Mengapa Detektif Conan belum juga lulus SD? Ada berapa koleksi pakaian kelasi Donal Bebek? Kenapa SpongeBob tak pernah menua meski sudah tampil sejak 1999? Aneh, tetapi beginilah aturan tak tertulis kartun atau komik serial.
Di dunia nyata, hal-hal seperti itu cukup janggal. Namun, di seri komik, kartun, maupun animasi, logika ceritanya memang agak lain. Para kreator di medium ini ternyata punya kesepakatan rahasia sendiri. Apa saja itu?
4 Aturan Tak Tertulis Kartun dan Komik Serial
Sedang merancang serial komik atau kartun? Kalau begitu, Kakak perlu tahu empat rambu tak tertulis yang terkesan absurd ini.
1. Pakaiannya itu-itu saja
Bagi manusia biasa, mengenakan busana yang sama selama tiga hari berturut-turut adalah bencana sosial. Namun, bagi karakter komik, satu setel pakaian adalah tanda pengenal seumur hidup. Demikianlah aturan tak tertulis kartun yang pertama. Buktinya:
- Lucky Luke setia dengan kemeja kuning, rompi hitam, dan syal merahnya di tengah teriknya gurun Wild West.
- Upin dan Ipin, dengan kaus singlet berhuruf ‘U’ dan ‘I’, tampaknya punya stok pakaian yang persis sama di dalam lemari mereka sampai hari kiamat.
- Bahkan di manga petualangan laut lepas seperti One Piece, Luffy butuh waktu bertahun-tahun atau pergantian babak/pulau besar hanya untuk sekadar mengganti warna rompinya.
Jadi, kalau Kakak mau membuat kartun atau komik serial, jangan repot-repot memikirkan, “Di seri berikut, pakaian mereka apa, ya?” Sarannya justru, buatlah pakaian mereka itu-itu saja selama bertahun-tahun, bahkan selama puluhan tahun. Takkan ada pembaca atau penonton yang protes!
Pakaian-pakaian ikonik justru membuat audiens Kakak langsung mengenali para tokoh kartun itu. Mau sang tokoh sedang di kantor, sekolah, kampus, atau bersantai, kenakan pakaian yang sama.
Tentu saja, ada kalanya, tokoh-tokoh itu berganti busana. Misalnya, saat Homer dan Marge Simpsons tidur di kamar, mereka mengenakan piyama. Atau saat Kwak, Kwik, dan Kwek menghadiri acara perkemahan, mereka mengenakan seragam pramuka. Namun, di luar itu, pakaian mereka hampir selalu terkunci di satu varian.
2. Tokohnya menolak tua
Di dunia nyata, rezim pemerintahan boleh berganti, teknologi boleh beralih dari penyeranta ke WhatsApp, tetapi tokoh-tokoh di dunia komik dan kartun akan tetap bertahan di usianya saat itu. Konsep waktu itu cair bagi tokoh-tokoh serial kartun.
- Shinichi Kudo (Detektif Conan) sudah memecahkan ratusan kasus pembunuhan rumit, tetapi statusnya masih murid SD.
- Bart Simpson (The Simpsons) sudah nakal dan kena hukuman menulis di papan tulis sejak Desember 1989. Sampai era AI begini, ia belum pernah naik ke kelas lima, dan masih harus mengerjakan hukuman itu.
- Sinchan tetap anak TK berumur 5 tahun yang badung, tak peduli sudah berapa dekade komiknya terbit.
- Asterix dan Obelix tidak pernah punya anak atau menjadi jompo, meskipun mereka terus melakukan perjalanan ke Mesir, India, dan negara-negara lain yang pastinya memakan usia mereka selama puluhan tahun.
Ajaibnya, dengan mudah, mereka menggunakan teknologi-teknologi baru menyesuaikan dengan zaman. Seolah-olah, sejak awal mereka hidup di era yang ponsel pintar, AI, atau mobil listrik. Jadi, zamannya tetap berjalan, tetapi tokoh-tokohnya membeku di usianya.
Aturan tak tertulis kartun dan komik memberi tahu kita, konsep floating timeline (garis waktu mengambang) ini fungsinya menjaga premis cerita tetap seperti sedia kala.
