Kaum milenial dan sebagian Gen Z yang doyan baca komik Eropa pasti mengenal koboi yang satu ini. Ialah Lucky Luke. Penampilannya khas dengan kemeja kuning, rompi hitam, topi putih, dan syal merah. Ia digambarkan mampu menembak dengan akurat, bahkan lebih cepat dari bayangannya sendiri.
Bagi beberapa orang di Indonesia, menyebut namanya saja bisa memicu gelombang nostalgia. Siang-siang, sepulang sekolah, membaca komik tipis terbitan Indira ini, wah! Bisa-bisa pikiran ikut berkelana ke teriknya padang gurun Amerika.
Lucky Luke: Pahlawan yang Tak Pernah Membunuh
Dunia Barat yang liar (Wild, Wild West), sebagaimana latar komik ini, sungguh liar. Hukum Rimba berlaku. Namun, menariknya, Lucky Luke diceritakan memegang teguh kode etiknya. Meskipun diceritakan sebagai penembak terbaik di Wild West, ia hampir tidak pernah membunuh musuhnya.
Setelah beberapa edisi awal yang agak keras (Luke sempat menembak mati Mad Jim atau geng Dalton yang asli), ia berevolusi menjadi sosok yang menggunakan keahlian menembaknya hanya untuk melucuti senjata atau menggertak lawan.
Bukan sherriff atau orang yang berwenang di suatu daerah, tetapi Luke sering bertindak atau diminta menjadi penegak hukum takresmi. Dalam komik, ia kerap berperan sebagai pengawal atau penegak keadilan. Karakternya kocak, satir, tetapi tetap berwibawa.
Petualangan Lucky Luke adalah buah karya kartunis Belgia, Maurice de Bevere, yang lebih dikenal dengan nama pena Morris, pada 1946. Awalnya, ia menggambar dan menulis ceritanya sendiri dengan gaya yang sedikit lebih kasar dan “gelap”.
Namun, pada 1955, ia mulai berkolaborasi dengan René Goscinny, pencerita spesialis parodi sejarah yang juga membidani Komik Petualangan Asterix. Goscinny mengubah Lucky Luke dari sekadar koboi tangguh menjadi pahlawan yang cerdas, humoris, dan penuh satir.
Di bawah duet maut ini, Lucky Luke memasuki masa keemasannya. Komiknya bukan hanya menyajikan petualangan yang menghibur, tetapi juga parodi cerdas terhadap sejarah Amerika, khususnya di era Wild West.
Namun, bukan dari sana Lucky Luke memperoleh penghargaan. Melainkan dari keputusan Morris untuk membuat tokohnya berhenti merokok!
Selama puluhan tahun, Luke selalu digambarkan dengan rokok yang menggantung di bibirnya. Pada 1983, Morris memutuskan mengganti rokok tersebut dengan sebatang rumput. Kalau tidak salah, Le Cavalier blanc (Pahlawan Berbaju Putih) adalah seri terakhir jagoan kita terlihat merokok.
Perubahan ini dilakukan bukan hanya karena alasan kesehatan, melainkan juga agar komik ini lebih mudah diterima di pasar Amerika Serikat yang ketat. Atas dedikasinya mempromosikan gaya hidup tanpa rokok, Morris pun menerima penghargaan khusus dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 1988.
Tokoh-Tokoh Ikonik Petualangan Lucky Luke
Semesta Petualangan Lucky Luke dihuni oleh karakter-karakter unik yang sering kali terinspirasi dari tokoh sejarah nyata atau parodi dari film Western.
Dalton bersaudara
Mereka adalah musuh bebuyutan yang paling sering muncul, walaupun tetap saja bukan tandingan Lucky Luke. Karakter ini terinspirasi dari geng kriminal nyata, tetapi diolah menjadi empat bersaudara yang konyol.
Dalton bersaudara digambarkan sebagai sepupu dari Dalton Gang asli yang tewas dalam edisi awal. Penampilan mereka dibuat unik dengan tinggi badan yang berjenjang dan kepribadian yang sangat kontras:
- Joe Dalton: Yang terpendek, tertua, dan paling pemarah. Ia adalah otak di balik setiap rencana pelarian, meskipun bolak-balik gagal total karena kecerobohannya sendiri atau saudara-saudaranya.
- Averell Dalton: Yang tertinggi, termuda, dan paling bodoh. Pikirannya hanya terisi oleh makanan, dan kepolosannya sering kali merusak rencana jahat Joe.
