Sebagai penikmat fiksi, kita cenderung suka dengan satu, dua atau tiga genre tertentu, dan mengabaikan genre-genre lainnya. Saat menulis pun aturan genre favorit itulah yang biasanya kita ikuti. Namun, sebagai investor? Gaya penulis dalam berinvestasi saham (tentu saja kalau ia bermain saham) bisa jadi sangat berbeda.
Seorang penulis boleh saja sehari-harinya mengarang cerita thriller penuh darah dan ketegangan. Namun, begitu membuka aplikasi sekuritas, ia bisa berubah menjadi sosok melankolis yang penuh cinta dan menolak berpisah dengan emiten (perusahaan yang menjual saham) pilihannya.
Lo, kok bisa? Mau tahu apa saja gaya-gaya penulis dalam berinvestasi saham?
1. Gaya Genre Romantis
Bagi investor bergenre Romantis, investasi bukan sekadar mencari cuan, melainkan komitmen seumur hidup. Ia tidak mudah jatuh cinta pada suatu emiten. Namun, sekali menaruh hati, ia akan setia setengah mati.
Gaya romantis penulis dalam berinvestasi saham biasanya dengan merawat emiten-emiten yang ia sayangi, hampir seperti anak-anaknya sendiri. Saat harga saham-sahamnya turun (merah), alih-alih panik dan melakukan cut loss, naluri protektifnya bangkit. Ia menyuntikkan dana tambahan untuk average down.
Setiap kali ada uang dingin di kantongnya, fokusnya bukan mencari saham baru yang sedang naik daun, melainkan mencari saham yang “sedang terluka” di portofolionya untuk disembuhkan agar kembali hijau, atau setidaknya agar merahnya tidak terlalu parah.
Jika Kakak menganut gaya ini: Hati-hati terjebak dalam toxic relationship dengan emiten berfundamental buruk. Kadang, ada saatnya Kakak harus menerima kenyataan bahwa hubungan itu sudah tidak sehat. Itulah waktunya Kakak melakukan aksi jual dan move on.
2. Gaya Genre Aksi
Ketika seorang penulis dalam berinvestasi saham menganut genre Aksi, artinya ia adalah pemuja kecepatan, ledakan, dan stamina tinggi. Di pasar saham, ia cenderung menjadi scalper atau day trader aktif yang tidak bisa tenang jika aplikasi sekuritasnya tidak berkedip.
Moto hidupnya adalah “Hajar kanan, sikat kiri, atau kabur!” Ia sangat akrab dengan Jurus BPJS (Beli Pagi, Jual Sore) atau sebaliknya, BSJP (Beli Sore, Jual Pagi).
Penulis investor saham semacam ini hidup dari menit ke menit, memanfaatkan volatilitas harga demi mengamankan keuntungan kecil yang dikumpulkan berulang kali. Hidupnya penuh aksi roller coaster.
Jika Kakak menganut gaya ini: Kehilangan fokus sedetik saja bisa membuat Kakak terkena serangan balik dari pasar. Biaya transaksi (fee beli/jual) pun sering kali lebih besar daripada keuntungan, terutama bila Kakak terlalu aktif bertransaksi.
3. Gaya Genre Komedi
Bagi penganut genre ini, pasar saham adalah hiburan. Ia masuk bukan karena ambisi melipatgandakan uangnya, melainkan karena bingung di mana mau menaruh uangnya yang menganggur, atau sekadar ikut-ikutan tren (FOMO) agar punya bahan obrolan.
Ketika portofolionya hijau, ia tertawa puas. Ketika pasar hancur dan portofolionya merah membara, ia tetap tersenyum. Ia bahkan menjadikannya lelucon, mengambil tangkapan layar portofolio yang minus 50%, lalu membagikannya ke grup WhatsApp penulis atau media sosial dengan takarir yang menggelitik.
Tidak ada alasan untuk tidak tertawa. Hidup terasa selalu menyenangkan baginya. Penulis-penulis investor aliran ini selalu punya rasa syukur dan bisa melihat hal positif di balik setiap musibah (saham) yang menimpanya.
Jika Kakak menganut gaya ini: Terlalu santai kadang membuat Kakak abai pada pengelolaan risiko yang serius. Menertawakan kerugian memang sehat untuk mental, tetapi saldo tabungan tidak bisa bertambah hanya dengan tertawa.
4. Gaya Genre Thriller
Penulis dalam berinvestasi saham juga dapat menerapkan gaya thriller. Penulis seperti ini memiliki misi dan keyakinan yang kuat pada sebuah emiten. Ia juga bisa jadi pemburu saham-saham turnaround (perusahaan yang hampir bangkrut atau kinerjanya buruk, tetapi diprediksi akan bangkit kembali) atau saham-saham IPO.
Ia tahu risikonya sangat besar. Namun, apa boleh buat, ketegangan memang bagian dari hidupnya. Sekalipun harga saham pilihannya terjun bebas dan forum diskusi saham dipenuhi kepanikan massal, ia tetap akan bertahan demi akhir cerita yang ia yakini akan menyajikan plot twist.
