Membangun Tokoh Sadomasokistik

Manohara showing her woundStory of O, Blue Velvet, Secretaire, and many more fictions already tell about BDSM (bondage, discipline, sadism, masochism) life. What about BDSM in real life? I’d been in a BDSM community as a researcher, I see it pretty similar with the depiction on fiction. Regardless the Safe-Sane-Consensual motto within BDSM community, there are three kinds of sadism according to A. Hesnard: criminal (as a psychopath), pervert (as in the novels of marquis de Sade), and moral sadism (as a hazing). If a sadomasochist becomes the first one, that means s/he commits a crime, because it’s usually without consensus among the doer and the victim. It is condemnable. In fiction, many antagonists have been characterized like that. But rarely the second (where the victim likely to be tortured).

* * *

Akhirnya Manohara Odelia Pinot menunjukkan ke publik luka-luka fisik yang ditoreh suaminya, Tengku Muhammad Fakhry, putra Raja Kelantan, Malaysia. Sebelum itu pun sudah banyak orang berspekulasi bahwa Fakhry adalah penganut seks sadis, sadomasokisme. Betapa tidak, perhatikan tuduhan-tuduhan pihak Manohara yang saya kutip dari beberapa media ini:

  • Fakhry memperlakukannya seperti mainan hampir setiap malam. Akibatnya, Mano selalu tegang menjelang jam tidur.
  • Sultan Kelantan itu pernah menyayat-nyayat dada Mano sambil menikmati tubuhnya.
  • Manohara juga mengaku sempat disundut rokok, diseterika, diperkosa.
  • Suami dan bodyguard memberikan suntikan bila Mano melawan atau berusaha kabur. Efek suntikan itu: cepat tidur, muntah darah, dalam empat hari bobot bertambah 10 kg.
  • Wanita 17 tahun itu disuruh akting bahagia di acara-acara publik. Bila meleset dari yang diinstruksikan, hukuman keras menantinya.
  • Mano juga harus menerima perkataan-perkataan kasar suaminya.

Tulisan ini tidak berusaha memvonis siapa yang salah, biarlah pengadilan yang membuktikan itu. Saya hanya ingin menyampaikan bagaimana filosofi sadomasokisme di luar sana, sebagai pembanding. Siapa tahu Anda berminat mengembangkan karakter sado (gemar menyiksa) dan masokis (suka disiksa) dalam karya Anda.

Saya sendiri pernah meneliti komunitas BDSM pada tahun 2005. Jika tuduhan Mano benar, apa yang dilakukan Fakhry jelas dinapasi oleh BDSM (saya akan terangkan apa itu BDSM sebentar lagi). Mungkin tingkatnya sudah 2 atau 1.

“Teorinya kan gini. Tingkat 1, dia 24 jam total untuk BDSM, tak bisa hidup tanpa BDSM. Tingkat 2, seks tanpa BDSM tidak puas, tapi BDSM bukan segalanya. Tingkat 3, BDSM dicari, tapi kalau nggak bisa, ya nggak papa. Keempat, mereka yang sekedar coba-coba BDSM.”
(Wawancara dengan J, penganut BDSM tingkat 2)

Sadomasokisme yang selalu saya percaya sebagai “ruh” BDSM merupakan gabungan dari dua konsep, yakni sadis dan masokis. Kata “sadis” dipakai pertama kali oleh Richard von Krafft-Ebing pada tahun 1886 (Roudinesco, 1997: 934).

Seksolog Austria itu terkesan pada penulis Prancis Donatien Alphonse François de Sade (1740—1814), atau lebih populer dikenal sebagai marquis de Sade. Sudah nonton Quills? Film keren tentang de Sade itu menurut saya kocak, alih-alih mengerikan.

Karya-karya de Sade senantiasa mengeksploitasi wilayah-wilayah kejam dari seksualitas, tapi dalam nuansa yang puitis. Bisa dibilang dia mentor tak langsung dari banyak seniman, sineas seperti David Lynch, penulis semacam Baudelaire, Dali, Genet dan Foucault.

