6 Alasan Penulis Memakai Nama Pena

Coba lihat nama-nama pengarang buku. Lebih dari separuh nama itu palsu, alias tidak sesuai dengan KTP sang penulis. Nama palsu ini lebih akrab disebut nama pena, pseudonim, pen name (Inggris), atau nom de plume (Prancis).

6 Alasan Penulis Memakai Nama Pena

Alasan Umum Penulis Memakai Nama Pena

Alasan Paling Umum Penulis Menggunakan Nama Pena

Mengapa banyak penulis yang menggunakannya? Dari hasil penelusuran kecil-kecilan saya, inilah beberapa alasannya:

1. Menjaga privasi dengan nama pena

Sebagian penulis tidak ingin kehidupan pribadinya terseret ke dunia kepenulisan ini. Seorang dokter yang menulis novel, tentu tidak ingin pasiennya tiba-tiba bertanya tentang nasib tokoh novelnya saat ia praktik di klinik. Seorang guru yang menulis cerita-cerita psikopat sadis tentu tidak ingin “menginspirasi” atau merancukan murid-muridnya.

Penulis-penulis ini memiliki dunia lain yang sangat berbeda. Mereka tidak ingin ketika seseorang mengetik nama di Google langsung menemukan sisi lain mereka. Karena itulah mereka memilih memakai nama pena, alih-alih nama sebenarnya.

2. Menajamkan jenama (personal brand)

Ini seperti petinju-petinju yang mengembel-embeli namanya dengan “Dobrak”, “Samson”, dan sebagainya agar menyeramkan bagi lawan-lawannya. Atau pelawak-pelawak semacam Bambang Gentolet, Budi Handuk, Hunter Parabola, dan lain-lain.

Contoh dari motivasi marketing ini adalah ketika sang penulis memodifikasi nama aslinya supaya lebih enak dibaca, mudah dihafal, lebih nyentrik agar menonjol di rak-rak toko buku atau saat tampil di media.

Atau, orang itu ingin menyesuaikan segmen. Umpamanya, saya adalah penulis novel-novel islami. Masalahnya, mana pembaca percaya kualitas kesalehan novel saya kalau yang tertera di sampul “Brahmanto”? Maka, saya utak-atik sedikit nama tersebut, voilà… jadilah El-Barrahman T!

Di sini, nama pena menjadi bagian dari strategi personal branding.

3. Menghindari konsekuensi tak mengenakkan

Tidak jarang penulis dibunuh, dipenjara, atau harus mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan gara-gara tulisannya. Misalnya, seorang mantan intelijen yang hendak menceritakan korupsi di dinasnya.

Meskipun jadinya karya fiksi, tetapi cukup beralasan bila ia ketakutan dan memilih memajang pseudonim atau nama pena saja.

Jangankan intelijen, pernah ada pegawai negeri yang ketakutan menggunakan nama asli ketika menuliskan buku satir tentang kehidupan ASN. Takut mengalami mutasi, pengucilan, konflik keluarga, dimusuhi, atau konsekuensi-konsekuensi lainnya.

4. Menyamarkan identitas asli penulis

Identitas ini bisa umur (hindari nama-nama jadul untuk segmen pembaca remaja), gender, etnis, kebangsaan, atau lainnya. Sebab, masing-masing identitas tersebut, mau tak mau, membawa dampak positif atau negatif ke penjualan buku.

Kita ambil gender sebagai contoh mudah. Terkadang, seorang penulis lebih memiliki otoritas jika jenis kelaminnya sesuai. Sebelum abad 20, karya pengarang wanita kurang dianggap serius. Akhirnya, banyak penulis perempuan berbakat yang menggunakan nama pena laki-laki.

Bahkan hari ini pun, Joanne Rowling lebih suka menampilkan nama yang berkesan netral (unisex), yaitu J.K. Rowling. Mengapa bukan Joanne R. saja? Mungkin, karena Joanne lebih terlihat perempuan.

Mengapa seorang penulis teenlit yang prolifik memilih nama Luna Torashyngu. Saya yang terlanjur membayangkan kecantikannya sekaliber Natasha Wilona pun kecele begitu tahu ia ternyata cowok.

