Karakteristik Lomba Mengarang Internasional PJEF

By: Brahmanto Anindito

Awal tahun ini saya coba-coba mengikuti PJEF (Prix du Jeune Écrivain Francophone). Ini lomba mengarang cerita bagi penduduk negara-negara berbahasa Prancis selain warga negeri anggur itu (la francophonie). Sampai tengah tahun tak ada kabar, saya pun berhenti berharap. Tapi minggu lalu, datanglah sebuah paket dari Prancis. Dari tonjolannya bisa ditebak, salah satu isinya pasti buku. Apakah ini kabar baik? Apakah saya berhasil menyabet salah satu gelar dalam lomba bertaraf internasional tersebut? Tak sabaran, saya buka paket itu dan … tidak! Ternyata saya tidak memenangkan apapun. Namun mata saya justru terpicing penuh gairah.

Paket itu berisi satu eksemplar buku kumpulan pemenang, poster pengumuman untuk lomba berikutnya, dan catatan juri tentang cerita saya. Tujuan ketiga item itu dikirim sepertinya mudah ditebak: Agar saya belajar dari kesalahan dan ikut lagi tahun depan dengan karya yang lebih baik. Petikan catatan juri mengenai karya saya begini:

Cerita ditulis dengan baik terlepas dari beberapa kekurangsempurnaan bahasa Prancis. Sampai akhir kalimat, kita dibiarkan larut dalam pencarian kelas (dari sang tokoh utama) dan kebimbangan yang memaksa masuk (ke dalam cerita), karena kita tidak bisa menebak kemana penulis hendak pergi. Akhir cerita pun dipungkas dengan bagus dan membawa senuansa humor.

Teks ini terkonsep dengan apik, begitu pula susunan dialog-dialognya. Teksnya mengalir lancar, kendati terdapat beberapa kekurangsempurnaan dalam gramatikal kalimat-kalimatnya. Ingat, sebuah kalimat harus mengandung subyek, kata kerja, dan satu atau beberapa keterangan.

Teks Anda tidak panjang, namun enak dibaca. Teruslah menulis, jangan turunkan lengan baju. Usaha tidak selalu berakhir dengan hadiah. Tapi dengan imajinasi yang sudah Anda punyai dan intrik-intrik yang telah Anda kuasai, luangkan waktu, sayang sekali kalau cerita-cerita Anda disembunyikan saja.

Kalimat terakhir itu membikin saya melayang, Sodara-sodara. Walaupun, yah, bisa jadi semua peserta diberi catatan seperti itu dan saya saja yang ke-GR-an. Tapi saya sudah kadung merasa senang.

Mari kita bandingkan dengan di Indonesia yang jarang sekali beredar catatan seperti itu. Di media cetak saja yang memberi catatan ketika mengembalikan cerpen kita setahu saya Republika. Kompas? Hanya mengirim surat penolakan tanpa alasan spesifik mengapa ditolak. Koran-majalah-tabloid-buletin lain malah kebanyakan tidak mengabari apa-apa bila karya kita mereka tolak. Untuk kelas penerbit, paling-paling Bentang yang membubuhkan catatan kecil di bawah surat penolakan. Gramedia? Hanya surat penolakan. Lomba-lomba mengarang (baik novel, cerber maupun cerpen) di Indonesia? Ah, jika tidak menang atau masuk nominasi, jangan harap Anda dihubungi panitia, apalagi diberi catatan kenapa karya Anda tidak layak.

Pada kasus-kasus tertentu malah terkadang setelah karya kita juara atau dimuat sekali pun penulisnya tidak dikontak. Seakan-akan mereka berkata, “Mau tahu karyamu menang lomba atau dimuat? Rajin-rajinlah baca media. Nah, kalau terlewat ya kamu sendiri yang rugi.” Aduh …. Di negeri tercinta ini, sepotong komentar kecil tentang karya kita saja susah diperoleh (kecuali tentu saja kalau kita melakukan pendekatan personal), apalagi komentar panjang lebar seperti yang dilakukan juri-juri di PJEF.

Petikan di atas hanya separuh dari tanggapan juri PJEF yang panjangnya sekira satu kuarto. Tanggapan itu mirip resensi. Di sana ada kritik mengenai tokoh, saran tentang alur, komentar seputar konflik, bahkan—percaya atau tidak—pujian-pujian, seperti kekaguman terhadap elemen kejutan dalam cerita saya. Dari membaca “resensi” tersebut, saya tahu kalau cerita saya benar-benar mereka baca. Meskipun cerita itu tidak menjuarai apa-apa, tetap mereka ulas dengan baik! Bukankah ini sebuah penghargaan tersendiri?

Barangkali lantaran PJEF lomba bersekup internasional ya, sehingga perlakuannya pun profesional.

