3 Hal Simpel Yang Membuat Editor Buku Disayang Penulis

3 Hal Sederhana Yang Membuat Editor Buku Istimewa di Mata Klien

Di luar kemampuan teknis dan wawasan yang memadai mengenai tema buku yang diedit, ada tiga hal sederhana yang membuat seorang penyunting atau editor buku tampak lebih profesional. Jika dilakukan ketiganya, niscaya hasil editannya pun lebih istimewa. Sehingga, ia akan lebih disayang dan dicari-cari oleh penulis.

Ini berlaku, baik untuk editor inhouse (yang bekerja rutin di penerbit) maupun penyunting lepas. Apa saja ketiga hal tersebut?

(1) Memperlakukan Naskah sebagai Karya Sendiri

Dengan menganggap karya klien sebagai naskah yang kita tulis sendiri (tentu saja bukan dalam arti sebenarnya), secara refleks, kita akan melakukan hal-hal yang positif. Kita akan mengeluarkan kemampuan terbaik (going the extra mile), sehingga hasilnya pun akan melebihi ekspektasi klien (over deliver).

Cobalah edit naskah klien seolah-olah itu punya Kakak sendiri. Mulailah dari memeriksa ulang semua fakta, data, dan informasi yang terketik di naskah itu. Pastikan naskah yang Kakak edit menjadi benar-benar valid dan bisa dipercaya.

Lanjutkan dengan menerapkan proses penyuntingan bahasa, agar tidak ada kesalahan tata bahasa maupun ejaan. Periksa kata-kata, kalimat-kalimat, paragraf-paragraf, sampai logika-logikanya. Jaga jangan sampai ada bagian yang inkonsisten atau bermakna ganda.

Lalu, baca lagi untuk memeriksa apakah naskah sudah mengalir dan enak dibaca? Apakah masih ada bagian yang membuat proses membaca tersendat dan pembaca mengernyitkan dahi? Baca dan baca lagi!

Semua kerepotan ini takkan mungkin rela kita jalani, bahkan sebagai editor profesional, manakala kita tidak menganggap naskah itu sebagai karya sendiri.

(2) Memosisikan Diri sebagai Penulis Kedua

Selama kita hanya membatasi diri sebagai editor, fokus kita kemungkinan besar akan tertuju pada perbaikan naskah saja. Takkan ada pemikiran untuk mengembangkan naskah itu hingga mencapai bentuk terbaiknya.

Memosisikan diri sebagai penulis kedua hampir sama dengan memperlakukan naskah klien sebagai milik sendiri. Hanya, kali ini dengan kesadaran bahwa ada mitra penulis atau co-writer yang juga sedang berusaha menyempurnakan karya ini.

Memang benar, penulis (yang sebenarnya) biasanya sudah membawa ide dan konsepnya sendiri. Namun, bukan berarti Kakak dilarang mengusulkan sesuatu agar naskahnya bisa menjadi lebih menarik.

Selama masih jauh dari tenggat dan bukan hal yang sangat mendasar (yang bila dituruti akan berujung pada perombakan besar-besaran), ide-ide baru masih terbuka. Mulai dari saran mengenai cara penyampaian, perluasan tema, sampai ide-ide di luar teks buku seperti rencana promosi.

Tidak ada salahnya seorang editor memberi saran, “Kak, novel thriller ini bisa lebih relate kalau menyenggol kasus pembunuhan yang belakangan viral. Kebetulan mirip banget, lo, motifnya. Siapa tahu Kakak mau sedikit menghubungkan alurnya ke sana.”

Atau, “Sekadar saran, bagaimana kalau Kakak menambahkan ilustrasi lain di bab 5. Ini, kan, kita mau menjelaskan bagaimana Bitcoin yang enggak jelas penciptanya itu bisa dipercaya banyak orang. Babnya panjang banget, Kak! Kalau penjelasan teks doang, pembaca bisa bosan. Apalagi target pembacanya remaja.”

Ajaklah penulis untuk berani mengambil risiko dan mencoba sesuatu yang baru. Yang penting, jangan terlalu memaksakannya. Kalau sudah menyampaikan saran-saran terbaik kita, tetapi pihak lain kurang menyambutnya, saatnya legawa dan mengucap dalam hati, “Ya sudahlah, enggak apa-apa juga.”

(3) Ikut Menjaga Nama Baik Penulis

Warung Fiksi pernah menurunkan tulisan tentang analogi industri sepak bola dan penerbitan. Intinya, editor itu ibarat pelatih, dan penulis itu ibarat pemain bola. Dalam hubungan keduanya, wewenang pelatih lebih tinggi dibanding murid.

Meski belum tentu juga seorang pelatih lebih pintar atau lebih sukses dibanding anak didiknya, ia tetap harus selalu memberikan ilmunya. Sebab, memang demikianlah tuntutan profesinya.

Seorang pelatih juga pastinya akan mempertimbangkan perasaan anak didiknya saat “melatih”. Jangan asal hantam di lapangan. Jangan pula membocorkan “aib” pemainnya sendiri di luar lapangan atau media sosial.

Nah, ini juga berlaku bagi editor.

Sayangnya, di medsos, ada saja penyunting penerbit yang atas nama pembelajaran memasang status, “Gue lagi nanganin penulis yang tulisannya bikin migrain, nih! Masa dia bikin alur begini, lalu begitu, dan ternyata akhirnya begono. Kan, kocak! Mana pas gue kasih tahu baik-baik, dia beralasan begene lagi! Duh, pengin gue kremus rasanya!”

Apa, sih, tujuan editor-editor itu mengumumkan hal-hal semacam itu? Agar terlihat kalau ia jago? Editor yang bisa bekerja? Levelnya jauh di atas penulis yang ia tangani?

Walaupun status sindiran itu anonim atau no mention, kalau penulis itu kebetulan membacanya, kira-kira bagaimana perasaannya? Bisa jadi ia tersinggung, marah, dendam kepada editornya, malu, atau malah mentalnya hancur. Lebih banyak risiko negatifnya ketimbang positifnya!

Maka, hindarilah hal-hal semacam itu! Jika harus mengkritik, sampaikanlah secara personal. Kalau tidak perlu sekali, jangan menjadikannya studi kasus atau membicarakan keburukan atau menertawakannya di depan orang lain.

Ingat, menggosipkan “keburukan” orang itu dosa, Bro! Lagi pula, ini industri penerbitan, bukan infotainment, Sist! Drama itu cukup terjadi di halaman-halaman novel.

Beda lagi kalau menggunjingnya untuk tujuan profesional, misalnya bersama editor kepala di penerbitan yang bersangkutan. Itu namanya pergunjingan yang diperlukan. Diperbolehkan selama tujuannya untuk kebaikan bersama dan tanpa ada risiko mempermalukan si penulis di depan publik.

Bersedia Melakukan 3 Hal Itu?

Memperlakukan naskah klien sebagai karya sendiri, memosisikan diri sebagai penulis kedua, dan ikut menjaga nama baik penulis adalah tiga hal yang sederhana. Namun, tidak semua editor buku mau melakukannya.

Ini seperti etika saja. Etika bukanlah hukum positif. Tidak ada konsekuensi besar apa-apa jika kita mengabaikannya. Namun, jika memang mencintai profesi editor, tentu Kakak akan siap, bahkan sudah terbiasa melakukan ketiganya. Dengan kebiasaan tersebut, bersiaplah menjadi editor favorit para penulis.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

Leave a Comment

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!