Novel-novelnya, khususnya Cent Vingt Journées de Sodome (1785), Justine ou les Malheurs (1791), La Philosophie dans Le Boudoir (1795) serta L’Histoire de Juliette (1798), merupakan usaha-usaha yang dengan berani mendorong moralitas borjuis ke tingkat yang ekstrim sambil menelanjangi segala kemunafikannya (Welldon, 2003: 17).

Justine dan Juliette sepintas tampak saling berlawanan dari kaca mata Psikologi. Namun sebenarnya, secara terpisah, mereka saling melengkapi. Tokoh Juliette adalah wanita super yang melampaui jenis kelaminnya. Dia memanfaatkan, menyiksa, mengeskploitasi para kekasihnya sesuka hati. Sementara Justine ditampilkan sebagai wanita masokis yang terus-menerus dihina.

“Si masokis adalah revolusionis penyerahan-diri. Kulit domba yang dipakainya menyembunyikan serigala. Penyerahannya memuat tantangan, ketundukannya memuat perlawanan. Di bawah kelembutannya ada kekerasan; di bawah sikapnya yang suka menjilat tersembunyi pemberontakan.”
(Theodor Reik dalam Welldon, 2003: 33)

Istilah “masokis” sendiri diambil dari nama penulis yang lain, Leopold von Sacher-Masoch (1835—1895). Karya-karya bangsawan Austria ini merupakan pencampurbauran tema-tema politik, sejarah, nasionalisme, erotisme, penyimpangan, juga kenikmatan dari penderitaan. Adegan-adegan menunggu, gelisah, penggantungan, penyaliban, dan bentuk-bentuk ketegangan fisik lainnya berserakan dalam novel-novel ini.

Apakah hal-hal semacam ini penyimpangan? Bagi kebanyakan orang sih iya. Tapi sebenarnya istilah “penyimpangan” ini kasar dan menyesatkan (Jackson, 2000: 191). Akan lebih tepat bila sadomasokisme dimaknai sebagai “variasi seksual”.

Istilah “penyakit” pun dirasa kurang mengena dalam menggambarkan sadomasokisme. Seorang psikoanalis Swiss, Carlo Strenger, menolak menurunkan fenomena ini ke dalam kategori-kategori patologis yang harus didiagnosa atau disembuhkan. Bahkan dia mengajak para klinikus untuk berusaha memahami, alih-alih sekadar mengategori-kategorikan.

“Memberikan penilaian-penilaian moral yang simplistik tidak membantu dalam memajukan pemahaman, dan lebih mencerminkan orang yang membuat penilaian ketimbang (orang) yang dinilai. Ritual dan perilaku sadomasokis (justru) adalah solusi bagi berbagai jenis penderitaan psikis.”
(Welldon, 2003: 87, dalam kurung adalah tambahan dari saya)

Dalam perkembangan berikutnya, sadomasokisme menjadi payung dari term yang mengover variasi praktik yang begitu jamak, yakni BDSM. Istilah ini singkatan dari bondage (pengikatan, tali temali), discipline (pendisiplinan, kepatuhan), sadism, dan masochism. Kata “sadomasokisme” sendiri akhirnya lebih sering digunakan untuk ide yang berorientasi pada pain and pleasure.

Siapa sangka, di balik kegiatan yang sangar itu, terdapat pula kode etik. Di sana, misalnya, ada kesepakatan what we do dan what we don’t do antara si submisif dan si dominan.

Menyiksa seseorang tanpa kesepakatan kedua belah pihak bukan sadisme dalam konsep sadomasokisme namanya, tapi penganiayaan biasa. Itulah konsekwensi logis dari kata “konsensual” dalam semboyan BDSM. Motto utuhnya berbunyi SSC, yaitu safe (aman), sane (waras), dan consensual (berdasarkan kesepakatan).

Nah, dalam kasus Manohara, wajarlah bila dia berencana melayangkan tuntutan dan gugatan cerai. Apalagi kata Manohara, keluarga kesultanan sebenarnya tahu perilaku Fakhry, namun membiarkan saja.

