Give that Monkey to the Publisher

monkeyDo you ever feel nothing you can do about your own finished draft, but you know that you need something to improve it somehow? This is not a writer’s block because you have passed the writing phase. This is editor’s block! What are you going to do now? Well, maybe it’s time to give the monkey to the publisher. The … what?

The monkey, it’s not a negative term (in fact, the monkeys are cute in my opinion). This is management term. First coined by William Oncken Jr. and Donald L. Wass on classical Harvard Business Review to symbolize task, trouble, project, or things like that. You have to feed it, raise it, play with it.

The more you keep the monkey (which means your own work), the more you get burdened. So after you have done your best, give the monkey to the publisher! It has always employees to deal with such task. While the publisher itself is subject to kill your monkey anytime by saying, “We are sorry, your draft does not suit our publishing standard”, at least, you’ll get relief for a while.

* * *

Pernahkah Anda merasa sudah mentok mengedit buku Anda sendiri? Diapa-apakan tidak jalan. Ini bukan writer’s block, karena Anda sudah masuk tahap penyuntingan. Ini editor’s block! Apa yang Anda lakukan? Kalau saya, saya akan menyerahkan monyet itu ke penerbit. Monyet? Yah. Tapi tolong, jangan mengartikan monyet sebagai sesuatu yang jelek atau negatif.

Ini tak lebih dari sekadar istilah dalam manajemen. Pertama diperkenalkan melalui artikel klasik Harvard Business Review “Who’s Got the Monkey”, oleh William Oncken Jr. dan Donald L. Wass. Monyet adalah metafora dari tugas, masalah, atau proyek. Orang yang diberi tugas, ibarat diserahi monyet untuk memberinya makan, membesarkannya, mengajaknya jalan-jalan, menggendongnya. Tentu saja ini semakin lama semakin memberatkan.

Maka begitu Anda dikasih monyet oleh bawahan atau bos Anda, ada beberapa pilihan. Anda bisa mengatakan bahwa tanggungan Anda saat ini sudah terlalu banyak (menolak menerima monyet), mengalihkannya ke kolega Anda (melempar kembali monyet itu), menerimanya lalu tidak mengerjakannya hingga tenggat (membiarkan monyet itu mati), atau pilihan yang paling lazim: menerimanya dan setelah selesai menyerahkannya kembali (mengembalikan monyet).

Kembali ke masalah awal. Mentok mengedit. Kritikan-masukan proofreader sepertinya belum bisa membuka mata kreatif Anda. Benar-benar tidak ada ide untuk memperbaiki alur, kosakata, atau kejutan dalam cerita. Saat terhimpit beban semacam ini, ingat, itu karena monyet masih di pundak Anda. Kian lama akan kian berat.

Anda sudah melakukan yang terbaik untuk merawat monyet itu. Sekarang waktunya melemparnya ke penerbit. Toh setiap penerbit memiliki tenaga yang memang dibayar untuk itu: membaca, menilai dimana yang kurang, mengedit, termasuk melayout maupun mendesain kover. Serahkan saja semua pada mereka. Serahkan monyetnya!

Penerbit pun bisa memilih. Jika dia terpesona dengan potensi monyet itu, dia akan merawatnya. Atau mengembalikannya pada Anda untuk Anda rawat berdasarkan standar mereka. Nanti mereka justru menagih kembali monyet itu.

Namun jangan salah, penerbit pun bisa menembak mati monyet Anda dengan mengatakan, “Maaf, naskah Anda belum sesuai dengan standar penerbitan kami.”

Bagaimanapun, percayalah, Anda akan merasa lega setelah monyet itu tidak menggelandot lagi di pundak. Lalu sambil menunggu keputusan, Anda bisa berkarya yang lain, atau beristirahat sampai ide segar kembali berhembus di otak kreatif Anda.

15 Replies to “Give that Monkey to the Publisher”

  1. rie

    Monyet yang satu baru masuk sekolah. Monyet yang lain dikeluarin dari sekolah. Monyet yang lain lagi masih belum mau lepas dari gendongan. Monyet-monyet lain pada lompat-lompat di kasur. Kayaknya aku bakal jadi peternak monyet deh, Brahm.

    Tapi satu hal yang perlu diingat: nggak ada monyet yang mati.

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    Wah, selain kelinci kamu ternak monyet ya? Lucu2 dong, sampai lompat2an gitu. Minta satu dong, Rie! Biar kusekolahin sampai S3. Tp nanti jangan diminta balik ya. Buat aku selamanya, hehehe.

    Reply
  3. Pradna

    tapi kalau mau melempar monyet! ke orang lain setidaknya sedikit banyak didandani dulu monyet!nya

    biar sedikit enak dilihat sama yang bakal merawat

    biar tidak dibilang monyet!

    Reply
  4. rie

    @Brahm
    Minta? Beli!!!

    @Pradna
    Berarti musti beli bedak, lipstik, eye shadow, blush on sama maskara dong! Tapi monyetnya jangan dilempar gitu ah. Kasian. Dikasihnya musti baik-baik. Kalo dilempar, ntar yang ngelempar dibilang monyet juga.

    Reply
  5. Brahmanto Anindito Post author

    Pradna: *cuma bisa geleng2 denger Pradna bolak-balik menyebut kawannya*

    Rie: Nggak mau ah, nanti monyet buat anak2. Aku kan paling bingung kalau berhadapan monyet jenis itu.

    Reply
  6. rie

    Kalo monyetnya kayak soulmate-mu itu, gimana? Aku kasih deh buatmu, daripada aku tambah stres. Tuh orang gangguin terus sih. Labrak dia dong!

    Reply
  7. rie

    Aku kan pada dasarnya peacemaker, bukan troublemaker. Dianya aja yang suka bikin gara-gara. Monyet itu suka garing. Masa pas aku ngasih cerita ttg tempat sampah dia minta gambar kelinci. Kan nggak nyambung. Lagian kenapa kamu bilang dia soulmate-ku? Orang ngaco kayak gitu dijadiin soulmate.

    Reply
  8. Skylashtar

    Jadi teringat monyet-monyet cantik yang seharusnya sudah harus diserahkan kepada penerbit, tapi sekarang entah di mana. Waktu pindahan rumah dua bulan lalu, monyet-monyet itu tertinggal dan tak ada waktu untuk mencarinya. Padahal (hiks hiks hiks..) udah ada yang mencapai 100 halaman. Aaarggghhhhh…
    .-= Skylashtar´s last blog ..SEKERANJANG SIANG =-.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.