Baginya, investasi tanpa detak jantung yang berdegup kencang bukanlah investasi sejati. Sebab, prinsipnya high risk, high return!
Jika Kakak menganut gaya ini: Pastikan analisis Kakak akurat, untuk mengimbangi keyakinan Kakak. Kalau sampai salah dan ternyata tidak ada plot twist di akhir cerita, Kakak harus siap menghadapi kenyataan pahit: waktu, tenaga, dan uang menguap begitu saja.
5. Gaya Genre Horor
Dalam film horor, kita kesal melihat karakter-karakter yang sengaja mendatangi rumah berhantu. Seperti kelakuan orang kurang kerjaan dan cari perkara saja! Nah, penulis dalam berinvestasi saham juga dapat melakukan hal yang serupa.
Di pasar saham, penulis ini kerap mengabaikan logika dasar, tidak membaca laporan keuangan, cenderung masa bodoh walaupun sejak awal sudah merasakan hawa-hawa aneh. Ia bahkan sengaja mendekati saham-saham gurem berharga murah (saham gocap) atau saham-saham pom-pom yang rumornya “berhantu”.
Ia tahu saham tersebut berisiko tinggi membuat uangnya hilang ke “alam gaib”, tetapi rasa penasaran yang absurd selalu dominan di kepalanya.
Jika Kakak menganut gaya ini: Awas, uang Kakak sering benar-benar menjadi “tumbal” di pasar modal. Sekalinya terjebak di saham gocap yang tidak likuid, uang Kakak tidak bisa ditarik kembali, bagaikan terjebak di alam astral.
6. Gaya Genre Misteri
Penulis yang berinvestasi saham dengan gaya genre misteri tidak akan mengeksekusi transaksi sebelum melakukan riset yang mendalam. Ia adalah tipe detektif yang mempelajari emiten hingga ke akar-akarnya, bahkan sampai menyusun teori konspirasinya sendiri.
Penulis dalam berinvestasi saham dikatakan menggunakan gaya misteri bila hobi menganalisis laporan keuangan baris demi baris, melacak pergerakan transaksi bandar (Bandarmologi), memantau transaksi investor asing (Foreign Flow), hingga melacak siapa saja pemilik perusahaan tersebut di balik layar.
Dari setiap kepingan teka-teki ini, penulis investor ini membangun hipotesis yang rumit sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli, menjual, atau sekadar membiarkannya sebagai pengamat.
Jika Kakak menganut gaya ini: Jangan sampai mengalami fenomena analysis paralysis (terlalu banyak analisis hingga bingung mengambil keputusan). Takutnya, ketika misterinya berhasil Kakak pecahkan, momentum emas untuk membeli saham tersebut sudah lewat.
7. Gaya Genre Fiksi Ilmiah (Sci-Fi)
Penulis fiksi ilmiah di pasar saham adalah para teknokrat yang terobsesi pada sistem, indikator teknikal modern, dan algoritma baru. Ia selalu mencoba berbagai teknik analisis teknikal maupun fundamental, mulai dari gabungan indikator klasik hingga sistem perdagangan otomatis (trading bot).
Baginya, proses pembuktian teori jauh lebih memuaskan daripada hasil akhirnya. Ia akan jauh lebih bangga jika metode eksperimen canggihnya berhasil menghasilkan cuan 5%, ketimbang mendapatkan untung 20% hanya karena faktor keberuntungan atau menggunakan metode orang lain.
Jika Kakak menganut gaya ini: Ingat, pasar saham juga digerakkan oleh psikologi manusia yang tidak rasional, bukan melulu rumus matematika murni. Formula paling canggih sekalipun bisa hancur berantakan ketika kepanikan pasar melanda. Waspadalah!
Gaya Penulis dalam Berinvestasi Saham Apa Yang Cocok bagi Kakak?
Genre apa yang saat ini sedang aktif Kakak mainkan saat berinvestasi saham? Belum memutuskan? Belum tahu? Cobalah catat portofolio saham Kakak di Wufi Provisalis, deh! Setelah portofolio itu sudah agak banyak dan menumpuk dengan rapi, Kakak pasti sudah bisa melihat pola-pola kecenderungan Kakak sendiri dalam berinvestasi saham.
Tidak ada gaya investasi yang paling benar atau paling salah di bursa saham. Ini hanya masalah kenyamanan. Sama seperti dalam dunia kepenulisan, setiap genre pasti punya penggemarnya masing-masing.
Yang penting, kenali profil risiko Kakak. Jika Kakak menulis cerita Aksi tetapi jantung tidak kuat melihat portofolio yang naik-turun layaknya roller coaster, tidak usah memaksakan diri menjadi investor bergaya Aksi atau Thriller.
Menjadi investor Romantis yang setia merawat saham-saham berfundamental bagus juga bisa mengantarkan Kakak pada akhir cerita yang bahagia (happy ending).