Manohara bukan seorang masokis, jadi yang dilakukan Fakhry jelas di luar kesepakatan, tidak consensual. Artinya, ini sadisme sepihak, bukan pasangan sadomasokisme. Menurut A. Hesnard (dalam Jameux, 1990: 469), sadisme terdiri dari tiga jenis:

  1. Les Grands Sadique Criminels. Sadisme psikopatis begini sangat berbahaya dan tidak ada keraguan untuk menyebutnya sebagai kriminalitas. Umpamanya, penyiksaan, pemerkosaan, mutilasi, dsb. Delik semacam inilah yang rupanya akan digunakan Manohara untuk menggugat pangeran Kelantan itu.
  2. Les Petits et Moyens Sadique Pervers. “Korban” di sini sadar sepenuhnya dan rela menerima perlakuan kejam, persis dengan penggambaran tokoh-tokoh di novel-novel de Sade.
  3. Les Sadique Morals. Contohnya pelecehan, perpeloncoan, praktik menakut-nakuti orang, dsb.

Dari ketiganya, hanya yang pertamalah yang sia-sia bila dihubungkan dengan BDSM. Mereka tidak lebih dari sekedar pemerkosa-pembunuh yang menjadi berita utama di koran-koran (Jackson, 2000: 210). Meskipun, yah, tak jarang para BDSMer (penganut atau praktisi BDSM) melakukan kesalahan sehingga terjebak juga dalam situasi-situasi kriminal serupa.

“Bandingkan permainan S/M dengan olahraga kontak misalnya sepakbola atau aktivitas beresiko tinggi seperti panjat gunung, dan pikirkan tentang cedera macam apa yang biasa terjadi, apa yang serius tapi mencelakakan, dan macam apa yang mengindikasikan seorang pemain yang tidak layak atau lepas kendali.”
(Moser, 2000: 123)

Dunia yang gelap dan penuh ketakterdugaan. Menarik untuk diangkat ke karya fiksi.

Namun sekadar mengingatkan, sudah banyak fiksi yang antagonisnya dari kaum BDSMer. Misalnya Story of O, Blue Velvet, atau Secretaire. Jadi Anda harus lebih berhati-hati supaya tidak terjebak dalam keklisean. Tantangan berikutnya: mengangkat tema sadomasokisme tanpa terjebak menjadi karya pornografik. [photo by Irfan Maullana, from Kompas]

THEORITICAL REFERENCE

  • Jackson, Eric. Seks dari Ujung ke Ujung (terj.), Abdi Tandur Jakarta: 2000.
  • Jameux, Dominique. Sadisme et Masochisme, dalam “Encyclopædia Universalis (Corpus 20)”, Encyclopædia Universalis France S.A.: 1990.
  • Moser, Charles. Perawatan Kesehatan tanpa Rasa Malu (terj.), Prestasi Pustakaraya Jakarta: 2000.
  • Roudinesco, Elisabeth dan Michel Plon. Dictionnaire de la Psychanalyse, Librairie Arthème Fayard Paris: 1997.
  • Welldon, Estela V. Sadomasokhis (terj.), Pohon Sukma Jogjakarta: 2003.
BAGIKAN HALAMAN INI DI

35 thoughts on “Membangun Tokoh Sadomasokistik”

  1. Wiii.. Warungfiksi bahas topik dewasa, ya?

    Yang saya cukup terkejut, ternyata di Asia ada juga yang kayak gini. Asia Tenggara, lagi. Katanya adat timur.

    Cheers,
    Aleena

    Reply
  2. Iya. Emang kan sesuai segmen Wufi, 15 tahun ke atas, hehehe. Eits, jangan salah, mau Asia kek, Eropa kek, Afrika kek, semua punya kultur seperti ini. Memang, cikal bakalnya dari Afrika. Kamu pasti jg terkejut kalau aku bilang, komunitas yg kuteliti, ternyata orang2nya nggak sangar. Profil mrk rata2 di luar perkiraan: guru, wirausahawan, pemandu wisata, pegawai. Penampilan dan gaya bicaranya pun biasa2 aja. Mrk jg orang2 yg friendly. Yg ngeri itu mrk yg nggak kenal kode etik (cenderung kriminal). Banyak deh kisah, pokoknya. Tp ingat, aku cuma peneliti lho, bukan pelaku.

