Sebagai pekerja kreatif, penulis lepas sering kali terlalu fokus pada tulisan atau produksi, sampai lupa betapa saldo juga butuh “nutrisi”. Di sinilah, berinvestasi adalah hal krusial. Ini bukan soal gaya hidup, melainkan sudah seperti kebutuhan primer.
Bagi Kakak yang seperti kami, hidup hanya dari honor dan komisi menulis lepas, bukan karyawan (yang hidupnya mengandalkan gaji), saran terbaik kami: mulai investasi! Ada setidaknya empat alasan untuk ini.
1. Mulai Investasi demi Jaring Pengaman Saat Sepi Proyek
Salah satu realitas pahit menjadi penulis lepas adalah datangnya musim paceklik. Ada kalanya, pesanan tulisan membludak sampai Kakak kurang tidur, tetapi ada kalanya kotak masuk surel sepi seperti kuburan. Di sinilah peran investasi sebagai jaring pengaman finansial atau safety net.
Memang, kalau sudah bicara uang, semua orang rasanya harus punya ilmunya. Apalagi buat penulis lepas yang harus mengusahakan sendiri Tunjangan Hari Raya (THR) dan dana pensiunnya.
Investasi adalah cara kita memberikan instruksi kepada uang untuk bekerja lembur saat kita sedang asyik tidur, liburan, sibuk dengan urusan keluarga, atau sedang sakit.
Dengan berinvestasi, Kakak sedang membangun benteng pertahanan bagi keuangan sendiri, Setidaknya, tiga tahun lagi, benteng itu akan memberi kita hasil. Menulis dapat lebih fokus. Proses kreatif pun tetap dapat berjalan tanpa dihantui rasa cemas mau makan apa setelah proyek ini selesai.
Hasil dari investasi, baik itu berupa dividen saham, kupon sukuk, atau keuntungan reksa dana, bisa menjadi pengganti penghasilan saat calon klien melakukan ghosting atau menawar harga dengan sadis.
Asyiknya, kita bisa mengatur hasil dari investasi itu agar datangnya bulanan: seperti gajian saja. Namun, tentu saja besaran “gaji” itu kurang-lebih sesuai dengan seberapa besar modal investasi kita.
Hasil investasi membuat kita bisa memilih proyek yang benar-benar berkualitas dan pas. Ini mencegah kita untuk mengambil semua pekerjaan, walaupun receh, tidak berhubungan dengan dunia literasi (jadi pengantar galon misalnya), atau tidak jelas halal-haramnya (ada banyak proyek-proyek penulisan semacam ini, percayalah).
2. Dengan Mulai Investasi, Kita “Terpaksa” Belajar
Berinvestasi itu secara ajaib memaksa kita untuk rajin membaca dan belajar. Penulis atau profesi-profesi terkait lainnya, seperti editor atau penerjemah, harus banyak membaca, bukan?
Tidak ada ceritanya seseorang yang tidak suka baca tiba-tiba sukses di dunia investasi.
Logikanya, begitu mengeluarkan uang, misalnya untuk membeli saham atau emas, Kakak pasti jadi lebih tertarik membaca buku-buku keuangan agar aset tersebut berkembang. Minimal, Kakak akan mulai rutin menyimak berita-berita terkait isu ekonomi global maupun domestik demi memantau pergerakan pasar.
Kebiasaan ini membuat Kakak menjadi orang yang paling cepat bertindak saat ada peluang atau ancaman muncul. Misalnya:
- Ketika tersiar berita akan terjadi perang yang berlatar belakang minyak bumi, Kakak buru-buru membeli emas atau saham-saham Amerika terkait minyak.
- Saat mendengar Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengancam menurunkan peringkat pasar saham Indonesia seperti di awal 2026 lalu, Kakak sigap menjual saham-saham dari emiten yang sekiranya bermasalah.
Semua itu tidak mungkin dilakukan dengan sigap kalau kita malas membaca!
Bagi seorang penulis, kebiasaan riset yang tajam di dunia investasi ini secara tidak langsung juga mengasah ketajaman logika dalam menyusun argumen di dalam tulisan. Jadi, selain aset yang bertumbuh, kapasitas otak kita pun ikut naik kelas.
3. Memastikan Masa Tua (Relatif) Lebih Tenang
Kakak pasti sadar kalau harga kopi susu literan kesukaan Kakak terus naik dari tahun ke tahun, sementara tarif per kata yang Kakak tawarkan mungkin masih jalan di tempat. Inilah ulah inflasi, si pencuri sunyi yang menurunkan daya beli uang kita.
Jika Kakak hanya mendiamkan honor menulis di bawah bantal atau di rekening biasa, secara teknis Kakak sedang kehilangan uang setiap harinya. Menulis ribuan kata dengan riset mendalam hanya untuk melihat nilainya menyusut tentu terasa sangat menyakitkan, bukan?
