Bagaimana Tokoh Narsis Jadi Tokoh Pembunuh

NarcissistBy: Brahmanto Anindito

Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki pandangan berlebihan mengenai keunikan dan kemampuan mereka. Merasa spesial, mereka berharap diperlakuan spesial. Jika rajin blogwalking, Anda tentu sering menemukan blogger-blogger tipe ini. Dalam keseharian saja, pastinya banyak juga orang yang suka memuji pemikiran-pemikirannya sendiri, meskipun kadang tidak secara langsung. Tapi, bukan narsis seperti itu maksud saya. Narsis yang kita bicarakan ini narsis yang bisa mengubah seseorang menjadi pembunuh, berdasarkan Ilmu Psikologi.

Istilah “narsis” berasal dari salah satu nama dewa Yunani, Narcissus. Dewa ini jatuh cinta pada bayangannya sendiri tatkala melongok sungai. Tapi karena “orang” yang dicintainya tak kunjung merespon, Narcissus pun lama-lama mati di tepi sungai. Lucu sekali. Gitu ngakunya dewa.

Dalam kehidupan modern, orang divonis narsis (mirip Narcissus) jika dia menganggap dirinya pusat semesta. Saat semuanya berjalan baik, orang ini bisa sangat produktif dan kreatif. Tak heran, beberapa individu berkarakter narsis tercatat sukses, populer dan berprestasi.

Berdasarkan penelitian, itu karena ketika dia menekan dan meneror orang di bawahnya (dalam rangka menunjukkan siapa yang hebat), dia tidak melakukan hal sama pada bosnya. Sebaliknya, dia menjilat. Tipikal “yes man” ini mampu dengan rapi menyimpan rasa tinggi hatinya terhadap sang atasan.

Sifat narsis sebetulnya punya dampak signifikan pada melonjaknya rasa percaya diri sang penderita. Jadi dalam dosis tertentu, narsisme bukanlah gangguan. Namun tetap saja, imej orang semacam ini lebih besar dari orang sebenarnya.

Seorang narsis tidak kuat menerima kritik atau penolakan. Individu pada gangguan ini sangat sensitif terhadap kritik dan takut akan kegagalan. Merasa dirinya super, eh, kemudian terbukti gagal. Jelas, kegagalan adalah sesuatu yang sangat dihindari seorang narsis.

Ketika dilawan atau diabaikan, seorang narsis menjadi frustrasi, marah, kasar, bahkan menyimpan dendam yang sewaktu-waktu bisa meledak. Dan saat dikonfrontasi, dia dapat dengan enteng berbohong untuk menyangkal kesalahan-kesalahannya. Seperti politikus Indonesia (tak perlu saya sebut namanya) yang tertangkap tangan melakukan penyuapan, namun masih juga ngeyel tidak bersalah.

Kadar narsis pun ada yang agresif dan sangat berbahaya. Di sini seorang narsis sudah melibatkan unsur sadisme, kepuasan melihat orang lain sakit (bisa fisik, bisa mental). Narsis jenis ini mengasari siapapun di bawahnya. Bullying. Ingat kasus geng Nero? Nah, itulah contoh narsis yang berujung pada sadisme.

Narsis level ini adalah pilihan yang cocok untuk tokoh fiksi jahat yang pendendam. Apalagi di dunia sehari-hari, prevalensi penderita gangguan ini kurang dari 1%. Artinya, karakter ini unik, jarang kita temui.

Anda dapat mengenalinya bila menemukan ciri-ciri begini pada seseorang: Percaya diri, arogan, elastik, suka pamer, berkecenderungan “menggencet” orang di bawahnya, memuji diri, walaupun kerap dia memang mengagumkan. Dalam dunia fiksi, contoh karakter-karakter narsistik dapat Anda lihat pada diri Draco Malfoy dalam Harry Potter, Professor Moriarty dalam Sherlock Holmes, Joker dalam The Dark Knight, dkk.