5. Memisahkan antarkarya dengan nama pena yang beda-beda

Teman saya produktif menulis cerpen. Kualitasnya masuk standar sastra koran, sehingga kerap dimuat di beberapa harian. Namun, lama-lama redakturnya bosan juga, dan khawatir jangan-jangan ada pembaca yang menganggap surat kabar ini terlalu menganakemaskan teman saya.

Syahdan, teman saya mengalah. Ia pun menulis dengan nama lain. Ini bukan masalah baginya, karena ia mencari uang, bukan nama. Jadilah teman saya itu mengoleksi sederet nama pena yang tidak karu-karuan fiktifnya.

Bila Kakak merasa master dalam suatu bidang, bermain-main dan bereksperimen pasti terlintas di benak. Barangkali untuk mengetes pasar, atau demi memenuhi alter ego seperti yang dilakukan Stephen King.

Tahukah Kakak, King pernah menerbitkan empat novel di bawah nama Richard Bachman. Namun, kemudian Steve Brown memergokinya. Baru membaca dua halaman Thinner (1984), Brown langsung melihat kemiripan novel keempat Bachman itu dengan gaya menulis King.

“Ini Stephen King sendiri atau seorang peniru terbaik di dunia,” batinnya kala itu. Penasaran, Brown pun menelusuri. Dan akhirnya mengirimi King hasil riset isengnya.

Dua minggu kemudian, King sendiri yang menelepon kantor Brown. “Steve Brown? Ini Steve King. Baik, Anda tahu saya Bachman. Saya tahu saya Bachman. Mari bicara,” kata raja thriller itu.

6. Mengakali ikatan kontrak dengan penerbit

Terkadang, ada klausul penerbit yang mengharuskan seorang penulis (dengan nama pena yang sudah terkenal) untuk tidak menerbitkan karya di penerbit lain. Nah, dengan nama pena berbeda, masalah ini terpecahkan.

Beberapa penulis menciptakan nama pena lain karena terlalu produktif. Misalnya, ia sudah terlalu sering terbit dalam setahun, terikat perjanjian eksklusif, ingin menerbitkan karya di penerbit berbeda.

Kasus nama pena Richard Bachman milik Stephen King sebagian juga berkaitan dengan pasar yang saat itu dianggap tidak siap menerima terlalu banyak novel Stephen King dalam waktu berdekatan.

Jadi, Perlukah Kita Mengarang Nama Pena?

Perlukah Kita Mengarang Nama Pena?

Jawabannya: perlu, tidak perlu. Tergantung kebutuhan kita. Yang jelas, nama pena, atau nama panggung di dunia show biz sah-sah saja digunakan. Itu hak kita.

Namun, saya pribadi lebih suka menggunakan nama asli. Ada berbagai alasan, tetapi yang utama adalah agar branding-nya dapat sekali jalan, alias tidak seperti memulai dari nol lagi.

Kalau bagi Kakak, pentingkah nama pena ini?

BAGIKAN HALAMAN INI DI

19 thoughts on “6 Alasan Penulis Memakai Nama Pena”

  1. Stephen King with his Richard Bachman? Are the alter ego things the latest trend? In the music, we have Super C (a.k.a Ciara), Sasha Fierce (a.k.a Beyonce)…..

    Reply
  2. Thanks, Kim. I don’t know about the alter ego of Beyonce nor Ciara. Well, maybe, that’s the trend in music domain. And maybe Beyonce and Ciara are master in their domain (music album).

    By the way, Richard Bachman’s Stephen King isn’t now. It was his “experiment” in 1980s. What can I say, this guy has been one of the super prolific writer I ever know.

    Reply
  3. Mas Brahm, saya sedikit kaget pas baca bahwa ada beberapa pembaca yang hanya mau baca gender tertentu. Ada ya?

    Teman saya bilang bahwa Indonesia dahulu seperti itu. Dalam kasus ini adalah perempuan. Jadi jika penulis perempuan lebih disanksikan karena pandangan “lo-kerja-di-dapur-tahu-apa-sih-lo”?

    Betul, kah?

    Reply
  4. Trims, Nia. Kalau di jaman sekarang sih, aku berani katakan, nggak kayak gitu lg. Lucu ya lihat betapa kegiatan yg awalnya banyak dilakukan wanita, ketika berubah jd profesional, keluar dari ranah domestik dan masuk ranah publik, akhirnya cenderung didominasi laki2. Misalnya masak, chef di hotel2 atau kapal pesiar kebanyakan pria kan.

