
Omong-omong soal penulis produktif, beberapa teman bertanya, “Kenapa kamu enggak pernah mengeluarkan empat atau lima buku per tahun? Satu buku digarap dua bulan, kan, cukup?”
Hahaha, dua bulan menulis untuk satu buku memang cukup. Namun, yang namanya penulisan untuk publik tidak pernah sesederhana coret-coret di buku harian, blog atau status Facebook. Proses penerbit mempertimbangkan kelayakan naskah, berdiskusi untuk revisi, pencetakan sampai distribusinya tentu memakan waktu lebih lama.
Untuk Rahasia Sunyi saja proses itu hampir setahun. Pasalnya, di pihak penerbit sendiri sudah panjang antrian naskah dari penulis-penulis lain. Jadi, menerbitkan satu buku lewat penerbit konvensional dalam setahun rasanya tidak buruk-buruk amat. Masih bisa dibilang penulis produktif, dong!
Saya tidak sedang membela diri. Karena, jika ditilik dari sudut pandang lain, sebenarnya saya tergolong produktif. Saya adalah seorang copywriter, menghasilkan tulisan-tulisan dalam bentuk nonbuku. Saya juga seorang bloger, ada setidaknya dua blog serius yang saya isi rutin dengan tulisan-tulisan tiap minggunya.
Di samping itu, saya juga ghostwriter yang menuliskan buku-buku di bawah nama klien, dan saya tidak berhak mengklaim buku-buku itu sebagai karya saya.
Cukup layak disebut penulis produktif, bukan?
Terus terang, saya tak ingin menjadi penulis yang lebih produktif dari kondisi saya sekarang. Sebab, bisa-bisa kualitas yang harus dikorbankan. Kakak tahu, kualitas dan kuantitas sering berbanding terbalik.
Permasalahan utama setiap penulis adalah otaknya yang senantiasa bekerja lebih cepat dari tangan, bahkan mulutnya. Seandainya saja ada software atau hardware yang bisa memindahkan isi otak langsung ke program Word, apalagi kalau hasilnya rapi, wah, pasti semua penulis menjadi superproduktif, hahaha.
Namun, selama software atau hardware itu belum ditemukan, Kakak perlu menyiapkan enam modal ini untuk menjadi penulis produktif:
- Kondisi fisik dan mental yang prima. Jangan harap bisa produktif kalau Kakak menulis di saat lelah, lapar, atau bersedih lantaran baru ditinggal mati kucing persia kesayangan. Inilah kenapa penulis perlu rajin berolahraga dan punya selera humor, sekalipun ia penulis thriller :p
- Suasana yang kondusif. Kecuali bila Kakak mampu berkonsentrasi di tempat sebising pabrik, sebaiknya carilah tempat yang sunyi. Kalau bisa, dengan aroma ruangan yang sesuai selera Kakak. Tempat yang kondusif membantu datangnya inspirasi.
- Disiplin. Tentukan waktu terbaik untuk menulis: mulai jam berapa sampai jam berapa, dan berapa lama. Lalu patuhilah! Juga, tentukan target menyelesaikan satu karya berapa lama, dan, lagi-lagi, patuhilah!
- Outline. Biasakan membuat kerangka sebelum menulis. Kerangka akan menghemat banyak waktu Kakak. Salah satu kerangka yang patut di coba adalah Save the Cat!.
- Penangkal writer’s block. Kenali penyebab penyakit penulis itu, kemudian sembuhkanlah.
- Hubungan baik dengan media, PH, atau penerbit. Hal yang seolah-olah remeh ini sebenarnya berpeluang memuluskan usaha Kakak menelurkan karya secara publik dengan lebih cepat.
Tentu, faktor bakat juga penting dalam meningkatkan level produktivitas Kakak. Akan tetapi, sebenarnya, apa bakat itu? Yang jauh lebih penting adalah kemauan untuk terus menulis, bangkit kembali setiap kali gagal, dan belajar dari kegagalan. Setuju?
- photo from rachellegardner.com
Dan jangan harap bisa nulis kalo si Penpen udah ngebunyiin terompetnya. Atau kalo dia liat netbook nyala, pasti maunya duduk dan ikut nulis.
Rie´s last blog post ..Bersih, Segar, dan Wangi
Ya biarin dia bantu nulis. Enak kan, dapat asisten nulis. Tugas jadi ringan. Hehehe….
Brahm´s last blog post ..Usia Berapa Harusnya Kita Udah Eksis sebagai Penulis?