You Can Podcast Too

You can podcast too

Podcast is a hybrid of internet and radio. A quite new way to communicate things profiting the auditory media advantages. It is good not only as a content marketing weapon, but also as a gold miner itself since you are able to tape-in advertisement in your podcast files, do crowdfund, affiliate marketing, sell products, resell, dropship, or offer a podcasting service to companies.

What should you podcast about? Many things! From news, motivation, tips & trick, interview with successful people, comedy show, relaxation guide, and so on. You can podcast your (written) fiction too, actually.

How to make a podcast? Just make a script (concept), give your voice based on that while recording it, then edit it. That’s all! Your podcast is ready to be uploaded to a host and syndicated through RSS feed. Don’t forget to tell friends and relatives, especially when your podcast channel still has few subscribers. It’s what “cast” means in podcast, after all.

* * *

Sewaktu kecil, saya suka sekali menyimak sandiwara radio Saur Sepuh, Tutur Tinular, dan Misteri Gunung Merapi. Saya bersama kakak saya bahkan kemudian menulis cerita-cerita serupa untuk diperankan oleh teman-teman kompleks dan, tentu saja, saya sendiri. Kami merekam drama amatir tersebut melalui tape compo yang saat itu sebesar printer modern.

Proses pengambilan suara selesai, kaset diputar ulang di tape compo yang sama. Kami duduk smengelilinginya. Begitu tenang menyimak. Namun, tawa kami segera meledak setiap kali terdengar dialog yang meleset atau canggung. Bagaimanapun, secara umum, kami puas dapat menghasilkan karya “selevel” drama-drama radio beken di era itu.

Sayangnya, setelah saya SMP, stasiun-stasiun radio semakin jarang menyiarkan drama-drama audiotory begitu. Barangkali karena kalah bersaing dengan televisi dan internet. Radio sebagai media saja sudah banyak ditinggalkan.

Namun jangan salah, media yang berfokus pada telinga ini tidak pernah mati. Sehebat apapun televisi atau internet, radio takkan bisa mereka bunuh. Apalagi jika radio terus ber-evolusi mengikuti perkembangan teknologi. Menjadi podcast, contohnya. Inilah hasil perkawinan media auditory dengan internet.

Apa Itu Podcast

Kata majemuk ini terdiri dari singkatan “POD” (Personal On Demand atau Portable On Demand atau Play On Demand) dan “cast” (menampilkan/menyiarkan). Berbeda dengan televisi atau radio konvensional, podcast memungkinkan kita menikmati acara atau program favorit kapan saja kita mau. Anda bisa mendengarkannya di komputer, ponsel, atau gawai-gawai lainnya.

Kita dapat memanfaatkannya, baik untuk membuat drama-drama seperti waktu saya SD maupun nonfiksi (berita, wawancara tokoh sukses, ceramah motivasi, khotbah, panduan relaksasi).

Podcast bukan media yang rumit. Tentu saja, selalu ada pilihan alat-alat (dan studio) yang canggih serta mahal bila ingin menjadi podcaster yang serius. Tetapi sekadar untuk membuatnya, bisa jadi ini sesimpel dan seasyik perekaman lewat tape compo zaman dulu. Anda tinggal merekam, mengedit, lantas mengunggahnya.

Durasinya? Bebas, sesuaikan saja dengan kebutuhan. Namun jangan lupa, sediakan online storage atau ruang simpan daring kira-kira 2 MB untuk setiap menitnya. Jadi, membuat podcast 10 menit harus siap ruang minimal 20 MB. Memang lebih memakan tempat ketimbang karya berbasis teks, tetapi masih lebih hemat ruang dibanding produksi video.

Di samping opsi meletakkan podcast-podcast tersebut di server sendiri, Anda juga dapat menitipkannya ke pihak ketiga yang memang profesional di bidang penyediaan space daring. Inilah yang disebut sebagai podcast host. Tenang, selalu ada layanan yang gratis dan bermutu. Nanti kita akan membahasnya di subbab tersendiri.