Sekedar informasi, PJEF adalah lomba tahunan yang diperuntukkan bagi pemuda berusia 15—27 tahun di seluruh dunia yang mampu menulis cerita dalam bahasa Prancis, selain warga negara Prancis itu sendiri. Karya kita akan dinilai oleh sekitar delapan juri di sana, di bawah payung Sekjen Organisasi Francophonie Internasional, Menlu Prancis, serta Menteri Kebudayaan dan Komunikasi Prancis.

Cerita yang dikirim harus belum pernah diterbitkan. Bentuknya bisa cerpen atau novel, tapi dibatasi 5—25 halaman, dengan 1.500-an huruf per halamannya. Satu peserta hanya boleh mengirimkan satu cerita. Adil, bukan?

Peserta dari negara Afrika, Amerika Selatan, Oseania dan Asia mendapat dispensasi untuk mengirimkan paket (terdiri dari karya, KTP yang masih berlaku, dan terjemahan KTP itu dalam bahasa Prancis) via email. Namun kalau Anda mau ikut, sebaiknya jangan mepet-mepet tenggat. Januari kemarin (biasanya tenggat lomba ini tiap Januari) saya sampai lima kali kirim, empat yang pertama gagal karena mailbox mereka penuh melulu. Saya mengirimnya H-1 sih!

Hadiah pemenang? Nah, mungkin ini tidak terlalu menggiurkan bagi para pemburu hadiah. Karya-karya pemenang hanya akan diterbitkan, dan memperoleh sesuai hasil penjualan serta peringkat pemenangnya. Namun saya yakin ada hadiah-hadiah tersembunyi yang tidak diumumkan. Misalnya, ajang ini bagus sekali untuk mengasah bahasa Prancis kita, membuka kesempatan go international sebagai penulis, perjalanan dan akomodasi ke Prancis (di situs PJEF saya melihat foto-foto ketika para pemenang berkumpul), dst. Tertarik?

PJEF hanya diperuntukkan bagi francophonie. La francophonie adalah negara-negara atau negara bagian yang berbicara Prancis. Yang artinya ada akar budaya Prancis di sana, salah satunya melalui sejarah bangsa. Pertanyaannya, apakah Indonesia termasuk francophonie? Bahkan teman Prancis saya yang bekerja di CCCL Surabaya bingung juga menjawab ini. Saya juga bingung sih. Tapi itu setahun silam.

Sekarang, menurut saya Indonesia sudah digolongkan francophonie. Buktinya? Di kota-kota Indonesia telah banyak berdiri pusat-pusat kebudayaan Prancis. Dan satu bukti tak tersangkalkan: Di database panitia PJEF 2007, saya dinyatakan sah sebagai peserta.

Jadi tak usah ragu, siapkan saja karya Anda untuk 2008.

Atau, berminat ikut lomba cerpen berbahasa Inggris? Lomba internasional yang tenggatnya April 2009? Klik di sini!

BAGIKAN HALAMAN INI DI

27 Replies to “Karakteristik Lomba Mengarang Internasional PJEF”

  1. Brahm

    Thx atas komennya, Mas Andika, Mas Erick. Syukur deh kalau terinspirasi. Aku cuma mau bilang, ini lomba yg patut dicoba nih. Ikutan ya ….

    Reply
  2. Ree

    Hebat Mas Brahm smp ikut lomba internasional, keren donk karyanya, bhs Perancis pula, hebat..hebat.. Sy jd penggembira/penyemangat aja deh, coz ga bs bikin karya sehebat itu apalagi pake bhs Perancis. Jd penikmat jg ngga, coz ga bs bacanya hehe… Tp salut bgt, bawa nama Indonesia ke ajang internasional semacam itu. Moga2 ga cm Mas Brahm aja yg ikut dr Indonesia, mungkin tahun depan bakal lebih byk yg ikut, berkat info dr Mas Brahm ini. Smangat!!!

    Reply
  3. hairunnisa

    Saya juga pernah ditolak.Sediih seeh untungnya penerbitnya(Mizan)kasih komentar yg bagus juga.Baca tulisan kamu jadi pingin nyoba nulis lagi.Buat Kamu Ayoo semangat yaah 🙂

    Reply
  4. Brahm

    Trims ya, Ree. Tp, wah, sbg peserta doang apa hebatnya? Hehehe. Kalau bhs Prancis itu emang kebetulan bisa, meski pas2an: Sekedar bisa nulis kejadian waktu lampau, sekarang dan masa depan. Itu aja udah cukup buat berkomunikasi dg pembaca (dan juri) lwt cerita kita lho. Jd, pemuda2 yg bhs Prancisnya jauh di atasku (aku yakin di Indonesia jumlahnya banyak) seharusnya berpeluang lbh bsr. Bnr, Ree, semoga mrk baca tulisanku dan komentarmu ini.

    Buat Mbak Hairunnisa, trims banget. Oh, ternyata Mizan kasih catatan jg ya. Berupa resensi jg, atau sekedar komentar singkat?

