kartu
- bersepeda tanpa menabrak
- mengenali ayahnya di antara kerumunan orang tua lainnya tanpa menyentuh maupun mendengar suaranya
- “melihat” benda di balik tembok atau dalam kotak.
Jadi, anak yang telah diaktivasi otak tengahnya dapat melihat hanya dengan penglihatan kulit (skin vision).
Wow, terdengar seperti fiksi ilmiah! Faktakah ini?
Secara neuroanatomi, otak tengah (mesencephalon) memang nyata sebagai bagian dari batang otak. Fungsinya mengatur refleks visual, motorik, serta kesadaran.
Namun, istilah “midbrain” ini sering masuk ke ranah pseudosains lewat program “aktivasi otak tengah”. Kursus-kursus komersial mengklaim dapat membangkitkan fungsi tersembunyi agar anak bisa melihat dengan mata tertutup. Semua ini tidak memiliki dasar medis, karena otak tengah selalu aktif sejak lahir.
Fenomena membaca tanpa melihat biasanya bersumber dari celah penutup mata atau trik sensorik, bukan bukti ilmiah yang valid.
Yaaaah… hancur, deh, khayalan untuk bisa keren seperti tokoh-tokoh serial Heroes!
Manusia Hanya Memakai 5% Otaknya?
Nah, ini mitos lain yang juga sempat banyak orang yakini selama beberapa dasawarsa!
Saya dulu juga antusias ketika dicekoki info bahwa seumur hidupnya, manusia hanya menggunakan lima atau paling banter sepuluh persen dari kemampuan otaknya. “Wow! Sepuluh persen saja peradaban bisa secanggih ini, bagaimana kalau kita berhasil mengaktifkan 90 persen?” begitulah reaksi spontannya.
Faktanya, klaim bahwa manusia hanya menggunakan sebagian kecil kapasitas otaknya tidak pernah terbukti secara ilmiah. Pemindaian medis modern menunjukkan bahwa hampir seluruh bagian otak aktif bekerja, bahkan saat kita tidur.
Selain itu, otak mengonsumsi energi tubuh dalam jumlah besar. Jika Kakak begadang menyelesaikan tulisan, memeras otak kiri maupun otak kanan, walaupun tidak melakukan banyak gerak fisik, tetap saja Kakak cepat lapar. Itulah bukti otak kita selalu rakus energi dan bekerja keras secara maksimal.
Jika organ sebesar itu memang hanya berguna sebagian kecilnya, evolusi pasti takkan mempertahankannya. Efisiensi akan membuat dari waktu ke waktu volume otak manusia mengecil. Namun, kenyataannya tidak begitu, bukan?
Itulah bukti tersirat bahwa otak kita selalu bekerja penuh dan optimal, bahkan selama 24 jam sehari.
Bagaimanapun, perjalanan mengenali cara kerja organ seberat 1,4 kilogram di dalam tengkorak kita ini tidak akan pernah ada habisnya. Selalu ada kebiasaan baru yang terbentuk, jaringan otak yang terhubung, atau bahkan sisi-sisi tersembunyi dari pikiran kita yang belum sempat dieksplorasi.
Mungkin itulah yang dimaksud dengan “belum dimaksimalkan”.
Di luar perdebatan ilmiah maupun komersial tentang bagaimana batasan kemampuan otak manusia diuji, satu hal yang pasti bagi kita penulis: pikiran kita adalah kanvas sekaligus kuas bagi realitas yang kita ciptakan setiap hari.
Pertanyaannya sekarang, keajaiban seperti apa yang ingin Kakak rancang berikutnya di dalam kepala?
I just know there is mid brain. The function is even more surprise me. Is it real? How to activate it?
It surprises me too. I don’t know the methods, but they say something about music, computer, stimulating colors, and so on.
Ini yang aku cari… Nemu di sini, ternyata.
Hm, “Konon, pria terbiasa menggunakan otak kirinya, sementara wanita cenderung memakai otak kanan. Benarkah? Barangkali. Namun semua itu selalu bisa diubah. Atau diseimbangkan.”
Seimbang, menurutku. Nggak usah nanya alesannya. Kau pasti tau sendiri, Bro.
.-= Rie´s last blog ..Pap, Burung Pipit Itu… =-.
I know, I know, just because you’re a writer you think that your brain is in balance? 😀
Lho, aku ngomong bukan atas nama Rie si penulis, tapi Rie si penganut rievijayisme.
.-= Rie´s last blog ..Pap, Burung Pipit Itu… =-.
Very nice article. Kalo otak ngeres, tuh otak yang mana bro?
Busyeeet, soal ngeres2an ya meneketehe!? Tp kayaknya itu otk kanan deh.
Halah, masa nggak tau, Brahm? Bukannya kamu suka ngeres-ngeresan?
.-= Rie´s last blog ..Pap, Burung Pipit Itu… =-.
halah, rievijayisme, rievijayisme
blog yang bagus.sukses ya mas brahm..
Terima kasih, Pak Djati. Kapan bisa ikut seminar kami lagi, Pak? 🙂 Besok ada, tp di Ngagel.
Win A. itu siapa ya? Kok kayak kenal…pot.
.-= Rie´s last blog ..Pap, Burung Pipit Itu… =-.
HIJAU BIRU MERAH
HITAM MERAH HIJAU
KUNING HIJAU HITAM
HITAM BIRU MERAH
Saya kira semua orang akan membacanya sesuai teks deh. Bagaimana ini bisa menjadi indikasi?
Hohoho, jangan mengira2 dong. Sebelum nulis ini saya sudah eksperimen ke beberapa teman. Dan hasilnya sesuai pendapat para ahli (yg jg melakukan eksperimen sebelumnya), bahwa ada yg “membaca” warna, ada yg membaca teks.
“Bagaimana ini bisa menjadi indikasi?” Itu yg bikin saya bingung. Karena, (1) Saya nggak bilang apa2 ttg indikasi di tulisan ini. Dan (2), saya nggak paham pemahamanmu ttg “indikasi”.
knp belajar otak tengah jd komersial/terlalu mahal. jika semua anak indonesia jd pinter krn diaktivasi, indonesia akan menjadi lebih maju dg generasi yg cerdas. pemerintah aja berusaha menggratiskan pendidikan, kenapa aktivasi otak tengah mahal. apa kah hanya org yg berduit aja yg bisa merasakan. kasihan dong yg pingin belajar tp ndak punya uang.
Biasa lah. Di Indonesia kan ini dianggap inovasi baru. Dijual mahal2. Tp tenang aja, kalau udah agak lawas, pasti murah2 sendiri.