Keunggulan Podcast

Kelebihan media podcast nyaris sama dengan radio. Malah lebih unggul, rasanya. Kelemahan podcast dibanding radio mungkin hanya kebutuhannya akan koneksi internet. Lebih detailnya, berikut ini beberapa keunggulan podcast, bukan saja dibandingkan radio, tetapi juga dibandingkan video (YouTube) sekalipun:

  1. Tidak selintas seperti radio. Karena sudah dalam bentuk file (rekaman), apapun yang ada di podcast akan selamanya di sana. Kecuali, tentu saja, bila sang podcaster menghapus podcast tersebut atau ada masalah dengan host-nya.
  2. Memungkinkan dinikmati kapan saja. Apalagi bila sudah diunduh, kita tidak perlu internet lagi untuk menikmatinya. Cukup laptop, ponsel, atau gawai lainnya sebagai pemutarnya.
  3. Bisa disambi saat menikmatinya. Lantaran hanya butuh telinga untuk menikmati podcast, mata dan tangan kita bisa melakukan hal-hal lainnya. Anda bisa mendengarkan podcast sembari setrika, joging, menyetir, di atas angkot, atau antre di rumah sakit.
  4. Terdengar lebih intim. Mendengar podcast, seolah ada seseorang yang berbicara langsung kepada kita. Minimal, mendengar podcaster bicara atau berdialog seperti mendengar teman-teman yang bersenda gurau di depan kita.
  5. Berguna untuk tunanetra. Coba pikirkan, inovasi-inovasi hebat dalam peradaban kita terlalu banyak yang bersifat visual, sehingga tidak memberi kebahagiaan apapun bagi kaum difabel penglihatan. Dengan podcasting secara rutin, artinya Anda membantu mereka untuk memperoleh informasi dan hiburan alternatif.

Menilik kelebihan-kelebihan podcast itu, tidak mengherankan bila pertumbuhannya tergolong pesat. Menurut data PwC dalam laporan berjudul Global Entertainment & Media Outlook 2018-2020, industri podcast meningkat 10 kali lipat dalam empat tahun terakhir.

Sementara menurut Podcast Insight, saat ini, setidaknya ada 700.000 kanal podcast yang aktif, dengan lebih dari 29 juta episode. Pendengarnya? Reuters Institute merilis temuannya melalui Digital News Report, bahwa pendengar podcast mencapai 78 juta pada 2017 saja.

Angka-angka yang mencengangkan, bukan?

Peralatan untuk Membuat Podcast

Produksi podcast itu hanya seputar dua urusan: merekam suara dan mengeditnya hingga menjadi podcast yang enak didengar. Jadi, alat-alat yang harus disiapkan sebenarnya hanya ini:

  1. Studio. Sebagai awalan, gunakan ruang apa saja, asalkan tidak berisik dan suara kita tidak menggaung.
  2. Perekam Suara. Sebagai awalan, Anda dapat menggunakan fitur Recorder dalam ponsel Anda. Beberapa aplikasi podcast yang dibuat oleh host podcast juga menyediakan fitur perekam suara, plus editingnya. Praktis! Tetapi, tetap saja peranti-peranti keras pendukungnya harus kita miliki.
  3. Mikrofon, Clip-on, dan Splitter. Sekalipun Anda dapat merekam suara langsung dari gawai atau laptop, sangat tidak disarankan menggunakan mikrofon internalnya. Sediakan clip-on atau mikrofon sederhana dengan filter udara, supaya suara yang dihasilkan lebih jernih. Harganya hanya puluhan ribu rupiah. Atau jika ingin hasil yang lebih bagus, yang seharga ratusan ribu hingga jutaan juga ada.
  4. Software Sound Editor. Kalau belum mau keluar uang, silakan unduh dan instal Audacity. Atau bisa juga memanfaatkan fitur di aplikasi podcast.

Kebutuhan-kebutuhan lainnya adalah suara naratornya, jingle, sound effect, kemampuan mengedit. Namun, semua itu dapat diperoleh sambil jalan.

Host Podcast Terbaik, Gratis, 2019

Hosting podcast menyediakan ruang bagi kita, podcaster, untuk menyimpan dan menyiarkan podcast ke publik. Di sana, Anda tinggal mendaftar dan mengisi detail mengenai siapa Anda, acara Anda tentang apa, podcast-nya dalam bahasa apa, dan sebagainya. Kemudian, mulai unggah podcast Anda, episode demi episode.

Ada beberapa pertimbangan sebelum Anda menjatuhkan pilihan pada host podcast yang terbaik menurut Anda. Periksa dulu, apakah mereka memiliki fitur:

  • Subscribe system. Sehingga, siapapun dapat berlangganan podcast Anda dalam sekali klik. Ketika orang sudah berlangganan atau subscribed, mereka akan mendapat notifikasi setiap kali Anda merilis episode baru.
  • RSS feed. Dengan feed, podcast Anda otomatis didistribusikan ke komunitas mereka, bahkan bisa diindeks oleh mesin pencari seperti Google.
  • Statistic. Laporan analitik yang komprehensif memungkinkan Anda mengamati perilaku pendengar atau subscribers. Misalnya, berapa pendengar Anda, dari negara mana saja, kapan mereka biasanya mengakses podcast Anda, di episode mana berdatangan subscribers baru, dan seterusnya.
  • Streaming atau Live. Terkadang, Anda perlu melakukan siaran langsung ketika ada peristiwa yang genting. Hosting podcast yang andal menyediakan opsi ini.

