Mana yang lebih membuat Kakak bangga: disebut orang cerdas? Orang kreatif? Atau orang inovatif? Bisakah kita menjadi kreatif dan inovatif dalam waktu bersamaan?
Orang sering rancu dan menganggap orang pintar pasti kreatif, orang inovatif pasti cerdas, atau orang kreatif pasti inovatif. Bisa saja itu terjadi, tetapi seringnya tidak demikian. Jadi, beruntunglah Kakak jika memiliki tiga kualitas ini sekaligus.
Antara Cerdas, Kreatif dan Inovatif
Sebelumnya, mari kita urai satu per satu apa itu cerdas (intellectual), kreatif (creative), dan inovatif (innovative).
- Orang cerdas adalah mereka yang terampil menyerap informasi. Ketika Kakak mampu mengambil ilmu pengetahuan dari buku atau suatu peristiwa, berarti Kakak termasuk cerdas.
- Orang yang kreatif adalah mereka yang mampu melihat hal yang sama tetapi berpikir beda. Kreativitas menghasilkan perbedaan yang membuat peluang baru terbuka.
- Orang inovatif adalah mereka yang mampu menemukan nilai dari kreativitas.
Jika Kakak ingin menjadi orang cerdas, asahlah otak dengan belajar. Misalnya, dengan kuliah sampai S-3. Banyak-banyaklah membaca buku, media massa, menganalisis, meneliti, membuat laporan ilmiah, menghadiri simposium, dan semacamnya.
Bila kreatif dan inovatif yang menjadi tujuan, berlatih adalah kata kuncinya. Tersedia beberapa metode untuk melatih dua kualitas itu, salah satunya dengan lateral thinking.
Jangan Selalu Hubungkan Inovatif dan Kreatif
Masih banyak yang menyamakan kata “kreativitas” dengan “inovasi”. Kreatif tidak selalu bergandengan arti dengan inovatif. Meskipun seringnya sejalan, keduanya jelas beda.
Perhatikan tabel ini:
Kalau kita analogikan dalam produksi karya fiksi, kepintaran berfungsi untuk mengembangkan cerita secara cerdas dan berwawasan.
Kreativitas berfungsi untuk menciptakan alur, tokoh, atau konflik yang tidak pasaran. Sedangkan inovasi berfungsi untuk mengubah karya itu menjadi best seller atau box office.
Sampai detik ini, saya masih berpendapat menjadi inovatif lebih sulit daripada menjadi kreatif. Pasalnya, proses inovasi harus melewati berbagai hambatan, antara lain karena:
- konsumen dan produsen yang enggan berubah
- infrastruktur yang belum mendukung
- bisa saja berbenturan dengan strategi perusahaan (dalam contoh ini penerbit atau PH)
- politik perusahaan atau manajemen
- marketing
- dan sebagainya.
Bedah novel petualangan yang diadakan di atas kapal pesiar barangkali adalah ide sensasional. Dahsyat! Super! Luar biasa!
Nah, ketika Kakak tidak mampu meyakinkan penerbit atau pihak sponsor, ide kreatif itu gagal terwujud, alias gagal menjadi inovatif. Makan tuh dahsyat, super, luar biasa!
Inovasi memang lebih kompleks dari kreativitas. Namun, apakah itu berarti inovasi lebih penting? Tidak juga. Karena kreativitas dan kecerdasanlah yang menjadi cikal bakal inovasi.
wow…
keren tulisannya
sy lbih suka kreatif
Tapi orang inovatif biasanya kaya lho, Ris. Sementara orang2 kreatif cenderung bertahan dg idealismenya.
skrg sih sy lg jd org kreatif. sbisa mgkin.
mga ja jadi inovatif.
Aku bangga menjadi anak yg cerdas, kreatif dan inovatif.
Sama, Ris. Aku juga! Hehehe ….
Rie, itu namanya nggak fokus. Kalau kamu blm sukses tp nggak fokus dg tujuanmu, orang menyebutmu “serakah”. Tp kalau kamu sudah sukses di satu bidang lalu mencoba nggak fokus dg tujuan awal, orang biasa menyebutmu “ekspansif”. Hahaha, bahasa selalu digunakan secara nggak adil.
Lho, kan bertahap, Brahm. Cerdas dulu, terus kreatif, kemudian inovatif. Bisa kan?
Bisa. Asal rajin berlatih dan minum susu setiap hari, hehehe.
wah ketinggalan obrolan lg nih.
enak deh bacanya asyiik kita bisa juga kreatif dan inovatif yang penting selalu mau mencoba sampai bisa trims. langsa 19 jan 2012
Kalo penulis asli solo bolehkah naskah lngsng dikirim ke kantornya..biar ngirit