
Belakangan, kita melihat beberapa tokoh di dunia nyata yang tergolong Narcissistic Personality Disorder (NPD). Ditandai dengan merasa dirinya sangat penting dan orang lain lebih rendah. Ia sangat membutuhkan pujian dan pengakuan, kurang empati terhadap perasaan orang lain, sering memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi, sulit menerima kritik atau kegagalan.
Ada kata “narsistik” dalam NPD, karena memang akarnya dari sana. Ini gangguan kepribadian yang tak pernah kering untuk diangkat sebagai tokoh fiksi. Kalau Kakak tertarik mengembangkan tokoh-tokoh semacam ini, tidak ada salahnya untuk mendalami dahulu apa itu narsistik.
Narcissus: Dewa Narsis di Mitologi Yunani
Individu dengan gangguan kepribadian narsistik memiliki pandangan berlebihan mengenai keunikan dan kemampuannya. Merasa spesial, ia berharap diperlakuan secara istimewa. Tidak usah jauh-jauh. Jika rajin blogwalking, Kakak tentu sering menemukan bloger-bloger tipe ini.
Ternyata, banyak juga orang yang suka memuji pemikiran-pemikirannya sendiri, meskipun terkadang tidak secara langsung. Namun, bukan narsis seperti itu maksud saya. Yang kita bicarakan ini narsis yang bisa mengubah seseorang menjadi pembunuh, berdasarkan Ilmu Psikologi.
Istilah “narsis” berasal dari salah satu nama dewa Yunani, Narcissus. Dewa ini jatuh cinta kepada bayangannya sendiri tatkala melongok sungai. Namun, karena “orang” yang dicintainya tak kunjung merespons, Narcissus pun lama-lama mati di tepi sungai.
Dalam kehidupan modern, orang divonis narsis (mirip Narcissus) jika ia menganggap dirinya pusat semesta. Saat semuanya berjalan baik, orang ini bisa sangat produktif dan kreatif. Tak heran, beberapa individu berkarakter narsis tercatat sukses, populer, dan berprestasi.
Berdasarkan penelitian, itu karena ketika menekan dan meneror orang di bawahnya (dalam rangka menunjukkan siapa yang hebat), ia tidak melakukan hal sama terhadap bosnya. Sebaliknya, ia menjilat. Tipikal yes man ini mampu dengan rapi menyimpan rasa tinggi hatinya bila berhadapan dengan atasannya.
Sifat narsis sebetulnya memiliki dampak signifikan pada melonjaknya rasa percaya diri sang penderita. Jadi, dalam dosis tertentu, narsisme bukanlah gangguan. Namun, tetap saja, citra orang semacam ini lebih besar dari orang sebenarnya.
Seorang narsis tidak kuat menerima kritik, penolakan, maupun kegagalan. Merasa dirinya super, eh, kemudian terbukti gagal. Kan, lucu! Jelas, kegagalan adalah sesuatu yang sangat dihindari oleh seorang narsis.
Ketika dilawan atau diabaikan, seorang narsis biasanya menjadi frustrasi, marah, kasar, bahkan menyimpan dendam kesumat. Dan saat dikonfrontasi, ia dapat dengan enteng berbohong untuk menyangkal kesalahan-kesalahannya. Tipikal-tipikal politikus Indonesialah. Tak perlu kita sebut nama-namanya, cukup tahu sama tahu, hehehe.
Kapan Karakter Narsis Bisa Berbahaya
Kadar narsis pun ada yang agresif dan sangat berbahaya. Di sini, seorang narsis sudah melibatkan unsur sadisme, kepuasan melihat orang lain sakit, secara fisik atau mental. Narsis jenis ini berpotensi mengasari atau merisak siapapun di bawahnya.
Narsis level ini adalah pilihan yang cocok untuk tokoh fiksi jahat yang pendendam. Apalagi di dunia sehari-hari, prevalensi penderita gangguan ini kurang dari 1%. Artinya, karakter ini cukup langka dan unik, jarang kita temui.
Kakak dapat mengenalinya bila menemukan ciri-ciri begini pada seseorang:
- percaya diri
- arogan
- suka pamer
- berkecenderungan “menggencet” orang di bawahnya
- suka memuji diri, walaupun terkadang ia memang mengagumkan
Dalam dunia fiksi, contoh karakter-karakter narsistik dapat Kakak lihat di diri Draco Malfoy dalam Harry Potter, Professor Moriarty dalam Sherlock Holmes, atau Joker dalam The Dark Knight.