Investasi adalah senjata utama untuk melawan inflasi. Dengan menaruh uang pada instrumen yang imbal hasilnya di atas tingkat inflasi tahunan, Kakak sedang mengawetkan nilai dari setiap tetes keringat kreatif Kakak.
Sangat disayangkan jika waktu yang Kakak korbankan untuk lembur menyelesaikan naskah tidak membuahkan ketenangan jangka panjang hanya karena salah kelola.
Jadi, pastikan setiap rupiah yang didapat dari jerih payah menulis bisa bertahan kekuatannya di masa depan, agar sepuluh tahun lagi, uang tersebut masih bisa membeli kenyamanan yang sama, atau bahkan lebih.
Apakah dengan mulai investasi sekarang, ada jaminan masa tua kita tenang?
Bukan begitu konsepnya. Sejago-jagonya kita mencari uang dan berinvestasi, kita tidak tahu takdir ke depan. Sakit parah (sehingga tidak bisa kerja lagi padahal masih usia produktif), ditipu orang (sehingga hasil investasi dan tabungan lenyap), dan sebagainya. Semua itu bisa terjadi.
Namun, dengan berinvestasi, ikhtiar kita untuk pensiun tenang sebagai penulis tanpa mengandalkan uang pemberian anak (mari kita putus generasi sandwich di kita!) lebih besar.
4. Mulai Investasi untuk Menambah Kekuatan Tulisan
Tidak ada salahnya menguasai satu profesi sampingan sebagai investor agar pandangan kita terhadap dunia menjadi lebih luas.
Setelah terjun ke pasar modal atau instrumen lainnya, Kakak akan memahami psikologi pasar, cara kerja industri, hingga istilah-istilah teknis yang akan membingungkan bila hanya dibaca melalui buku-buku teoretis.
Pengalaman praktis jelas merupakan “bahan bakar” yang sangat berharga untuk tulisan Kakak. Saat ada kebutuhan untuk menulis tentang bidang keuangan, atau ingin menciptakan tokoh fiksi yang berprofesi sebagai investor, tulisan Kakak akan terasa lebih “bernyawa”.
Penulis yang memiliki wawasan lintas disiplin selalu memiliki daya tarik tersendiri di mata pembaca dan editor. Jadi, selain dompet makin tebal, portofolio tulisan Kakak pun jadi makin berbobot dan dipercaya. Pasti beda hasilnya dengan tulisan dari googling atau merengek ke AI.
Saran Terakhir
Menjadi penulis lepas ibarat menjadi nakhoda di kapal sendiri. Kakak bebas menentukan kapan mau berlayar di laut lepas, dan kapan mau bersandar di pelabuhan terdekat. Namun, kebebasan ini sering datang dengan satu tantangan besar: ketidakpastian arus keuangan.
Kalau dahulu, solusinya adalah menabung. Kata orang bijak, “Hemat pangkal kaya.” Sayangnya, tidak ada satu pun orang berhasil kaya hanya karena hemat. Penghematan itu sekadar usaha untuk menunda kita bangkrut.
Sementara menjadi kaya, secara teori, lebih logis dicapai dengan bekerja atau berinvestasi, atau lebih mantap lagi: melakukan keduanya sekaligus!
Jadi, berapapun penghasilan Kakak, mulailah berinvestasi. Abaikan kalau ada yang menyarankan, “Jangan mulai investasi dulu sebelum kamu punya dana menganggur minimal Rp100 juta.”
Omong kosong!
Mulai saja. Bisa, kok, kita berinvestasi hanya dengan Rp10.000. Namun, kalau modalnya sekecil itu, tentu saja konteksnya hanya untuk belajar. Jangan berharap hasilnya bisa menghidupi kita.
Kalau investornya jago, paling-paling hasilnya 10% per tahun. Nah, kalau modal Kakak hanya Rp10.000, bahkan jika Kakak sudah jago, sepuluh persennya hanya Rp100 per tahun. Dibagi 12 bulan, berarti per bulan mendapatkan Rp8,3. Hahahaha…. buat apa uang segitu?
Namun, seiring dengan bertambahnya modal dan pengalaman investasi, penghasilan Kakak dari investasi akan membaik.
Yang penting, mulailah memandang uang bukan hanya sebagai alat tukar, tetapi sebagai benih yang harus ditanam agar bisa dipanen sewaktu dibutuhkan. Jangan merasa masih terlalu muda. Jika Kakak sudah punya tabungan, artinya Kakak layak dan memang harus mulai investasi sekarang juga!
Oh ya, kalau portofolio Kakak sudah banyak dan bingung bagaimana mencatatnya, silakan gunakan aplikasi Wufi Provisalis. Dengan begitu, catatan akan mudah dan aman. Selamat mulai investasi!