Nah, itulah kualitas yang diharapkan dari sebuah host podcast. Sekarang, saatnya menjajaki satu per satu host tersebut. Di antara banyak host podcast di jagat maya, Warung Fiksi merekomendasikan Anda untuk mencoba enam situs web ini:

  1. SoundCloud
  2. Podomatic
  3. BuzzSprout
  4. Spreaker
  5. Anchor (saran: perhatikan syarat dan ketentuannya terkait hak cipta dan distribusi podcast Anda)
  6. Spotify

Beberapa host podcast juga memiliki aplikasi untuk diunduh di ponsel Android atau iPhone. Jadi selain menyediakan ruang, mereka juga memfasilitasinya dengan sofware perekam serta pengeditannya. Bahkan juga stok files audio bebas royalti untuk mempermanis episode-episode podcast Anda.

Bagaimana Cara Membuat Podcast

Tidak harus menjadi penyiar atau mantan penyiar untuk dapat membuat podcast, sama dengan tidak harus menjadi artis untuk berkecimpung dalam YouTube. Ada dua hal mendasar yang dibutuhkan dalam dunia podcasting. Pertama, pengucapan suara yang jelas. Kedua, kreativitas untuk membuat podcast yang menarik serta mengembangkan kanal.

Kreativitas juga diperlukan untuk menentukan ceruk atau niche kanal podcast. Jangan sampai Anda membuat kanal tanpa tahu tema utamanya, atau berpikir, “Apa sajalah! Semua bisa dibahas di podcast, kan?” Membuat kanal yang berisi tema campur aduk hanya berhasil bila Anda orang yang sudah terkenal atau artis. Karena dalam kondisi itu, orang akan mendengarkan apapun dari Anda.

Namun jika Anda orang biasa-biasa saja, sebaiknya jangan membuat calon pendengar Anda bingung dengan isi konten yang gado-gado. Tentukan, Anda suka apa? Anda ahli apa? Anda berencana bicara apa dalam, katakanlah, 100 episode ke depan? Bila orang tidak mendapat gambaran tentang itu, mereka takkan subscribe. Bahkan, takkan mau mendengarkan podcastnya.

Jadi, suara dan konsep harus jelas sejak awal. Selebihnya, semua keterampilan seorang podcaster bisa dipelajari sambil jalan.

Sebagai awalan, Anda bisa intip bagaimana menulis untuk telinga. Di slides tersebut, terdapat juga contoh naskah rancangan (script) sebuah podcast yang profesional. Namun, naskah podcast sebenarnya dapat dibuat sederhana begini:

Musik pembuka

SFX. Suara aliran sungai

NARATOR: Di sekitar sungai yang besar, hiduplah seekor kelinci yang ceria dan beruang yang pemarah. Si Kelinci tinggal di sisi utara sungai. Sementara, di sisi selatan, si Beruang sedang menikmati buah kesukaannya.

KELINCI: (Teriak) Hoee! Hoe, Beruang, menyeberanglah kemari! Ada yang mau kutunjukkan padamu!

BERUANG: (Teriak, dengan mulut penuh makanan) Nanti saja! Aku sedang makan siang!

KELINCI: Ayolaaaah! Ini benar-benar penting buatmu…

Sunyi 2 detik

KELINCI: Cepatlah, gendut! Atau kau akan melewatkannya!!

BERUANG: (Mengunyah sisa makanannya dan berkata dengan ogah-ogahan) Hm, baiklah, baiklah….

SFX. Suara beruang mencebur ke sungai

NARATOR: Si Beruang pun menyeberangi sungai yang deras itu, demi memuaskan rasa penasarannya terhadap apa yang yang hendak dikatakan kelinci.

SFX. Suara Beruang berjuang melawan derasnya air (5 detik)

BERUANG: (Terengah-engah) Nah… apa… yang ingin… kau beritahukan, Kelinci?

KELINCI: Beruang, coba kau lihat ke seberang sungai ini. Banyak sekali buah-buahan di sana! Lihat, waaaah, kau pasti menyukainya!

Lihat, mudah bukan menulis skrip sebuah podcast?

