Pasar Durian Widodaren yang Kini Terpinggirkan

March 16, 2008
By Ihsan Maulana

by: Ihsan Maulana

Tahun ’70-an, pasar tradisional masih memiliki tajinya sebagai pusat perbelanjaan masyarakat Surabaya. Tapi cerita menjadi lain saat pasar modern mulai bertumbuhan di bumi pahlawan. Pasar tradisional mulai terpinggirkan. Walau begitu, tercatat beberapa pasar tradisional masih bisa meniupkan napas kehidupan bagi penghuninya. Salah satunya adalah pasar durian Widodaren yang terletak di Jl. Anjasmoro, sebelah barat Jl. Kedung Doro, Surabaya.

Pasar durian Widodaren sebenarnya sebuah nama pasar buah yang akrab di telinga masyarakat Surabaya di tahun 1980-an. Tidak cuma penjual durian, di sana sebenarnya juga terdapat puluhan penjual buah lainnya. Menurut Mbah Mat yang berjualan di Pasar Kedungsari yang tutup riwayat, dulu saat jam istirahat dan sore hari, pasar ini selalu ramai dikunjungi oleh orang.

Tapi kemegahan tersebut sekarang tinggal cerita. Karena di pasar yang dulunya suka dikunjungi almarhum mantan Walikota Surabaya Sunarto ini tinggal 15-an penjual durian saja yang bertahan. Itupun menurut kesaksian para pedagang di sana, satu kios buah paling-paling hanya bisa menjual 20-an buah setiap harinya.

Saksi akan kejayaan pasar Widodaren diungkapkan oleh Mbah Siti, wanita renta berusia 60 tahun yang tetap setia berjualan durian sejak pasar ini berdiri. Menurut penuturannya, berjualan di pasar Widodaren adalah prestise tersendiri bagi keluarganya yang telah lama tinggal di Surabaya. Kalau sekarang?

“Boro-boro prestise, bisa buat makan dan anak sekolah saja sudah untung,” timbrung Fitri, cucu Mbah Situ yang mengikuti suaminya berjualan di tempat ini sejak tahun 1977. Mereka prihatin. “Ini mungkin akibat banyaknya supermarket di Surabaya sejak 1990-an. Sekarang banyak orang pribumi yang lebih memilih berbelanja buah di pasar-pasar modern. Yang banyak beli durian di tempat ini malah WNI keturunan.” Memang, dari pantauan saya, beberapa pembeli di tempat ini adalah warga keturunan Tionghoa.

Durian yang disediakan di tempat ini adalah durian asli Indonesia. Durian Indonesia sendiri dikenal lebih manis, warna dagingnya lebih pucat, memiliki tekstur lebih kecil dibanding durian luar negeri. Walau begitu, ia lebih beraroma. Demikianlah yang dikemukan oleh Sinyo Yudha, sorang pembeli keturunan Tionghoa yang ditemui di tempat ini. Yudha pun menganggap durian Indonesia lebih berkualitas daripada durian impor yang biasa kita temui di supermarket. “Walau kita juga harus mengakui, durian impor ukurannya lebih besar dan dagingnya lebih tebal,” imbuhnya.

Bicara harga, durian di pasar Widodaren relatif lebih murah dibanding harga durian di supermarket. Dengan hanya mengeluarkan uang sekitar sepuluh ribu, kita sudah bisa mendapatkan satu buah durian manis hasil petani Indonesia. Mungkin Anda perlu mencobanya sendiri.

Tags:

4 Responses to “ Pasar Durian Widodaren yang Kini Terpinggirkan ”

  1. fotokalipaksi on March 23, 2008 at 3:22 pm

    terima kasih atas infonya. Berguna sangat. Salam kenal.

  2. Ihsan Maulana on March 24, 2008 at 9:03 am

    Wufi memang ingin menyajikan hal-hal yang selama ini kurang mendapat perhatian. Sehingga dengan hal tersebut kita bisa mengangkat isu-isu lokal yang terabaikan di samping hal-hal global yang inspiratif

  3. becks on August 6, 2008 at 10:44 am

    thanks banget infonya bro.. besok gw mau jalan2 ke sby
    lam kenal…

    becks

  4. Brahmanto Anindito on August 7, 2008 at 9:53 am

    Lam kenal jg, Becks.

Leave a Reply

CommentLuv Enabled