- Jack dan William Dalton: Dua saudara penengah yang biasanya sibuk meredam amarah Joe dan membungkam kebodohan Averell.
Selain mereka, ada juga Ma Dalton. Ibu dari Dalton bersaudara yang merupakan satu-satunya orang yang bisa membuat Joe Dalton gemetar ketakutan. Padahal, Ma Dalton begitu menganakemaskan Averell. Bisa dibayangkan, bukan, betapa kesalnya Joe?
Walaupun terlihat seperti nenek tua yang manis, sang ibu adalah penjahat tangguh yang sangat mahir menembak dan sering membantu anak-anaknya melarikan diri dari penjara.
Binatang pendamping setia
Lucky Luke tidak akan lengkap tanpa dua hewan yang memiliki kepribadian sangat kontras ini:
- Jolly Jumper: Tunggangan utama Lucky Luke. Ia kuda terpintar di dunia, bisa bermain catur, mencuci baju, bahkan berlari sambil tidur. Jolly kerap memberi komentar sinis lewat pikirannya terhadap perilaku konyol manusia di sekitarnya (termasuk tuannya sendiri), sebagaimana tokoh Snowy/Milou di Tintin.
- Rantanplan: Kebalikan dari Jolly Jumper, ia dijuluki sebagai anjing terbodoh di alam semesta. Rantanplan adalah parodi dari anjing heroik Rin Tin Tin (Gen X dan Milenial pasti paham siapa anjing ini). Tugas utama Rantanplan biasanya menjaga penjara. Sayangnya, ia sering gagal paham terhadap situasi apa pun.
Tokoh-tokoh nyata dari sejarah Amerika
Inilah yang membuat Komik Lucky Luke tidak seperti komik fiksi biasa. Morris dan Goscinny terkadang memasukkan tokoh-tokoh nyata dari sejarah Amerika ke dalam alur ceritanya.
- Billy the Kid: Dalam komik ini, Billy digambarkan sebagai remaja nakal yang sombong dan kekanak-kanakan, parodi dari penjahat legendaris William H. Bonney. Ia menganggap dirinya penguasa kota yang ditakuti semua orang. Namun, di mata Lucky Luke, ia hanyalah bocah manja yang butuh diberi pelajaran sopan santun.
- Calamity Jane: Seorang koboi perempuan yang sangat tangguh, kasar, gemar mengunyah tembakau, dan mahir menggunakan senjata serta laso. Ia salah satu sekutu Lucky Luke yang paling andal, meskipun kepribadiannya yang ceplas-ceplos sering membuat pria-pria di sekitarnya merasa terintimidasi.
- Judge Roy Bean: Karakter ini didasarkan pada tokoh sejarah nyata, seorang hakim mandiri yang menjalankan “pengadilan” di bar miliknya sendiri. Ia sering menggunakan interpretasi hukum yang aneh untuk mendenda orang-orang yang lewat demi mengisi kas barnya. Akan tetapi, sebenarnya ia tidak sejahat penampilannya.
- Jesse James: Parodi dari citra Robin Hood yang melekat pada dirinya di dunia nyata. Muncul pertama kali dalam album tahun 1969, Jesse James digambarkan sebagai bandit intelektual yang senang berteori tentang tindakan kriminalnya.
Karakter-karakter arketipe
Selain tokoh-tokoh spesifik, Morris dan Goscinny sering menggunakan karakter pembantu yang fungsinya menjadi bahan candaan berulang:
- Penggali kubur (The Undertaker): Sosok kurus berpakaian hitam yang selalu mengikuti Lucky Luke atau kerumunan orang yang sedang berkelahi. Ia antusias setiap kali melihat potensi kematian dan sering tampil mengukur panjang tubuh orang yang masih hidup untuk menyiapkan peti matinya.
- Pelayan bar (The Barkeeper): Biasanya memiliki kumis tebal dan sangat protektif terhadap cermin besar di belakang meja barnya. Setiap kali perkelahian akan dimulai, ia akan mencoba menurunkan cermin mahal tersebut agar tidak pecah terkena peluru nyasar.
- Sheriff yang tidak berdaya: Hampir di setiap kota, Lucky Luke akan bertemu dengan sheriff yang malas, penakut, atau lebih memilih tidur di kantornya daripada menghadapi penjahat, sehingga Luke terpaksa mengambil alih tugasnya.