Intensitas hubungan personal para narsis sedikit, dan dangkal. Penyebabnya adalah kurangnya empati, perasaan iri, arogansi, dan merasa paling unggul. Dari luar, orang yang mengalami gangguan ini bukan main percaya diri.

Namun dipandang dari Teori Psikoanalisa, “kepercayaan diri” itu sebenarnya merupakan topeng bagi harga dirinya yang rapuh. Kalau ditelusuri lebih dalam, kegagalan mengembangkan harga diri yang sehat ini terjadi saat (dulu) orangtuanya tidak merespons dengan baik kompetensi yang ditunjukkannya.

Anda tidak perlu menjadi narsis (karena menurut saya yang pantas narsis cuma Tuhan). Tapi menciptakan tokoh narsis pembunuh dalam karya Anda rasanya keren juga. [thanks to Luciano Tirabassi for the photo]


THE WRAP UP of “How a Narcissist Turns into a Killer”

The term “Narcissism” is from a Greek god, Narcissus, who fell in love with his own reflection. The narcissist these days thinks the universe revolves around him. He/she doesn’t take criticism or rejection well. A variant of the narcissist is the malignant narcissist. There is sadistic element here (a taking of pleasure from another’s pain). The malignant narcissist gets ahead by stomping everyone beneath her/him. Sometime, a narcissist is great, indeed. Joker in The Dark Knight, for instance. When the malignant narcissist is highly intelligent, he/she could be a serious killer and strong antagonist in your story.

23 Replies to “Bagaimana Tokoh Narsis Jadi Tokoh Pembunuh”

  1. Brahm

    Oui, posting et fais une recherce de charactere en meme temps 😛 Mais, pssst … ne dis rien, personne. C’est notre secret, ok?

    Reply
  2. Pradna

    yaah…
    dari 2 komen diatas kyknya dah berkonspirasi bikin cerita narsis… *sok tau bahasa french,pdhl tahunya french fries*
    padahal,
    saia mo bikin cerpen buat wufi soal narsis ini…*pernyataan narsis tingkat tinggi*

    Semoga bakal jadi cerpen-ku buat wufi… dan semoga tidak ditolak 😀

    Reply
  3. sawali tuhusetya

    karakter narcis agaknya ada pada setiap orang, loh, mas brahm, hehehe … lihat saja ketika foto bareng, pasti yang diincar duluan foto dirinya, hiks. namun, karakter ini tak akan berujung pada kamuflase apabila pribadi yang bersangkutan memiliki dasar kepribadian yang kuat. *duh, kok jadi sok tahu, saya* yaps, alam kreatif, mas brahm.

    Reply
  4. Brahm

    Thx, Pradna. Itu bukan Prancis, itu bhs Sunda, hahaha. Ta’tunggu ya cerpen2nya.

    Trims jg, Pak Sawali. Kalau narsis dlm dosis rendah sih memang banyak pengidapnya. Tp yg dimaksud narsis di sini yg berkaitan dg penyakit psikologis. Dan dlm taraf tertentu bisa jd pemicu gen pembunuh.

    Reply
  5. ariez

    saya hidup di semesta yang banyak orang narsisnya…
    (biasanya megang handphone, jepret sana, jepret sini, foto diri sendiri. trus ngliat hasilnya, trus bilang “ya ampuuun cantiknya”)

    hehehe

    agak illfell juga sih!!

    samakah pembunuh berdarah dingin dengan pembunuh berdarah narsis??

    Reply
  6. Brahmanto Anindito Post author

    Narsis yg kyk gitu sih paling cuma menjengkelkan. Tp kalau malignant narcissist beda lg. Dia nggak segan2 menggunakan pendekatan kekerasan. Aku sendiri nggak pernah menjumpai narsis tipe ini. Tp kalau narsis2 spt yg kamu sebut, ya, aku juga dikelilingi orang2 semacam itu, :).

    Trims, Ariez!

    Reply
  7. ariez

    kayaknya ngeri juga kalau ada yang narsis kayak gitu!!
    begitu yakin kalau kekerasan yang ia berikan tuh sesuatu yang dipikirnya bagus!
    karena sugesti “bisa” jadi orang yang dikerasinnya lebih takut!!

