Ingin Terlibat di M-Komik? Baca Ini Dulu

By: Brahmanto Anindito

Anda mungkin komikus yang memiliki tumpukan karya di rumah. Saat beberapa penyedia konten menawarkan layanan komik seluler, Anda pun tertarik, bukan sebagai konsumen, melainkan sebagai salah satu pemasok komiknya. Ini tentu bagus. Karena “industri” perkomikan Indonesia sejatinya masih perlu banyak variasi komik buatan anak negeri. Yang perlu Anda lakukan tinggal menghubungi penyelenggaranya untuk menanyakan prosedur detail.

Ariela Kristantina adalah salah seorang PIC (Public Information Centre) M-Komik Telkomsel yang sekaligus komikus di komunitas Splash. Berikut petikan wawancara saya dengan wanita kelahiran Bandung, 20 Februari 1983 yang juga desainer grafis ini. Semoga bisa memberikan gambaran mengenai komik seluler dan bagaimana cara terlibat di dalamnya sebagai komikus.

Terobosan komik seluler ini bolehlah dibilang baru di Indonesia. Tapi apa sih keunggulan dan kelemahannya, menurut Anda?

Kelemahan komik seluler itu ada pada keterbatasan ukuran file. Ketika materi komik lebih besar dari 250 KB, loading-nya akan terasa berat. Jadi maksimal hanya ada delapan panel, atau dalam komik seluler sama dengan delapan halaman. Biaya GPRS yang masih mahal untuk browsing judul atau katalog juga hambatan. Tidak semua ponsel mendukung GPRS atau bluetooth. Selain itu, perbedaan OS ponsel, Symbian atau Java, berpengaruh pada kinerja aplikasi M-Komik.

Kalau keunggulannya ya antara lain mudah diakses, gampang dibawa-bawa dan dibaca. Mobile, tapi tak makan tempat. Penyimpanan atau storage lebih praktis, tahan lama, tidak cepat rusak dimakan usia. Komik seluler juga lebih interaktif. Tergantung fasilitas ponselnya juga sih: efek getar, efek suara, cahaya, dsb.

Omong-omong, bisa tidak kita melompati era kejayaan komik fisik dan langsung menuju era komik digital?

Menurut saya, belum bisa sih, paling tidak untuk beberapa tahun mendatang. Harga ponsel yang punya fasilitas GPRS atau bluetooth dan tarif GPRS per KB yang tidak ekonomis menyebabkan orang malas membeli komik seluler. Saat ini, komik seluler fungsinya sebagai hiburan pelengkap saja, sebelum orang tertarik membeli komik fisiknya. Atau sebaliknya, komik digital dicari-cari karena berisi hasil scan komik fisik yang sudah beredar tapi sulit didapatkan, seperti komik-komik tua.

Siapa saja yang bisa menjual komik via M-Komik? Apakah komikus pemula boleh?

Memang ide awalnya adalah mengajak sebanyak-banyaknya komikus yang punya karya yang bisa dipertanggungjawabkan, dengan Splash yang mengurusi manajemennya. Selain Splash, sebenarnya ada juga Akademi Samali (PIC Beng Rahadian) dan KomikIndonesia.com (PIC Surjorimba Suroto). Kalau ada teman-teman komikus yang punya kemampuan dan tertarik bergabung, kami akan dengan senang hati menampung.

Tidak perlu komikus beraliran manga. Apa saja, tidak ada masalah. Sejujurnya, studio kami pribadi sudah tidak memisah-misahkan aliran dalam berkarya. Darimanapun referensinya, bagi saya, komik ya komik saja.

Bagaimana pembagian keuntungannya nanti, beli putus atau royalti?

Pembagian keuntungannya sebagian dengan provider, sebagian dengan penyedia engine M-Komik dan situsnya.

Komik seperti apa yang dapat dijadikan komik seluler?

