Misi: Menangkap Basah Tulisan Hasil AI

Misi: Menangkap Basah Tulisan Hasil AI

Sejak Akal Imitasi (AI) mulai menginvasi dunia literasi, kita menjadi ragu saat membaca artikel di internet. Yang terpikir kadang, “Ini karya penulis manusia atau AI, ya?” Parahnya, hal yang membingungkan ini akhirnya merambah ke semua jenis medium: blog, status medsos, iklan, sampai buku.

Di sinilah, radar editor Kakak perlu dihidupkan. Kemampuan mengenali tulisan hasil AI adalah keterampilan bertahan hidup bagi editor, juga penulis dan pembaca, di era AI. Kita bisa, kok, menangkap basah tulisan AI tanpa alat-alat semacam ZeroGPT. Caranya?

Seperti Apa Tulisan Hasil AI Itu

Ciri pertama yang paling mudah Kakak kenali dari tulisan hasil AI adalah strukturnya yang kelewat teratur. Tidak ada elemen kejutan sama sekali. Semuanya tertata rapi.

Sebaliknya, penulis manusia cenderung memiliki alur berpikir yang lebih dinamis, kadang melompat dari satu ide ke ide lain, sebelum akhirnya mengikatnya kembali dalam satu benang merah.

Terkadang, manusia bahkan menyisipkan anekdot lucu yang mungkin kurang relevan dengan isi tulisan. AI tidak berani melakukan “dosa penulisan” semacam itu. Mereka terpaku pada instruksi dasar penulisan akademis, yang sayangnya, justru membuat tulisan terasa kering.

Ada lagi ciri lainnya. Pasti Kakak juga pernah merasa, “Kok, pilihan katanya terlalu megah gini, ya? Padahal, konteks tulisannya, kan, simpel!”

Mesin ini memang sering sekali terjebak dalam delusi, bahwa menggunakan kata-kata langka atau istilah berbunga-bunga akan membuat tulisan mereka terlihat lebih cerdas dan berbobot. Bayangkan, sebuah artikel tentang cara merebus telur yang disisipi frasa, “mengungkap misteri di balik suhu air yang mendidih.”

Waduh!

Penulis manusia yang waras justru akan memilih kata yang efisien, langsung pada sasaran, dan sesuai dengan siapa audiens yang sedang diajak bicara.

Ketika AI, setidaknya untuk saat ini, kurang mampu memahami selera baca masyarakat, tugas Kakak sebagai penyunting adalah memangkas kata-kata yang berbunga-bunga dan berbusa-busa ini.

Oh, ya! Menurut pengalaman kami, AI juga kerap terjebak dalam gaya penulisan yang berputar-putar dan mengulang ide yang sama. Mereka mengubah susunan subjek dan predikatnya saja, seolah-olah sedang berusaha memenuhi target jumlah kata.

Nah, kalau ini, banyak penulis manusia pun melakukannya. Misalnya, mahasiswa di skripsinya, atau karyawan non-penulis yang tiba-tiba ditugaskan membuat buku korporat oleh bosnya yang galak. Hehehe….

Intinya, tulisan yang dihasilkan kerap kehilangan substansi, karena AI pada dasarnya tidak memiliki opini pribadi atau pengalaman empiris untuk dibagikan. Mereka hanya merangkum data di internet, lalu menyajikannya kembali. Wajar jika tulisannya menjadi terlalu netral dan datar.

10 Contoh Riil Kalimat-Kalimat ala AI

Belum ada gambaran, bagaimana kalimat-kalimat AI (yang perlu Kakak edit) itu? Mari kita tengok contoh konkretnya. Coba periksa, apakah terlalu sering kalimat-kalimat seperti ini muncul dalam naskah yang sedang Kakak garap sebagai editor:

1. Kalimat perlawanan

Entah mengapa, mesin AI sangat gemar memakai struktur “Bukan hanya …, tapi juga ….” seakan semua hal di dunia ini harus selalu ditimbang secara seimbang. Kalau ada kalimat-kalimat seperti itu, apalagi tidak cuma sekali-dua kali, berarti ada indikasi sang penulis menggunakan AI.

