Menulis memang perjalanan yang melelahkan. Terkadang, kita sudah memeras keringat dan ide sampai kering, tetap saja itu bukan jaminan bahwa takkan ada yang menuduh tulisan kita plagiat atau hasil buatan AI. Tuduhan itu bukan hanya dari manusia, melainkan bisa juga dari “mesin” atau algoritma.
Namun, alih-alih merasa sakit hati atau putus asa, kita selalu bisa mengedit tulisan kita kembali. Supaya, tulisan itu tetap autentik dan jauh-jauh dari tudingan miring.
Jebakan Penulis Modern: Plagiarisme & AI

Sulit dihindari, tantangan sekaligus godaan terbesar bagi penulis di era digital ini memang lingkaran plagiarisme dan ketergantungan pada AI. Mari kita bahas secara singkat.
Plagiarisme adalah tindakan menyalin atau menjiplak karya orisinal orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Tindakan ini sudah lama ada, tetapi di era digital ini, aksi plagiarisme menjadi sangat mudah dilakukan dengan cara copy-paste atau salin-tempel.
Ini adalah pantangan, Kak! Tidak ada tawar menawar. Kalau memang penulis atau berjuang untuk menjadi penulis, Kakak pasti tahu betapa perihnya jika karya yang disusun dengan susah payah tiba-tiba dicomot orang lain begitu saja.
Lalu, masih ada godaan lainnya, yakni hadirnya Akal Imitasi (AI). Kecerdasan AI dalam membuat tulisan membuat kita merasa seolah-olah kitalah yang menulis itu. Dewasa ini, banyak sekali orang (mungkin teman atau saudara kita sendiri) yang memperbarui status media sosialnya atau menulis blog dengan bantuan AI.
Dikiranya tidak ada yang tahu, hahaha! Padahal, bagi mata yang jeli, hasil karya tulis AI bisa terendus dengan mudah. Teknis penulisan serta bahasa lebainya yang berputar-putar begitu khas AI.
Sama seperti teknologi-teknologi lain, AI adalah pedang bermata dua. Kalau Kakak memakainya secara apa adanya, tanpa diedit lagi, tulisannya bakal terasa hambar, robotik, dan seragam dengan jutaan orang lainnya.
Nah, masalahnya, meskipun Kakak menulis dari nol secara jujur, terkadang algoritma nakal tetap bisa mendeteksi tulisan Kakak sebagai buatan AI. Misalnya, terdeteksi karakter tanda hubung (–):
Ia akan melempar apapun—entah itu gelas, piring, atau bahkan pisau—kepada orang yang menggangu santap siangnya.
Tanda hubung semacam itu merupakan salah satu ciri khas tulisan-tulisan garapan AI. Walaupun, sebelum era AI pun banyak penulis yang menggunakannya. Majalah Tempo, contohnya, sejak dahulu gemar menggunakan tanda hubung semacam itu di berita-berita dan artikel-artikelnya.
Menulis original tetapi tetap dituding dari AI? Bahkan plagiat? Di sinilah proses editing menjadi krusial.
Gunakan Webtool dan Teknik Parafrasa

Untuk memastikan naskah Kakak “bersih” sebelum dipublikasikan, Kakak bisa menggunakan beberapa webtool pemeriksa plagiarisme dan AI. Antara lain DupliChecker, QuillBot, CopyLeaks, SmallSEOTools, atau ZeroGPT. Semuanya memiliki versi gratisnya.
Di webtools tersebut, Kakak cukup menyalin teks yang ingin diperiksa, lalu tempel (paste) ke kolom yang disediakan. Beberapa webtools malah menyediakan kolom URL, jadi Kakak tinggal memasukkan alamat dari naskah kita. Ini lebih praktis, terutama bila naskahnya sudah terpublikasi di internet.
Klik tombol “Check Plagiarism” atau “Detect AI”, lalu tunggu mesin bekerja membandingkan tulisan Kakak dengan ribuan dokumen di pangkalan data mereka. Hasilnya biasanya akan keluar dalam bentuk persentase keaslian.
Jika hasilnya terlalu mengejutkan, misalnya: “90% Plagiarism, 10% Unique”, periksa saja naskah pembandingnya. Jangan-jangan, dari naskah Kakak sendiri di internet.
Namun, bila itu bukan naskah buatan Kakak, hentikanlah niat untuk memublikasikannya. Jangankan 90%, bila unsur plagiarismenya atau konten buatan AI-nya di atas 30% saja, pikir-pikir kembali. Sebab, ada kemungkinan Kakak memang sedang memplagiat karya orang lain.
Bagaimana kalau terdeteksi 1-15% plagiarisme atau konten buatan AI? Perbaiki boleh, lanjut saja tanpa perbaikan juga boleh! Bagaimanapun, takkan mungkin tulisan kita benar-benar unik 100%.
Nah, bagaimana kalau webtool mendeteksi unsur plagiarisme atau konten buatan AI 15-30%? Wajib Kakak edit kembali naskah itu. Lakukan parafrasa.
Salah satu teknik paling sakti dalam dunia editing adalah parafrasa. Ini adalah proses menulis ulang ide atau konsep dari sumber lain dengan kata-kata dan struktur kalimat Kakak sendiri.
Tujuannya adalah untuk menyampaikan pesan yang sama, tetapi dengan gaya bahasa yang lebih segar atau lebih mudah dipahami oleh pembaca Kakak. Bukan sekadar mengganti dua atau tiga kata atau sekadar mengacak tata bahasa, lo. Namun, memformulasikan ulang kalimat-kalimatnya.
Apakah parafrasa termasuk plagiarisme (yang disamarkan)? Bukan. Apalagi jika Kakak tetap mencantumkan sumber aslinya, terutama untuk pernyataan-pernyataan ilmiah dan khas seseorang.
Sebenarnya, sesimpel itu.
Ringkasnya, Agar Jauh dari Cap AI dan Plagiat

Menjadi penulis di zaman sekarang butuh usaha ekstra untuk menjaga orisinalitas tulisan. Menggunakan bantuan webtool adalah langkah cerdas untuk melakukan pengecekan mandiri, tetapi jangan biarkan angka-angka di layar tersebut mendikte kreativitas Kakak.
Gunakan teknik parafrasa untuk memperkaya tulisan. Yang paling penting, selalu hargai karya orang lain dengan mencantumkannya di tulisan bila pernyataannya kita kutip atau idenya kita pinjam.
Dengan parafrasa dan mereferensikan sumber aslinya, naskah Kakak tidak hanya aman dari tudingan plagiat, tetapi juga makin unik. Makin berkualitas.
Nah, selamat mengedit kembali!