Tentang format, yang penting maksimal delapan halaman atau panel. Bisa bersambung atau merupakan one-shot story, hitam-putih maupun full color, pewarnaan manual maupun digital. Tapi yang diwarnai manual lalu di-scan umumnya punya ukuran file yang lebih besar daripada yang diwarnai secara digital. Kemudian tentang cerita, ada enam kategori yang disediakan inTouch: Laga, Komedi, Horor, Fantasi, Drama, Wayang. Cukup variatif kan?

Bisa Anda terangkan teknis penyetoran dan penyeleksian materi di M-Komik?

Prosedur singkatnya begini: Kami mulai dari seleksi dulu. Rata-rata yang kami ajak adalah teman-teman di komunitas atau justru pembaca majalah Splash yang punya potensi. Umumnya, komikus yang diajak adalah mereka yang sudah memiliki karya orisinal sendiri.

Setelah komikus oke dengan tawaran dan menyetujui surat kontrak dengan manajemen, dia boleh langsung mengirim paket komiknya. Splash tidak mengedit cerita. Setelah lolos melalui editing standar, yaitu sebatas konten eksplisit yang boleh ditampilkan, komik itu kami paketkan dalam aplikasi M-Komik bernama M-Komik Composer yang disediakan inTouch, gratis untuk komikus-komikus yang bernaung dalam manajemen Splash, Akademi Samali, dan Komik Indonesia. Komposer ini berfungsi untuk membuat gambar-gambar kiriman komikus menjadi paket yang siap di-download melalui ponsel.

Setelah itu, Splash yang meng-upload karya-karya tersebut melalui situs M-Komik. Splash jugalah yang bertanggung jawab merevisi pengiriman paket jika terjadi kesalahan, mengawasi laporan penjualan, dan membagi laporan itu kepada komikus yang bernaung di bawahnya.

Anda optimis komik seluler mampu memalingkan pembaca Indonesia ke karya-karya komikus lokal? Bukannya dengan mendigitalisasi komik, segmen produk akan kian menyempit pada orang-orang yang melek teknologi?

Karena saya penyedia konten yang tiap bulannya upload, tentunya saya cukup optimis, hehehe. Kerjasama Studio Splash dengan salah satu provider yang sekarang adalah kerjasama yang kedua dalam bisnis penyediaan komik digital. Yang pertama dulu berakhir Oktober 2007.

Sebenarnya kalau diharapkan bisa dengan cepat menarik pembaca komik ke karya lokal ya mungkin tidak juga. Ini sifatnya cenderung ke pengenalan secara perlahan-lahan ke karya komik lokal yang terbaru, dan pelestarian komik-komik lawas yang edisi cetaknya sudah terbatas atau sulit diperoleh.

Tapi saya rasa digitalisasi komik bukannya menyempitkan. Justru ini akan meluaskan segmen pembaca ke mereka yang lebih berorientasi pada teknologi, selalu mobile, dan tidak punya waktu untuk mencari komik cetakan di toko buku.

4 Replies to “Ingin Terlibat di M-Komik? Baca Ini Dulu”

  1. Ryan

    Hi, salam kenal buat penjaga warung. Saya seorang komikus dari Manado, tapi ngomik saat senggang saja. Btw, saya cukup tertarik dengan komik ponsel ini tapi ragu juga ama prospeknya. Ada saran Pak, Bu?

    Reply
  2. Brahm

    Thx XR & Ryan. Iya, sebagai konsumen M-Komik kita harus pakai Telkomsel. Tp sbg produsen (komikus) yg menyetorkan materi, terserah.

    Soal prospek ini, aku jg tanya ke Wisnoe Lee dan Ariela. Penghasilan mereka dari komik fisik lbh banyak dari komik seluler. Penyebaran teknologi ponsel di Indonesia kan belum merata, sehingga sosialisasi untuk komik digital masih terbatas. Bagaimanapun kata Ariela, “Saya yakin, apabila didukung dengan promosi, seperti halnya RBT, komik digital bisa jadi salah satu sumber pemasukan besar bagi komikus di kemudian hari. Apalagi kalau nantinya bisa diakses melalui 3G.” IMHO, ikut terlibat saja. Toh nggak ada ruginya, bahkan menambah jam terbang.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.