Penulis lepas sering terlalu fokus pada tulisannya atau proses produksi, sampai lupa betapa saldo juga butuh “nutrisi”. Terlalu fokus mengejar duit, sampai lupa bahwa tabungannya juga bisa disuruh bekerja sendiri. Ya, Kakak tidak salah baca. Justru itulah tujuan paling dasar dari kegiatan investasi.
Bagi Kakak yang seperti kami, hidup hanya dari honor dan komisi menulis lepas, bukan karyawan yang hidupnya terjamin oleh gaji, saran terbaik kami: ayo mulai investasi! Ada setidaknya empat alasan untuk hal ini.
1. Mulai Investasi demi Jaring Pengaman Saat Sepi Proyek
Sebagai penulis lepas, ada kalanya pesanan tulisan membludak sampai kita keteteran, tetapi ada waktunya pula kotak masuk surel kita sepi bagaikan kuburan. Di sinilah peran penting investasi sebagai jaring pengaman finansial, alias safety net.
Investasi adalah cara kita memberikan instruksi kepada uang untuk bekerja lembur ketika kita sedang tidur, liburan, ada urusan keluarga, sakit, atau seperti yang baru saja kita bahas: mengalami musim paceklik proyek!
Dividen saham, kupon sukuk, keuntungan reksadana, atau semacamnya bisa menjadi pengganti penghasilan saat calon klien melakukan ghosting atau menawar harga dengan sadis.
Dengan memiliki benteng pertahanan finansial semacam ini, kita dapat lebih tenang menulis, tanpa dihantui rasa cemas keluarga mau makan apa setelah proyek ini selesai dan proyek berikutnya belum terlihat hilalnya.
Hasil investasi juga bisa membuat kita memilih proyek yang benar-benar pas di hati. Termasuk mencegah kita untuk mengambil semua pekerjaan, tidak peduli itu receh, tidak jelas halal-haramnya (ada banyak, lo, proyek-proyek penulisan yang begini), atau tidak nyambung (jadi pengantar galon minum, misalnya).
Asyiknya, kita dapat mengatur hasil dari investasi itu agar datangnya bulanan, seperti gaji orang kantoran. Namun, tentu saja, besaran “gaji” tersebut tergantung pada besar modal investasi kita.
2. Mengurangi Kecemasan di Masa Tua dengan Mulai Investasi
Harga sembako terus naik dari tahun ke tahun, sementara tarif per kata jasa penulisan yang Kakak tawarkan masih segitu-segitu saja. Inilah ulah inflasi, si pencuri yang diam-diam mengambil nilai uang kita.
Akibatnya, jika Kakak hanya mendiamkan honor menulis di bawah bantal atau di rekening biasa, secara teknis Kakak sedang kehilangan uang setiap harinya. Menulis ribuan kata dengan riset mendalam hanya untuk melihat nilai tabungan terus menyusut tentulah menyedihkan.
Lawanlah aksi si maling dengan investasi. Dengan menaruh uang pada instrumen yang imbal hasilnya di atas tingkat inflasi tahunan, Kakak sedang mengawetkan nilai uang itu. Harapannya, beberapa dasawarsa ke depan, uang tersebut masih bisa membeli kenyamanan yang sama, bahkan lebih!
Apakah dengan mulai investasi sekarang, ada jaminan masa tua kita tenang?
Ah, mana ada yang bisa menjamin seperti itu? Sejago-jagonya kita mencari uang dan berinvestasi, kita tidak pernah tahu takdir ke depan. Sakit parah (sehingga tidak bisa kerja lagi padahal masih usia produktif), ditipu orang (sehingga hasil investasi dan tabungan lenyap), sampai salah kalkulasi, semua itu bisa terjadi.
Namun, dengan berinvestasi, kita memperbesar peluang untuk gantung pena (pensiun) dengan tenang di masa tua, tanpa terlalu mengandalkan uang pemberian anak. Ya, mari kita putus lingkaran setan tradisi “generasi sandwich” di kita!
3. Dengan Mulai Investasi, Kita “Terpaksa” Belajar
Berinvestasi secara ajaib memaksa kita untuk lebih rajin membaca dan belajar. Penulis atau profesi-profesi terkait lainnya, seperti editor atau penerjemah, memang harus banyak membaca, bukan?
Tidak ada cerita seseorang yang tidak suka membaca bisa bagus portofolio investasinya!
Logikanya, begitu mengeluarkan uang, misalnya untuk membeli saham atau logam mulia, Kakak pasti jadi lebih tertarik membaca buku-buku keuangan agar aset Kakak lebih berkembang. Minimal, Kakak akan mulai rutin menyimak berita-berita terkait isu ekonomi global maupun domestik, demi memantau pergerakan pasar.