    Reply
  3. Brahm takut amat dituduh pelaku…. Santai aja, kita percaya kok, Brahm anak baik2, ga aneh2 😉
    Buat Aleena, yang namanya orang sadis tuh ga bisa dibedain dari tempat dan asal-usulnya. Kalo emang udah gila ya gila aja, ga usah liat adat-istiadatnya. Misalnya orang Jerman yang di buku2 humor digambarin bengis, ternyata di negaranya sendiri mereka sopan banget, lebih sopan daripada bangsa Eropa lain dan (mungkin) Indonesia…. Eh, ngelantur lagi…..

    Reply
  4. Hehehe, soalnya dulu pas sedang menggarap dan mempresentasikan laporan (dg begitu menghayati), aku dikira termasuk bagian dari mrk. Yah, aku memang masuk komunitas BDSM selama berminggu2. Kan metode penelitiannya mengharuskan aku berbaur dg mrk, shg bisa berpikir dan bertindak spt mrk.

    Iya, iya, semua tergantung orangnya. Percayalah, kiblat keanehan bukan lagi barat melulu.

    Thx, Pasha. Msh nge-band ya? 😛

    Reply
  5. Jadi Brahm sempat ketar-ketir juga, dong? Takut disuruh praktek (kan supaya bisa berpikir dan bertindak seperti mereka?)di depan anggota komunitas gila itu ya? Amit2, untung aja Brahm selamat sampe sekarang. Jangan marah ya, Brahm…. Saya kan peduli sama Brahm, biar blog ini bisa ada terus…. Moga2 tokoh sadomasokistik ga nambah lagi di dunia, cuma nambah di karya2 fiksi….

    Btw, emang susah jadi orang keren, difitnah yang aneh2 (nge-band, jualan kertas). Aslinya saya tuh jualan jengkol. Pelanggannya cuma dua, rie dan Brahm 😀

    Reply
  6. Brahm, di CCCL ada bukunya Christian Prigent nggak? Busyet, itu buku edan banget. Pasti kamu suka. Katanya sih ttg sa-do-ma-so-kis-tik. Halah, susah banget.

    Oh, Pasha itu jualan jengki… Rie mana yg jd pelanggan? Bukan aku, kali. Aku kan doyannya pete.

    Reply
  7. Hahaha, awalnya ada kekhawatiran itu. Tp ternyata mrk santai dan menyenangkan. Kami pun senda gurau biasa, nggak ada yg mengkhawatirkan, kecuali wajahku yg (kayaknya) jd sering merah jambu dengerin penuturan demi penuturan yg blak2an.

    Christian Prigent kyknya ada. Tp kartuku udah habis di sana, Rie. Lagian aku nggak sedang meneliti lg BDSM kok.

    Reply
  8. Biasanya yg bahas gini Psikologi ya? Tp aku jurusan Komunikasi. Yg aku bahas bukan orangnya kok, tp pertukaran simbol dari subyek penelitian (anggota2 komunitas BDSM). Pakai teori Fenomenologi –> Simbolik Interaksionis –> (Metode) Participant Observation. Seingatku gitu. Udah lama sih. Lupa semua.

    Reply
  9. Aduh, Brahm ngasih istilah yang rumit2 kaya lagi baca review film di koran2. Tapi kalo ga salah ada perempuan penulis yang ngangkat tema masokisme (namanya lupa). Dulu… pas Ayu, Djenar, Dewi dkk lagi booming. Merinding juga bacanya, ada cowok yang bodinya ‘dilukis’ ama tante2 pake alat2 yang tajem2. Duh, kok ada ya, yang bisa nulis kaya’ gitu? Bikin kita takut aja.

    rie, dah punya pacar ato suami apa belum? Nanya aja… Kalo belum, makan jengkol eh makan pete bareng, yuk?

    Reply
  10. Makanya, Pasha, jgn main2 sama perempuan. Itu juga tuh, ngapain ngajak makan pete bareng? Pete itu udah jd masa laluku. Apalagi grup band Pete Pan udah ngebosenin skrg. Terus, penyanyi Pete Cetera udah nggak pernah kedengeran nyanyi lagu2 baru lg. Udah, adios pete. Makan kol juga aku nggak gitu suka, jd jgn hrp aku makan jengkol. Aku sukanya buncis, jd cocoknya makan jengbuncis. Tp ini nggak ada hubungannya sama Jeng Kellin ya, krn kellin bukanlan nama sayuran.