    Reply
  5. jujube

    bukan kebiasaan orang indonesia untuk memberikan komentar appreciative kepada orang lain atau hasil karya orang lain, ini terbawa dari kecil waktu duduk di sekolah dimana hasil bagus adalah hal biasa tapi kesalahan perlu dihukum…

    Reply
  6. Calvin Michel Sidjaja

    hebat sekali mas brahm! bahwa anda bisa menulis dengan bahasa perancis saja itu menurut saya sudah merupakan nilai tambah luar biasa sebagai penulis, karena tidak banyak penulis Indonesia yang bisa menulis dalam berbahasa perancis.

    Semoga mas brahm ikut lomba ini lagi, saya tidak bisa bahasa perancis jadi menyemangati saja deh. hehehe.

    Reply
  7. Brahm

    Trims, Vin. Tp nerjemahin dari cerpen Indonesia ke bahasa Prancis-nya aja waktu itu sampai 2 minggu lho. Dasar amatir! Hahaha …. Tp, sumpah, puas banget pas kelar.

    Reply
  8. rie yanti

    Aku juga mau ikutan PJEF & skrg lagi nerjemahin salah 1 cerpenku. Tapi sumpah, aku paling malas nerjemahin. Langsung bikin karangan pake bahasa Prancis? Bisa aja. Tapi waktu berpikir, aku pasti pake bahasa Indonesia. Buntutnya, ya nerjemahin juga…

    BTW, tahun 2004 lalu aku ikut seminar ‘Francophonie dans les pays non francophone’. Nggak dibahas soal Indonesia termasuk negara francophone atau bukan. Aku juga nggak mau ambil pusing soal itu. Tapi dari judulnya aja mungkin bisa ditebak, Indonesia termasuk negara francophone atau bukan, Menurutku sih bukan. Tapi itu empat tahun silam. Nggak tau sekarang. Kalau aku salah, ralat aja, asal jelas sumbernya dr mana.

    Reply
  9. Brahmanto Anindito Post author

    Wah, kok nggak bilang2 dari dulu kalau kamu jg mempelajari bhs ‘dengungang lebah’ ini. Mulai sekarang ngomong Prancisan aja, Rie.

    Ya, Indonesia mungkin (msh) bukan negara francophonie, tp lomba itu rasanya tidak strict diperuntukkan bg negara2 yg dianggap francophonie scr politik. Siapapun (yg bisa nulis Prancis) bisa ikut lomba ini.

    Btw, thn 2009 adalah kesempatan terakhirku. Umurku …. ^_^

    Reply
  10. Dwik Astuti

    Hello semua,

    Sorry , kali ini aku nggak komentar mengenai lomba ini.
    Tapi aku mau menginformasikan kepada teman2 bahwa tempat aku kerja ( di perusahaan furniture di seminyak Bali ) membutuhkan staff cewek yang bisa berbahasa perancis dengan lancar. syarat lainnya cukup mudah : umur tidak lebih dari 33 tahun, biasa kerja pakai word , excel dan internet tentunya, trus…emang minat bekerja di bidang bisnis…dan..harus mau tinggal di Bali…

    OK! kalau ada yang minat bisa hubungi aku di : fleurdwi@yahoo.fr atau kirim CV ke fax : 0361 731738.
    Ok..saya tunggu..

    Dwik

    Reply
  11. Ari Ulandari

    Assalamualaikum,

    pak pengen juga ikut lomba menulis internasional tapi ribet juga karena belum pernah mencoba sama sekali,
    kalau saya minta tolong boleh enggak ya pak?
    tolong komentari karya saya, tapi saya hanya bisa berbahasa Inggris,,
    terima kasih

    AU

    Reply
  12. Brahmanto Anindito Post author

    Bonjour, Lestari. Belajar B. Prancis sampai bisa nulis cerpen itu butuh kira2 setahun, berdasarkan pengalamanku. Denger2 PJEF memundurkan usia peserta menjadi 25 tahun maksimal. Semoga cukup waktu. ^_^

    Reply
  13. Skylashtar

    Tahun ini ikutan lagi kaaannn? Sok saya mah ngasih semangat ajah. Berhubung nggak bisa ikutan karena keterbatasan kemampuan bahasa. Kalo lomba yang pake bahasa sunda ada gak ya? 😀 Btw, seneng ya diperlakukan secara baik oleh mereka. Pasti rasa kecewa akibat belum berhasil juara pun terobati. Ketika ikutan lomba blog bugiakso kemarin, saya mendapatkan kaos keren sebagai souvenir untuk seluruh peserta. Padahal selama jadi peserta nggak posting tulisan apapun. Cuma daftar, diem, that’s it.Eh, tiba-tiba dapet paketan kaos. Sueneng banget. Beda lagi waktu menang lomba penulisan bulan kemarin, sampai sekarang hadiah yang dijanjikan belum lagi dikirim. Jangankan dikirim, dihubungi aja kagak. Kira-kira kenapa yah? Sulit mengukur profesionalisme penerbit dan media massa Indonesia memang.

    Reply
  14. belle

    waaoooo…pingin ikutan tp blom lancar bhasa prancisnya…bnun mo nulis pa wat skripsi…m’aider…plizzz

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.