Intensitas hubungan personal para narsis bersifat sedikit dan dangkal. Penyebabnya adalah kurangnya empati, kentalnya perasaan iri, arogan, dan tinggi hati. Dari luar, orang yang mengalami gangguan ini bukan main percaya diri.
Namun, dipandang dari Teori Psikoanalisa, “kepercayaan diri” itu sebenarnya merupakan topeng bagi harga dirinya yang rapuh. Kegagalan dalam mengembangkan harga diri yang sehat ini bisa jadi terjadi saat (dahulu) orang tuanya tidak merespons dengan baik kompetensi yang ditunjukkannya.
Bagaimana? Cukup menarik, bukan?
Kakak tidak perlu menjadi narsis. Namun, menciptakan tokoh narsis pembunuh dalam karya Kakak rasanya akan keren juga.
Ringkasan
- NPD dan ciri umum narsistik: Narcissistic Personality Disorder (NPD) ditandai dengan merasa diri sangat penting, ingin dipuji, kurang empati, dan kecenderungan memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi.
- Asal-usul kata narsis dan dampaknya: Istilah narsis berasal dari dewa Yunani, Narcissus.
- Reaksi terhadap kritik dan harga diri: Narsis sering sulit menerima kritik atau kegagalan, dan kesan percaya diri mereka bisa jadi topeng bagi harga diri yang rapuh.
- Bahaya pada tingkat tinggi: Beberapa narsis bisa agresif dan berbahaya, bahkan melibatkan unsur sadisme, dengan risiko perlakuan buruk terhadap orang di bawahnya; prevalensi gangguan ini sangat kecil (kurang dari 1%).
- Contoh tokoh narsistik dalam fiksi: Tokoh seperti Draco Malfoy, Professor Moriarty, dan Joker menunjukkan sifat narsistik yang bisa jadi unsur pembunuh dalam cerita, memberi inspirasi bagi penulisan karakter antagonis.
Youpie!!! Chuis la premiere ici…
C pr la reference, hein? Hehehe…
Oui, posting et fais une recherce de charactere en meme temps 😛 Mais, pssst … ne dis rien, personne. C’est notre secret, ok?
yaah…
dari 2 komen diatas kyknya dah berkonspirasi bikin cerita narsis… *sok tau bahasa french,pdhl tahunya french fries*
padahal,
saia mo bikin cerpen buat wufi soal narsis ini…*pernyataan narsis tingkat tinggi*
Semoga bakal jadi cerpen-ku buat wufi… dan semoga tidak ditolak 😀
karakter narcis agaknya ada pada setiap orang, loh, mas brahm, hehehe … lihat saja ketika foto bareng, pasti yang diincar duluan foto dirinya, hiks. namun, karakter ini tak akan berujung pada kamuflase apabila pribadi yang bersangkutan memiliki dasar kepribadian yang kuat. *duh, kok jadi sok tahu, saya* yaps, alam kreatif, mas brahm.
Thx, Pradna. Itu bukan Prancis, itu bhs Sunda, hahaha. Ta’tunggu ya cerpen2nya.
Trims jg, Pak Sawali. Kalau narsis dlm dosis rendah sih memang banyak pengidapnya. Tp yg dimaksud narsis di sini yg berkaitan dg penyakit psikologis. Dan dlm taraf tertentu bisa jd pemicu gen pembunuh.
saya hidup di semesta yang banyak orang narsisnya…
(biasanya megang handphone, jepret sana, jepret sini, foto diri sendiri. trus ngliat hasilnya, trus bilang “ya ampuuun cantiknya”)
hehehe
agak illfell juga sih!!
samakah pembunuh berdarah dingin dengan pembunuh berdarah narsis??
Narsis yg kyk gitu sih paling cuma menjengkelkan. Tp kalau malignant narcissist beda lg. Dia nggak segan2 menggunakan pendekatan kekerasan. Aku sendiri nggak pernah menjumpai narsis tipe ini. Tp kalau narsis2 spt yg kamu sebut, ya, aku juga dikelilingi orang2 semacam itu, :).
Trims, Ariez!
kayaknya ngeri juga kalau ada yang narsis kayak gitu!!
begitu yakin kalau kekerasan yang ia berikan tuh sesuatu yang dipikirnya bagus!
karena sugesti “bisa” jadi orang yang dikerasinnya lebih takut!!
Cher Pradna…
Ca va bien qui ta ma ou bikin cerita narsis?