    Reply
  11. rie lucu juga….Baru juga sehari dah ganti hobi, jadi doyan buncis. Jangan2 gara2 buncis, jadi ngelantur. Diajak makan pete bareng jadi ngomongin musik dan komedi 😀 Jangan marah ya, becanda aja kok…. Kalo ga mau makan bareng, ya udah….

    Ngomongin sadomasokistik (susahnya ngeja kata ini), emangnya bisa nyerempet2 ke pornografi, ya? Soalnya, waktu saya baca novel yang saya sebut sebelumnya (itu… yang isinya tante2 ‘ngelukis’ bodi seorang cowok pake alat2 tajem), saya ga ngerasa bahwa itu porno. Yang ada cuma ngeri kaya’ lagi nonton Pet Cemetery. Duh, siapa ya, nama penulisnya? Yang pasti ceritanya ‘ajaib’ banget.

    Reply
  12. Weee, kok tambah ngelantur nih ditinggal dua hari ….

    Iya, Pasha, judulnya Ode apa gitu. Yg nulis berjilbab, kayaknya. Kamu punya? Pinjem dong. Aku penasaran aja. Sadomasokis emang jurusannya ke seksualitas. Besar kemungkinan terjebak ke pornografi, kalau nggak hati2. Catatan: sadis tanpa motivasi seksual bukanlah sadomasokisme namanya. Contoh: Michelle di Malaysia yg suka menyiksa TKW Siti Hajar, ini bukan sadomasokisme.

    Reply
  13. Yg ngelantur siapa, Brahm? Pasti Pasha, ya kan? Krn kamu tau aku kayak gimana hehehe. Yg pasti, buku itu judulnya bukan Ode To My Family, krn itu adalah lagunya The Cranberries. Lagian nggak mungkin juga Ode To My Family nyeritain sa-do-ma-so-kis (smp kpn aku susah nyebut istilah ini?). Dan yg lbh pasti lg, sa-do-ma-so-kis memang bikin ngeri.

    Reply
  14. Ga punya bukunya, sori ya…. Dulu cuma baca punya temen jaman kuliah dulu, itu juga pas lagi main ke rumahnya. Makanya ga inget judulnya. Apalagi kalo pas bagian serem2, saya lewatin aja. Eneg aja baca yang gituan, mendingan nonton (loh, bukannya tambah parah? :D) Yang nulis jilbab, ya? Wah, jilbab ternyata ga menghalangi buat ngayal yang serem2, ya? Eits, bukan maksudnya nyinggung jilbab, ya….

    Reply
  15. Bukan kamu kok yg ngelantur, Rie. Kamu mah selalu fokus berada pada relnya (soalnya masinis, hahaha).

    Aku justru cari bacaan yg serem2. Soalnya sulit, menurutku, membuat pembaca merasa ngeri. Kalau film kan masih bisa ditambahi efek2 suara yg mengagetkan. Lha kalau novel? Murni skill si penulis.

    Reply
  16. Baru tau, rie ternyata masinis. Keretanya melayani trayek mana aja, rie?

    Brahm, jangan kebanyakan baca buku serem2, ntar ketularan jadi serem loh. Pas baca buku itu saya ngerasa serem mungkin karena sangking menghayatinya, sampe ga berani baca bagian yang nakutin itu. Padahal, menurut temen saya yang punya buku, dia biasa aja. Saya aja kali, yang takut banget, gimana kalo apa yang tertulis di buku, saya yang mengalami? Wadow, amit2, ntar kaya’ Manohara atau lebih gila lagi, kaya’ David Carradine. Tatuuut….

    Btw, kaya’nya yang sibuk ngoceh di sini hanya kita bertiga : rie, Brahm dan saya. Yang lain pada ke mana, ya?

    Reply
  17. Nggak apa2, Pasha, bertiga juga. Biar bertiga, kereta pasti jalan terus kok. Kan aku masinisnya. Ayo, kamu mau ke mana? Nanti aku antar hehehe.

    Reply
  18. Makasih rie, saya di sini aja. Males ke mana2.