Hasil bacaan ini akan membantu Kakak cepat bertindak saat ada peluang atau ancaman terhadap aset. Ambil contoh:
- Ketika tersiar berita akan terjadi perang yang berlatar belakang perebutan minyak bumi, Kakak buru-buru membeli emas atau saham-saham Amerika terkait minyak.
- Saat mendengar lembaga keuangan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengancam menurunkan peringkat pasar saham Indonesia seperti di awal 2026 lalu, Kakak langsung gercep menjual saham-saham dari emiten (perusahaan) yang sekiranya fundamentalnya bermasalah.
Semua itu mustahil dilakukan kalau kita malas membaca!
Di sisi lain, kebiasaan riset di dunia investasi secara tidak langsung juga mengasah ketajaman logika dalam menyusun argumen di dalam tulisan. Jadi, selain aset yang bertumbuh, kapasitas otak kita pun otomatis ikut naik kelas.
4. Mulai Investasi untuk Modal Menulis
Tidak ada salahnya menguasai satu profesi sampingan, dalam hal ini sebagai investor, agar pandangan kita terhadap dunia menjadi lebih luas. Setelah terjun ke pasar modal atau instrumen investasi lainnya, Kakak akan memahami psikologi pasar, cara kerja industri, hingga beberapa istilah teknis.
Pengalaman praktis semacam ini merupakan bahan bakar yang berharga untuk tulisan-tulisan Kakak berikutnya.
Saat ada kebutuhan untuk menulis tema keuangan, umpamanya, atau ingin menciptakan tokoh fiksi yang berprofesi sebagai investor, tulisan Kakak akan terasa lebih bernyawa. Pasti beda hasilnya dengan tulisan-tulisan bermodal googling atau merengek ke AI.
Penulis yang memiliki wawasan lintas disiplin selalu memiliki daya tarik tersendiri di mata pembaca dan editor. Jadi, selain dompet makin tebal, tulisan reputasi Kakak pun turut terdongkrak.
Intinya Begini…
Menjadi penulis lepas ibarat menjadi nakhoda di kapal sendiri. Kakak bebas menentukan kapan mau berlayar di laut lepas atau bersandar di pelabuhan terdekat. Namun, kebebasan ini sering datang dengan satu risiko: ketidakpastian pemasukan.
Dahulu, solusinya adalah menabung. Kata orang bijak, “Hemat pangkal kaya.” Sayangnya, di zaman sekarang, tidak ada satu pun orang yang berhasil kaya hanya karena hemat. Penghematan itu sebenarnya baik, tetapi tujuannya sekadar untuk menunda kita bokek. Itu saja.
Sementara untuk menjadi kaya, secara teori, lebih logis dicapai dengan bekerja atau berinvestasi, atau lebih mantap lagi: melakukan keduanya sekaligus!
Jadi, berapapun penghasilan Kakak, mulailah berinvestasi. Abaikan kalau ada yang menyarankan, “Jangan mulai investasi dulu sebelum kamu punya dana menganggur minimal Rp100 juta.”
Omong kosong!
Mulai saja. Bisa, kok, kita berinvestasi hanya dengan Rp10.000.
Akan tetapi, kalau modalnya sekecil itu, tahu dirilah. Niatkan saja untuk belajar berinvestasi. Jangan berharap hasilnya akan bisa menghidupi kita. Kakak tidak selugu itu, kan?
Mari kita lakukan hitung-hitungan realistis. Kalau modal Kakak hanya Rp10.000, sekalipun jika Kakak sudah jago berinvestasi hingga mampu menghasilkan 10 persen, maka Kakak hanya akan memperoleh Rp1.000 per tahun. Dibagi 12 bulan, berarti per bulan mendapatkan Rp83,3!
Hahahaha…. buat apa uang segitu?
Namun, beda lagi kalau Rp10.000 itu terus disuntikkan secara rutin. Seiring dengan bertambahnya modal, waktu, dan pengalaman, niscaya penghasilan Kakak dari investasi akan membaik juga.
Yang terpenting, sekarang, mulailah memandang uang bukan hanya sebagai alat tukar, tetapi juga benih yang harus ditanam agar bisa dipanen sewaktu dibutuhkan. Jangan merasa masih terlalu muda. Jika Kakak sudah punya tabungan, artinya Kakak sudah layak dan memang harus mulai investasi!
Oh ya, kalau portofolio Kakak sudah banyak dan bingung bagaimana mencatatnya, silakan gunakan aplikasi Wufi Provisalis. Dengan begitu, pencatatan portofolio investasi akan mudah dan aman.
Selamat (memulai) berinvestasi!