Bayangkan seandainya Kakak nekat membuat tokoh-tokoh itu beranjak dewasa atau bertambah tua, mengikuti zaman. Bumbu kepolosan, kenakalan, semangat iseng, ciri khas, atau apapun dinamika cerita aslinya bisa lenyap seketika. Jadi ruwet, kan, mengarang ceritanya?
3. Usahakan tanpa orang tua
Siapa orang tua Mickey Mouse? Kakak tahu bapaknya Popeye? Ibunya Bugs Bunny? Ke mana orang tua Masha (Masha and the Bear), sampai-sampai seekor beruang yang akhirnya mengasuhnya? Kreator-kreator mereka seolah sengaja membiarkannya tidak jelas.
Memang, tokoh-tokoh komik atau kartun biasanya tumbuh tanpa orang tua. Atau kalaupun ada, berdasarkan aturan tak tertulis kartun, biasanya orang tua mereka:
- Sedang bekerja di luar wilayah itu tanpa batas waktu.
- Tidak pernah terlihat wajahnya, hanya ada suara dari balik pintu, atau sepasang kaki bersandal, seperti di serial Tom and Jerry atau kartun Peanuts/Charlie Brown.
- Cuek sampai-sampai membiarkan anak umur 10 tahun berkelana keliling dunia membawa monster listrik, seperti Pokémon.
- Sudah meninggal di seri-seri awal, seperti Hadasi no Gen atau Gen Si Kaki Ayam.
Makanya, kalau hendak merancang komik atau kartun yang panjang, jadikan tokoh orang tua prioritas terakhir saja. Begitulah aturan tak tertulis kartun atau komik. Tentu saja kecuali bila ceritanya memang tentang keluarga yang utuh, seperti The Simpsons.
Bukan apa-apa, Kak. Masalahnya, seandainya tokoh orang tua hadir secara realistis dan berfungsi penuh di sana, alur cerita akan macet.
Bayangkan Peter Parker (Spiderman) harus merayu ibunya sebelum bisa keluar tengah malam untuk membasmi kejahatan, atau papa Tintin melarangnya pergi ke Amerika Serikat karena di sana sedang banyak mafia. Cerita bisa-bisa langsung tamat di halaman kedua! Hahaha….
4. Hewan peliharaannya lebih waras
Ini juga termasuk aturan tak tertulis kartun. Bila sebuah serial komik atau kartun memasukkan tokoh hewan peliharaan, hukum alamnya hampir pasti terbalik: manusianya bertingkah absurd, sementara binatang peliharaannya justru rasional. Lihat saja:
- Snoopy jauh lebih pandai berfilsafat dan mengetik novel daripada Charlie Brown.
- Garfield lebih menguasai sarkasme dan dinamika hidup ketimbang Jon Arbuckle yang kikuk.
- Milou atau Snowy sering menjadi pihak yang menyelamatkan Tintin saat sang wartawan yang terlalu polos menghadapi bahaya.
Hewan-hewan ini biasanya tidak berbicara secara verbal kepada majikannya, melainkan lewat balon pikiran atau tatapan sinis ke arah pembaca. Mereka inilah yang mewakili kebingungan kita dalam melihat tingkah aneh sang tokoh utama di dunia komik.
Logika Boleh Hilang di Aturan Tak Tertulis Kartun
Aturan-aturan di atas terdengar konyol jika diukur dengan nalar realistis. Namun, justru dari ketidakteraturan dan kemustahilan itulah sebuah serial komik tampil menghibur. Kerja penulis maupun ilustrator pun jadi lebih praktis.
Sebab, aturan-aturan tak tertulis kartun dan komik ini akan menjaga konsistensi visual, mempermudah produksi ratusan bab cerita, dan yang terpenting: memberikan ruang bagi imajinasi audiens untuk melarikan diri sejenak dari dunia nyata yang kerap terlalu kaku dan membosankan.
Oke! Sampai sini, apakah Kakak jadi makin tertantang untuk membuat serial komik sendiri?
Langkah pertama, siapkan satu setel baju andalan untuk tokoh Kakak sampai beratus-ratus episode ke depan. Desainlah sebaik-baiknya, karena tokoh itu takkan ganti-ganti baju lagi.