Setelah podcast Anda jadi, dengarkan berulang-ulang. Jika ada yang ingin diubah, ubahlah. Namun bila sudah yakin dan puas, unggahlah ke situs web Anda sendiri atau ke host podcast. Sindikasikan feed-nya. Karena file audio yang tidak “disiarkan” di internet itu bukanlah podcast namanya.

Jangan lupa juga untuk mempromosikannya, agar semakin banyak yang mendengar dan berlangganan.

Cari Uang Lewat Podcast

Sesudah mulai nyaman dan profesional ber-podcast ria, mungkin alternatif ini menarik perhatian Anda: Bagaimana caranya mencari uang dari podcast? Ada setidaknya lima ide monetasi:

  1. Advertisement (uangnya dari tarif iklan). Bagi pengiklan, keuntungan beriklan di podcast adalah durasi tayangnya yang jauh lebih lama, tidak selintas seperti di radio. Namun, untuk berharap uang dari iklan, Anda harus memiliki pendengar atau subscribers yang banyak. Sebab, pengiklan biasanya belum tertarik untuk menanamkan uangnya di podcast yang hanya dilanggan oleh seribu atau dua ribu orang.
  2. Crowdfund (uangnya dari donasi). Ya, Anda pun dapat melakukan penggalangan dana untuk membiayai operasional podcasting Anda. Konsekuensinya, konten podcast Anda harus berguna bagi banyak orang, minimal bagi komunitas tertentu (sesuai tema kanal podcast Anda). Jika kanal Anda tidak dipandang bermanfaat, siapa yang mau menyumbang?
  3. Affiliate Marketing (uangnya dari komisi). Dalam podcast, Anda bisa mengarahkan pendengar untuk membeli sesuatu melalui alamat laman landas (landing page) yang Anda bagikan secara lisan. Jika lead tersebut menghasilkan penjualan, tinggal menunggu pemilik produk mentransfer komisi ke rekening Anda.
  4. Podcasting Service (uangnya dari honor). Kalau Anda sudah ahli di bidang podcasting, alat-alat serta studionya memadai, memiliki talenta-talenta dengan berbagai warna suara, mengapa tidak menawarkan jasa produksi serial podcast ke perusahaan-perusahaan atau lembaga-lembaga? Sampaikan pentingnya merilis podcast dalam membangun bisnis mereka, perkenalkan tim Anda yang sudah banyak makan asam-garam di belantara podcasting, lalu berikan penawaran itu.
  5. Sell/Resell/Dropship. Ini seperti afiliasi, tetapi Anda menjual produknya sendiri. Kecuali sebagai dropshipper, jika ada orang yang membeli, (tim) Anda sendiri yang harus mengepak hingga mengirim barangnya ke pembeli. Bisa juga yang dijual adalah jasa. Selain itu, Anda dapat pula menjual produk digital seperti e-book atau e-voucher seminar.

Potensi podcast sangat luas. Anda dapat memanfaatkannya untuk bersenang-senang (seperti kami saat SD dulu), membangun personal brand, membantu bisnis dengan strategi content marketing, atau justru mencari uang langsung dengan episode-episode podcast tersebut. Jangan bilang Anda tidak tertarik.

PS: Looking for fiction writing opportunity in podcast? Here is one of them.

7 Replies to “You Can Podcast Too”

  1. dominique

    sepertinya menyenangkan.
    tapi berat kalo di taruh di webhost sendiri, bikin berat situs.
    ada rekomendasi tempat penampungan podcast yang oke punya ??

    Reply
  2. Brahmanto Anindito Post author

    @Dominique: Aku pernah nyari tempat2 free host podcast. Nyoba beberapa. Tp kupikir yg terbaik, seperti kata Imam IDCerita, ditaruh di host sendiri. Memang berat (di ongkos).

    @Cherie: Fun, pastinya.

    Reply
  3. Brahmanto Anindito Post author

    Udah dong, Adhi. Odiogo jelas udah.

    Cara manual juga udah. Dari aku kecil, bahkan. Bedanya sekarang kan hasilnya dlm bentuk digital dan disiarkan di internet, jd prosesnya pun lbh canggih dibanding proses produksi di zaman baheula dulu.

    Untuk profesional, layanan kami bisa dilihat di sini 🙂

    Reply
  4. Brahmanto Anindito Post author

    Jiakakakak… kayak bule belajar Indonesia ya. Makanya aku nggak merekomendasikan software2 pembantu spt di Odiogo.com kalau kontennya bukan berbahasa Inggris. Berbahasa Inggris pun punya kelemahan, ternyata: gaya ngomongnya lempeng, nggak ada emosinya. Yah, yg terbaik adalah menggarap podcast secara manual, memang.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.