    Begitu jg nulis. Ini awalnya didominasi wanita. Nggak tahu, mungkin wanita lebih suka mengungkapkan sesuatu lewat tulis ya. Coba tanya aja temen2 cowokmu, ada yg nulis diary nggak? Terus, tanya yg cewek. Pasti banyakan cewek yg nulis, umpamanya diary atau puisi.

    Begitu kegiatan nulis masuk ranah profesional, justru penggiatnya banyak laki2nya. Wartawan lbh banyak dari wartawati. Penulis skenario laki2 pun lbh banyak, kayaknya. Begitu pula novelis. Sekarang sih jumlahnya cenderung seimbang. Kompetensinya pun seimbang.

    Jd permasalahannya bukan “disanksikan”, tp soal selera. Aku, contohnya, males baca chicklit. Apa krn penulisnya cewek? Nggak jg. Karya cowok pun kalau nulisnya bergaya chicklit, aku males baca. Bukan berarti chicklit tdk bermutu, hanya, bukan itu seleraku.

    Reply
  5. Jadi pengen nanya lagi nih (sorry kalau OOT dari nama pena), sebagai pembaca, Mas Brahm sendiri merasa ada bedanya enggak kalau novel ditulis sama laki2 atau perempuan?

    Reply
  6. Thx, Ina. Tulisan ini bukan buat menyindir kok. Tp utk menebak2 motivasi para pengguna nama pena. Btw, apakah gerangan alasan dikau menyamarkan nama asli itu?

    Iya nih, baru sadar kalau OOT. Aku sih nggak beli atau baca novel berdasarkan gender penulisnya. Krn menurutku yg membedakan cuma seleraku. Emang ada apa sih, kok kelihatannya serius gitu?

    Reply
  7. Kl aq sih, biar ga ada yg ketipu aja.
    Case:
    Orang baca karya : Pradna Paramita dan disangka wanita, nah begitu ngeliat potonya…walah,ternyata jenggotan toh. Kasian mas2 yg telah berharap banyak, kan.

    Makanya,
    aq lebih pilih pake nama Pradna.
    or
    Pradna P.

    Demikian.
    Peace!

    Reply
  8. Trims, P. Mita… lho!? Kalau “Pradna Paramita” jd “Pradna P.” atau “Pradna” aja mah msh blm dibilang ganti nama. Entah kalau “Pradna” jd “Peraduan Senja”, itu baru make-over nama asli.

    Reply
  9. Ehem. Nyinggung2 soal nama pena, nih.

    Kenapa orang pake nama pena?

    Jawabannya, kenapa tidak?

    Ya, kan? Kenapa tidak? Bukannya aku nggak suka nama asli, cuma… kayaknya nama penaku lebih komersil, deh, hehehe. Tapi dlm beberapa naskah yg aku kirim ke media cetak/ penerbit, aku cantumkan juga nama asli di biodata. Pasalnya, beberapa teman nggak tau siapa itu Rie Yanti. Jadi kalo aku cuma nyantumin nama pena, bisa2 mereka nggak beli/ baca karyaku.

    Reply
  10. Oalaaah, kupikir ada masalah tertentu. Misalnya dari hasil surveimu thd 10.000 pembaca yang komposisi pria-wanitanya 50:50, ditemukan fakta bahwa novel karya pengarang laki2 lbh banyak dibeli.

    Rie, berarti kamu punya motivasi (mengganti nama) yg pertama. Biar beda gitu lho. Tp, perubahan namamu nggak radikal2 banget kok. Itu kan akronim dari nama panjangmu. Aku jg punya “bhanto” yg merupakan akronim dari nama panjangku.

    Tp tetep, utk karya2ku, aku pakai nama panjang aja.

    Reply
  11. Agree, Diane. Perhaps that’s the root of all this changing name things. But we can’t do anything since each generation has its own taste about what is cool and what is not. I prefer “unique” rather than “cool”, because a cool name might be a cliche name at the same time, IMHO. 🙂

    Thanks.

    Reply
  12. Motivasi mengganti nama yg pertama? Maksudnya? (telmi, nih)

    Aku malah rencananya mau nambah nama blk Rie Yanti. Jd Rie Yanti apaaa… gitu. Ada usul?

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!