2. Penggunaan tanda hubung

AI juga suka menggunakan tanda hubung atau tanda pisah ganda untuk menyisipkan informasi tambahan. Contohnya, “Batu-batu andesit di daerah Prambanan—yang tidak selalu bisa dipastikan keasliannya—telah mangkrak selama puluhan tahun.” Penulis manusia biasanya lebih memilih tanda koma, atau malah memecahnya menjadi dua kalimat.

3. Frasa transisi yang klise

Dalam menghubungkan satu dengan paragraf lainnya, AI tak risi menggunakan transisi yang itu-itu saja. Contohnya, “Kalimat ini benar-benar kena banget,” “Nah, ini dia intinya,” “Pembahasan ini membawa kita pada satu pertanyaan pamungkas,” dan sebagainya. Sebenarnya bagus, tetapi keseringan. Tuman!

4. Metafora dunia tekstil

Kalau Kakak menemukan frasa “permadani kehidupan”, “merajut masa depan”, atau “menjalin kebersamaan”, curigalah bahwa mesin jahit AI telah bekerja untuk menyulam tulisan itu.

5. Berlebihan dengan kata “mengungkap”

AI seolah selalu bertugas “mengungkap misteri” atau “membuka potensi”, padahal yang dibahas mungkin sekadar tutorial cara bermain catur.

6. Pola deretan tiga serangkai

Algoritma AI suka sekali menderetkan tiga kata sifat sekaligus, misalnya, “Inovatif, kreatif, dan inspiratif.” Hm, mungkin agar tulisannya terlihat sangat inovatif, kreatif, dan inspiriatif, kali ya!

7. Hobi menyelam

Setiap kali ada transisi topik baru, AI pasti mengajak Kakak menyelami lebih dalam, seolah pembacanya sudah siap dengan tabung oksigen di punggung, hahaha.

8. Penggunaan kata sifat yang terlalu dramatis

Tulisan-tulisan hasil AI sering menempelkan label “sangat krusial” atau “amat revolusioner” untuk masalah-masalah yang sebenarnya biasa saja. Lebai, kan?

9. Terlalu sering menggunakan simile

Majas perumpamaan ini muncul berkali-kali di tulisan AI. Dan sialnya, perumpamannya biasanya norak! Misalnya, “Ia menyebarkan gosip bagaikan penjual martabak yang tidak sengaja menumpahkan sekilo meses ke atas adonannya.” Alamaaak….

10. Penutup berupa ajakan yang mengawang

Tulisan hampir selalu diakhiri dengan seruan heroik sejenis ini, “Mari kita bersama-sama melangkah menuju kesuksesan….” Hiiii, geli, enggak, sih?

Sebenarnya, masih banyak lagi ciri-ciri tulisan hasil AI lainnya. Ada yang mau menambahkan?

Setelah Tahu Itu Tulisan Hasil AI, Lalu Apa?

Tentu saja memodifikasinya! Dengan sedikit sentuhan, tulisan kaku dan garing AI bisa kembali menjadi karya lentur ala manusia.

Langkah pertama yang perlu Kakak lakukan adalah menghancurkan kesempurnaan strukturnya. Ubah panjang-pendek kalimat agar ritmenya terdengar lebih alami saat diucapkan.

Berikutnya, sarankan kepada penulisnya untuk menambahkan pengalaman pribadi, humor, atau opini yang sifatnya subjektif. AI tidak pernah merasakan antre beli kopi saat hujan deras atau bagaimana frustrasinya saat kuota internet tiba-tiba habis.

Masukkan elemen-elemen manusiawi dan autentik tersebut untuk membangun kedekatan emosional dengan pembaca. Gunakan bahasa kiasan yang segar dan tepat, bukan yang klise dari pangkalan data AI.

Gantilah istilah-istilah yang terdengar seperti pujangga abad pertengahan dengan kata sehari-hari yang lebih membumi. Kak, tulisan yang bagus bukanlah tulisan yang membuat pembacanya harus membuka kamus setiap menit!

Akhirnya, jangan takut untuk membiarkan tulisan sedikit berantakan atau tidak terlalu formal, selama pesannya tetap utuh dan ejaannya masih mematuhi aturan baku EBI. Ingatlah selalu bahwa audiens kita adalah manusia yang memiliki perasaan.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!