Garis Waktu Publikasi Lucky Luke
Perjalanan sang “Koboi Kesepian” dari 1946 hingga Sekarang
Era Morris (Kreator Tunggal)
Morris (Maurice De Bevere) menciptakan Lucky Luke dan mengerjakannya sendirian sebagai penulis sekaligus ilustrator. Cerita pertama, Arizona 1880, diterbitkan di majalah Spirou.
Era Emas Morris & Goscinny
Kolaborasi legendaris dimulai dengan Des rails sur la Prairie. Tahun 1967, serial ini pindah ke majalah Pilote. Periode ini melahirkan karakter ikonik seperti Dalton Bersaudara dan Rantanplan.
Era Eksperimen Penulis
Setelah wafatnya Goscinny, Morris bekerja sama dengan berbagai penulis seperti Bob de Groot, Jean Léturgie, dan Lo Hartog van Banda. Morris tetap memegang kendali penuh atas ilustrasi hingga wafatnya pada 2001.
Era Modern (Achdé & Penulis Baru)
Ilustrator Achdé mengambil alih tugas menggambar. Sejak 2016, penulis Jul menjadi penulis skenario utama untuk album-album terbaru.
Daftar Penerbit Utama:
1949 – 1967
1968 – 1988
1989 – 1998
1999 – Kini
Sudahkah Kakak Membaca Kisah Seru Lucky Luke?
Di Indonesia, Komik Lucky Luke memiliki tempat spesial di hati para pembaca generasi 80-an dan 90-an. Diterbitkan pertama oleh Penerbit Indira, judul-judulnya antara lain:
- Pengawal Kereta (Des rails sur la Prairie)
- Bukit Apache (Canyon Apache)
- Sirkus Koboi (Western Circus)
- Jesse James (Jesse James)
- Kawat Bernyanyi (Le Fil qui chante)
- Kota Dalton (Dalton City)
- Bu Dalton (Ma Dalton)
- Kaisar Smith (L’Empereur Smith)
- Si Kaki Halus (Le Pied-tendre)
- Pahlawan Berbaju Putih (Le Cavalier blanc)
- Bangsawan Besar (Le Grand Duc)
- Bandit-bandit Kota Dalton
- Daisy Town (Daisy Town)
- Harta Karun Ran Tan Plan (L’Héritage de Rantanplan)
- Pemburu Uang Jasa (Chasseur de primes)
- Fingers (Fingers)
- Tujuh Kisah Lucky Luke (7 histoires complètes)
- Harta Karun Dalton Bersaudara
- Sarah Bernhardt (Sarah Bernhardt)
- Daily Star (Le Daily Star)
- Balada Dalton Bersaudara (La Ballade des Dalton)
- Bandit Cilik
- Tortila untuk Dalton Bersaudara (Tortillas pour les Daltons)
- Dalton Bersaudara Tobat (Les Dalton se rachètent)
- Kawat Berduri di Padang Rumput (Des barbelés sur la prairie)
- Kota Hantu (La Ville fantôme)
- Sang Pengawal (L’Escorte)
- Pertunangan Lucky Luke (La Fiancée de Lucky Luke)
- Calamity Jane (Calamity Jane)
- Kavaleri XX (Le Vingtième de cavalerie)
- Dalton Bersaudara Selalu Buron (Les Dalton courent toujours)
- Karavan (La Caravane)
- Lembah-lembah Hitam (Les Collines noires)
- Billy the Kid (Billy the Kid)
- Persaingan di Painful Gulch (Les Rivaux de Painful Gulch)
Bagi banyak anak Indonesia waktu itu, Komik Petualangan Lucky Luke adalah pintu gerbang untuk mengenal sejarah dunia, mulai dari pembangunan telegraf transkontinental hingga perampokan kereta api. Semuanya disajikan dengan cara yang seru dan menghibur.
Hingga hari ini, meskipun Morris telah tiada sejak 2001, petualangan Lucky Luke terus berlanjut di tangan artis-artis baru seperti Achdé. Selain komik, kisah Lucky Luke juga sudah diangkat menjadi film-film animasi, bahkan beberapa kali film layar lebar.
Lucky Luke tetap akan abadi sebagai simbol keadilan dan konsep “kebenaran selalu menang melawan kejahatan”. Setelah tokoh antagonisnya kalah, ia akan menunggangi kuda putihnya menuju matahari terbenam sambil bernyanyi, “I’m a poor lonesome cowboy, and a long way from home….“