Ye…
Yups. Itu b. Prancis alias PRANakan CIamiS, hehehe…
mungkin juga ga orang narsis ini sebenernya orang yang minder minta ampun. sehingga menutupi keminderannya dengan kearoganan.
Uwiih, sekarang udah punya blog! Sejak kapan tuh? Nanti aku mampir sana deh.
Ya, mungkin aja. Aku bukan orang Psikologi, tp menurutku sih mungkin aja.
Setelah membaca uraian Brahm di atas, saya jadi mikir, saya ini narsis apa engga ya? Soalnya saya senang dipuji (dan memuji diri sendiri huahahaha!), sengak sekaligus pe’ak dan pernah resign gara2 ga setuju melulu sama bos di kantor… Tapi, saya juga ga pede masang foto (dan nama asli) di mana aja, termasuk di blog. Soalnya, saya orangnya pemalu, sok imut tapi malu2in-nya amit2. Jadi, saya ada kemungkinan jadi pembunuh dong? Waaah… besok mo check-up ke psikiater ah!
Btw, fotonya Brahm itu yang paling baru ya? Nah, gitu dong… makan yang banyak, biar gemukan (ga mau pake bahasa Jepang, takut dituduh narsis!) Daaag!
Suka dipuji mah biasa, bukan monopoli seorang narsis. Tp nggak setuju melulu pd bos bisa berarti kalimat “Gue lebih hebat dari loe, Bos!” yg (kebetulan aja) blm sempat terucap. Ada kemungkinan narsis.
Terus, soal nggak pede masang foto, bisa jd itu misi “I’m not exist”. Kenapa hrs tdk eksis? Ya mungkin krn ingin membunuh si bos tadi, hahaha, dan tak ingin jejak online-nya kebaca.
Jd? Apakah ini narsis yg berbahaya? Yg bisa membunuh? Ng, enggaaaak … *sambil siap2 nutup warung dan kabur* Nggak kok ….
hmm…karakter pembunuh dalam novel-ku-yang-belom-jadi adalah penderita double personality. tapi narsis boleh juga tuh
hmm, tapi menarik juga tipe kepribadian narsis ini untuk karakter villain, tapi apa bukannya sudah terlalu sering yah? saya lebih suka memakai karakter ambivalen anta/protagonis
Trims, Rea & Calvin. Yah, memang terlalu sering tokoh pembunuh berawal dari narsisme. Tp biasanya karakter villain itu modifikasi dg gangguan kepribadian yg lain, misalnya borderline personality (kepribadian ambang), psikopat, paranoid. Yg murni narsis jarang.
Seorang ambivalen itu kata lainnya gangguan kepribadian borderline ya? Atau maksudmu tokoh abu2? Kalau tokoh abu2, berarti seorang narsis pun bisa jd karakter ambivalen.
yup abu2, jadi villainnya terlihat punya sisi manusiawi juga, sehingga membuat dia juga mengalami perkembangan karakter.
celeb narsis : Ahmad Dhani!!
pada dasarnya setiap orang memiliki kecenderungan untuk narsis…walaupun berbeda-beda kadarnya…..
salam..
saya termasuk orang yang narsis gak yah…
yang paling penting bagi mereka penyandang narsis adalah penyembuhannya.penyembuhan ini sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun.
siapa bilang cari narsistik susah? gampang sekali, tokoh ini banyak banget. nah kalo mau cari apel ya ke kebun apel, mau cari ikan ya ke tambak dan laut.
mau cari narsisitik? orang fashion,sebagian model, sebagian orang yang mimpi jadi model, sebagian mantan model, orang salon dan orang yang merasa dirinya sangat cantik, ciri gampang jika bicara ia sellau merendahkan orang lain, hanya untuk ia kelihatan lebih hebat. mereka tega menyebarkan gosip bahkan membunuh dengan memberi racun, mereka juga rela tidur dengan siapa saja yg bisa bekerja sama dengan mereka untuk meleyapkan saingannya, yang biasanya di anggap saingan adalah,
1. lebih cantik / lebih tampan dri dia
2. lebih berbakat
mereka senang MENJATUHKAN MENTAL orang lain. dan menyebar gosip paling handal, orang cenderung percaya karena mereka sangat tampan dan cantik, rela lagi ditidurin. semakin banyak meniduri mereka, mereka semakin bangga, karena mengagap mereka laku. aneh, tapi sudah 3 orang yang terbukti begini. ketiganya, ada kaitan dengan impian menjadi MODEL.