    Reply
  8. pasha

    Setelah membaca uraian Brahm di atas, saya jadi mikir, saya ini narsis apa engga ya? Soalnya saya senang dipuji (dan memuji diri sendiri huahahaha!), sengak sekaligus pe’ak dan pernah resign gara2 ga setuju melulu sama bos di kantor… Tapi, saya juga ga pede masang foto (dan nama asli) di mana aja, termasuk di blog. Soalnya, saya orangnya pemalu, sok imut tapi malu2in-nya amit2. Jadi, saya ada kemungkinan jadi pembunuh dong? Waaah… besok mo check-up ke psikiater ah!
    Btw, fotonya Brahm itu yang paling baru ya? Nah, gitu dong… makan yang banyak, biar gemukan (ga mau pake bahasa Jepang, takut dituduh narsis!) Daaag!

    Reply
  9. Brahm

    Suka dipuji mah biasa, bukan monopoli seorang narsis. Tp nggak setuju melulu pd bos bisa berarti kalimat “Gue lebih hebat dari loe, Bos!” yg (kebetulan aja) blm sempat terucap. Ada kemungkinan narsis.

    Terus, soal nggak pede masang foto, bisa jd itu misi “I’m not exist”. Kenapa hrs tdk eksis? Ya mungkin krn ingin membunuh si bos tadi, hahaha, dan tak ingin jejak online-nya kebaca.

    Jd? Apakah ini narsis yg berbahaya? Yg bisa membunuh? Ng, enggaaaak … *sambil siap2 nutup warung dan kabur* Nggak kok ….

    Reply
  10. Calvin

    hmm, tapi menarik juga tipe kepribadian narsis ini untuk karakter villain, tapi apa bukannya sudah terlalu sering yah? saya lebih suka memakai karakter ambivalen anta/protagonis

    Reply
  11. Brahmanto Anindito Post author

    Trims, Rea & Calvin. Yah, memang terlalu sering tokoh pembunuh berawal dari narsisme. Tp biasanya karakter villain itu modifikasi dg gangguan kepribadian yg lain, misalnya borderline personality (kepribadian ambang), psikopat, paranoid. Yg murni narsis jarang.

    Seorang ambivalen itu kata lainnya gangguan kepribadian borderline ya? Atau maksudmu tokoh abu2? Kalau tokoh abu2, berarti seorang narsis pun bisa jd karakter ambivalen.

    Reply
  12. sautparl

    yang paling penting bagi mereka penyandang narsis adalah penyembuhannya.penyembuhan ini sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun.

    Reply
  13. wulan

    siapa bilang cari narsistik susah? gampang sekali, tokoh ini banyak banget. nah kalo mau cari apel ya ke kebun apel, mau cari ikan ya ke tambak dan laut.
    mau cari narsisitik? orang fashion,sebagian model, sebagian orang yang mimpi jadi model, sebagian mantan model, orang salon dan orang yang merasa dirinya sangat cantik, ciri gampang jika bicara ia sellau merendahkan orang lain, hanya untuk ia kelihatan lebih hebat. mereka tega menyebarkan gosip bahkan membunuh dengan memberi racun, mereka juga rela tidur dengan siapa saja yg bisa bekerja sama dengan mereka untuk meleyapkan saingannya, yang biasanya di anggap saingan adalah,
    1. lebih cantik / lebih tampan dri dia
    2. lebih berbakat
    mereka senang MENJATUHKAN MENTAL orang lain. dan menyebar gosip paling handal, orang cenderung percaya karena mereka sangat tampan dan cantik, rela lagi ditidurin. semakin banyak meniduri mereka, mereka semakin bangga, karena mengagap mereka laku. aneh, tapi sudah 3 orang yang terbukti begini. ketiganya, ada kaitan dengan impian menjadi MODEL.

    Reply
  14. Pingback: Jomblo? Lagi cari jodoh? Rutin nge-blog aja, Bray! | Warung Fiksi ®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.