
Ada yang berpendapat, menulis itu mudah. Namun, ada juga yang mengatakan susah. Hm, yang benar yang mana?
Kalau kita menganggap menulis adalah menuangkan gagasan atau perasaan ke dalam bentuk tulisan, tentu yang benar adalah “menulis itu mudah”.
Jika pengertiannya seperti itu, semua orang pasti bisa menulis. Apalagi di era AI seperti sekarang. Kakak tinggal menceritakan pengalaman sehari-hari, opini, khayalan, atau keinginan. Tak perlu memikirkan bagus-tidaknya ide itu, menyentuh emosi pembaca atau tidak, bahasanya rapi atau tidak. Tulis saja terus, maka Kakak layak dipanggil penulis.
Bagaimanapun, menulis bisa jadi tidak hanya sebatas itu. Pengertian kedua menulis, sebut saja begitu, adalah kegiatan membuat tulisan dengan melibatkan perasaan sekaligus pikiran, otak kanan sekaligus otak kiri. Seorang penulis dengan standar ini akan selalu bersedia “membuang” waktunya untuk mengurus:
- Riset cerita. Biasanya yang diriset adalah latar (tempat atau waktu), tokoh (karakter psikologis atau sosialnya), dan alat-alat yang tampil di cerita. Caranya? Bisa dengan diskusi atau konsultasi ke orang yang tepat, observasi ke TKP, membaca buku atau media, menonton film, meramban internet, dan sebagainya. Tujuannya satu: menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyakinkan bila dijawab hanya oleh imajinasi.
- Logika cerita. Meliputi penentuan genre (agar tahu gambaran logika apa yang dipakai) dan pendefinisian keajaiban. Tokoh utama selalu punya “sesuatu” yang mestinya membuat pembaca respek (kalau tidak punya, pecat saja ia sebagai tokoh utama). Namun, jangan pula munculkan “sesuatu” itu secara tiba-tiba, misalnya, pada saat tokoh utama terdesak. Kakak perlu mendefinisikannya pelan-pelan sejak bab-bab awal.
- Inovasi cerita. Bisa saja dari temanya, tokohnya, alurnya, gaya penuturannya, atau lainnya. Contohnya, cerita dengan sudut pandang orang pertama (“aku”), tetapi di akhir cerita pembaca memergoki bahwa tokoh utama sekaligus narator itu ternyata orang gila yang tidak bisa dipercaya. Bisa dibayangkan geramnya pembaca. Namun, bila penyampaian ceritanya cantik, bukan mustahil pembaca malah berdecak kagum membacanya.
Terdengar sulit? Itulah mengapa sebagian orang menganggap menulis itu sulit. Pasti itu karena ia menjadikan pengertian kedua sebagai patokan.
Tidak salah juga kalau ada yang bilang menulis itu mudah. Pasti ia menggunakan patokan pengertian menulis yang pertama.
Apapun pilihan Kak, silakan gas. Yang terpenting, sebagai penulis bisa harus merasakan objek tulisannya sedalam-dalamnya, bersedia berlatih sesering-seringnya, dan membaca sebanyak-banyaknya.
Apa kekurangan & kelebihan dari masing** tipe penulis itu ?
Tipe pertama
Kelebihan: nggak perlu capek-capek mikir soal bagus tidaknya tulisan. Tinggal tulis yang mau ditulis, dan tulisan bisa cepat selesai.
Kekurangan: penggarapannya kurang menantang, krn toh cuma tinggal menulis, tidak perlu berpikir atau bergerak ke sana kemari untuk mencari referensi atau membuat riset.
Tipe kedua
Kelebihan: lebih menantang menggarapnya. Apresiasi hasilnya pun lebih membanggakan. Tentu krn proses penggarapannya tidak mudah.
Kekurangan: kalo tidak bisa mengolah ide dengan baik dan kreatif, hasilnya kurang memuaskan. Hal ini juga sebetulnya berlaku utk tipe pertama. Kalo cerita atau idenya tidak menarik, siapa yang mau membaca?
nice article… saya percaya sama yg namanya inovasi
like my fave author, Seth Godin, always said “We’re all (creative people) designer now…”