    Eh, Brahm, maaf2. Fokus…. Tapi sebenarnya mo nanya, ada postingan baru ga? Kaya’nya tema ini udah kegusur sama kasus KDRT Cici Paramida. Eh, fokus, fokus, jangan ngelantur lagi!

    Reply
  19. Cici Piramida kan KDRT (atau kriminal biasa), bukan BDSM. Jd, beda dong.

    Ada sih postingan baru hari ini, tp topik yg kental dg nuansa penulisan (internasional). Kali ini pasti fokus deh. ^_^

    Reply
  20. ihh…mas brahm porno, aku suka tapi klo nyerempet2 begini….sekarang aku tau mas brah udah lebih dewasa….muachh….

    Reply
  21. yupp…, saya masih menjadi Fighter hingga hari ini, rasa sakit adalah bentuk lain dari kenikmatan bagiku. jiakakakak, praktek BDSM sich tidak seberapa dengan rasa sakit yang diderita orang – orang pedesaan, orang – orang pinggiran.

    Di alam ini pada kenyataannya, wujud Master dan Slave adalah komposisi Utama dari alam toch?.

    kalau ngerasain sakit itu yang membuat saya merasa begitu sensasional.

    kamu pernah ikut praktek Brahm?

    Reply
  22. rasanya seperti OKB kalau permainan BDSM sudah selesai, padahal kenyataan rasionalnya saya masih begitu saja. semuanya menjadi terasa baru. baru kemarin saya merasakan itu ini……

    Reply
  23. jika serigala jinak terus menerus diikat, di akan sangat brutal menyerang orang tak dikenalnya.

    tetapi jika anda melepasnya sesekali di tidak begitu brutal dalam kehidupan sehari harinya.

    begitu juga dengan the beast seperti saya, nach itulah alasan kenapa saya Ctar!! .. Ctar…!, tapi juga ramah hangat, tremor dan mild . jiakakak……

    Reply
  24. Oh, jelas. Praktik BDSM nggak seberapa dengan rasa sakit yang diderita orang2 pedesaan, orang2 pinggiran. Orang2 itu menderita karena tdk berdaya. Sementara seorang masokis menderita dg sengaja (dia sebenarnya berdaya), tp pasrah utk menerima penderitaan, justru utk memperoleh kenikmatan.

    Kebanyakan masokis yg aku temui pas penelitian adalah pria. Nggak tahu kenapa, di Indonesia sedikit banget masokis wanita. Atau emang nggak mau muncul? Kamu jg pasti serigala jantan kan? Serigala jantan dari Bandung?

    Reply
  25. Nice to see your review about bdsm and research it.love it.

    Aku slh satu pelaku/ praktisi bdsm . Peran aku sbg dominant wanita , biasa dipanggil Mistress..

    Kalo ad Master / tuan ( panggilan tuk cowo dominant ) .pasti ad wanita dominan jg yaitu Mistress./ nyonya/ tuan Putri/ Ratu..tapi aku lbh suka dipanggil Mist or Mistress drpd panggilan yg lain.

    Kdg definisi peran bdsm , msh ad kurangny..kurang 2 yaitu peran mistress dan submisive..mkny kdg2 lucu kalo bdsm wannabe panggil ak dgn sebutan master..

    Pdhl Master itu panggilan buat laki2 dominan..hihij
    Aniwei thx dah menjadikan bdsm sbg riset.

    Update terbaru..bdsm udh dibahas dan ditayangjan di stasiun tv nasional indonesia sbyk 2x.. tahun 2012 dan 2013.. dan masuk di pementasn seni slh satu kampus jkt thn 2013.. itu semua adl aku sbg narasumber mereka..
    Baru2 ini ada kampus di jatim bahas mslh bdsm dr sisi psikologisnya..

    Reply
  26. Terima kasih udah berkomentar, Mistress Mawar. Orang mana? Sekarang aku udah jarang update dunia ini, hehehe…

    Yang paling susah dicari dalam penelitianku waktu itu, juga dalam komunitas, adalah submissive cewek. Kenapa ya? Mungkin karena submssive, mereka low profile alias pemalu. Tapi kok ada yang bilang, justru gampang cari f-sub. Gagal paham deh.

    Reply

Leave a Comment

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No right-click, please!