Bagaimana Menulis Memoar

HBagaimana Menulis Memoar

Pernah terpikir untuk menulis buku memoar? Memoar adalah karya tulis yang berisi sepenggal kisah hidup Kakak. Berbeda dengan biografi yang memuat kisah hidup Kakak sejak kecil sampai dewasa, memoar hanya memuat sebuah momen atau episode hidup Anda.

Misalnya, ketika remaja, Kakak mengidap anoreksia. Nah, kisah selama mengalami anoreksia ini yang Kakak tulis dalam memoar. Di luar masa itu, takkan ikut dimasukkan ke dalam buku tersebut.

Contoh memoar yang sudah banyak beredar dan terkenal:

  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer di Pulau Buru.
  • 168 Jam dalam Sandera karya Meutya Hafid
  • Memoar Pulau Buru tulisan Hersri Setiawan
  • Istanbul, Memories and the City karya Orhan Pamuk
  • Memoir of A Geisha tulisan Arthur Golden

Ada juga memoar yang khusus membahas politik, seperti bukunya B. J. Habibie, Detik-detik yang Menentukan. Atau Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuady yang merupakan cerita fiksi juga.

Kenapa orang-orang, terutama para tokoh, menulis memoar? Atau membayar ghostwriter untuk menulis memoar? Ada banyak alasan:

  1. Ingin berbagi pengalaman yang dirasa menarik. Tidak semua orang punya pengalaman atau kisah hidup yang sama, kan? Makin unik kisah hidup yang dialami seseorang, makin tertarik orang lain mengetahuinya. Dan pengalaman itu memiliki sesuatu untuk disampaikan.
  2. Berusaha memahami diri sendiri. Menurut saya, menulis memoar itu sama dengan curhat. Lihat saja, dengan menulis memoar, seseorang seperti berbicara tentang dirinya sendiri. Karena berbicara dengan diri sendiri, ketika ada peristiwa yang terjadi, ia berusaha mencari hikmah dari peristiwa itu.
  3. Memberikan warisan kepada keluarga atau anak-cucu. Pernahkah Kakak ingin mengetahui bagaimana kisah ayah Kakak dalam mencari nafkah bagi keluarganya? Mungkin ayah Kakak tidak sempat bercerita detail kepada anak-anaknya tentang susahnya mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang tidak bisa mencukupi kehidupan keluarganya.
  4. Mendatangkan simpati publik. Misalnya, ada seorang tokoh terkenal, entah dari kalangan politikus atau selebritas yang punya masalah hukum. Nah, memoar ini diharapkan bisa menggugah sensibilitas masyarakat akan perasaan si tokoh secara komprehensif.

Apakah sulit menulis memoar? Ah, mana ada proyek penulisan serius yang tidak sulit! Hehehe….

Namun, kesulitan utamanya terutama jika kita tidak biasa menulis cerita yang beralur. Sisanya relatif mudah, karena kita tinggal menceritakan salah satu episode kehidupan seseorang atau kita sendiri. Cerita itu tidak perlu dikarang-karang. Hanya perlu “diatur” alurnya biar terasa lebih mudah diikuti.

Ada beberapa standar kepenulisan di sini, seperti tata bahasa, logika cerita, dan rasa bahasa. Selain itu, perhatikan juga beberapa hal berikut:

  1. Tema spesifik. Ingat, ini adalah memoar, bukan biografi atau otobiografi. Kita hanya menulis sepenggal kehidupan yang kita anggap paling menarik dan layak diketahui orang, bukan seluruhnya. Maka tentukanlah, Kakak akan membuat memoar tentang kehidupan di masa kecil, remaja, kuliah, atau awal pernikahan, misalnya.
  2. Buat pembaca betah berlama-lama membaca. Jangan menceritakannya secara bertele-tele atau berbunga-bunga. Pendek, padat, dan jelas tampaknya merupakan saran yang masih relevan sampai kapan pun. Hanya, aturlah agar alurnya tidak tampak terburu-buru.
  3. Tulislah memoar dari hati. Selain akan membuat memoar Kakak terkesan jujur, langkah ini juga bisa membuat pembaca terinspirasi atau termotivasi. Hanya, aturlah peletakan konflik, resolusi konflik dengan baik.
  4. Gunakan kerangka. Kehidupan nyata mungkin berjalan tanpa skenario atau rencana. Namun, menulis memoar sebaiknya jangan seperti itu, karena bisa-bisa bukunya tidak selesai-selesai dan bicara ngalor-ngidul. Demi efisiensi alur, gunakan kerangka-kerangka penulisan, seperti Struktur Drama 3 Babak, Save The Cat!, atau lainnya.
  5. Jangan memuji-muji diri sendiri. Meski tokoh sentralnya memang Kakak, dan Kakak memang hebat, jangan terlalu banyak mengekspos kebaikan atau kehebatan diri sendiri. Pembaca bisa mengira Kakak seorang narsistik atau megalomaniak. Jangan ragu untuk menunjukkan sisi-sisi manusiawi dan rapuh Kakak.
  6. Ceritakan juga tokoh lain secara proporsional. Terutama tokoh-tokoh yang memiliki peran signifikan dengan kisah yang ditulis. Kalau Kakak adalah tokoh utamanya, maka mereka adalah tokoh-tokoh pendukung, entah antagonis atau protagonis.

Itulah dasar-dasar menulis memoar. Tidak terlalu rumit, bukan?

BAGIKAN HALAMAN INI DI

7 thoughts on “Bagaimana Menulis Memoar”

  1. ketika kita mengingat moment yang penting dalam hidup maka spirit akan terus meningkat, karena ada kalnya kita jatuh dan melambung tinggi. Kemudian spirit itu menginspirasi yang lain dan akan terjadi sinkronisasi keseimbangan hidup. Keep Writing bro…

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!