Setelah Homeland, Quo Vadis Studiokasatmata?

Kemarin saya blogwalking, lalu nyasar ke Studiokasatmata.com. Sunyi senyap. Kondisi situs itu seperti rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. “Haloooo? Ada oraaang??” Masih sunyi. Hanya terdengar gaung dari suara saya sendiri. Iseng-iseng, saya masuk ke ruang News. Eh, kosong juga! Bahkan kalender yang dipajang masih tahun 2005. Saya tiba-tiba jadi merasa sendirian dan angker. Tanda tanya pun berjejalan di otak ketika saya melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. Studiokasatmata pindah rumah? Atau kebetulan saja penghuninya sedang pergi semua tadi? Atau … Studiokasatmata memang telah tiada?

Kemungkinan terakhir itu yang paling saya harapkan tidak terbukti. Bagaimanapun, saya pernah mewawancarai dua orang Studiokasatmata, Kelik Wicaksono (Head Director) dan Gangsar Waskito (Penulis Naskah). Mereka orang-orang yang hebat. Perjuangan mereka, idealisme mereka, konsistensi mereka terhadap dunia animasi. Saya bahkan menggadang-gadang Studiokasatmata sebagai salah satu pelopor kebangkitan animasi di Indonesia.

Studiokasatmata bercikal bakal dari studio modeling arsitektur digital yang mungil. Di dalamnya berkumpul beberapa orang dengan kesamaan minat dari berbagai disiplin ilmu. Karya perdana mereka mulai diproduksi April 2002, judulnya Kelolodhen. Proyek ini melibatkan Bayu Sulistyo (sebagai 3D modeller dan animator), Kelik Wicaksono (3D modeller dan animator), Donny Sampurna (posproduksi), Bimo Suryojati (sound) serta Rimbar Diorisma (sound).

Diadaptasi dari komik pendek karangan Bayu, film berdurasi tujuh menit ini berkisah tentang pemuda-pemudi bernama Muki dan Jowee. Kelolodhen pun disertakan dalam FFII (Festival Film Independen Indonesia) 2002 yang diselenggarakan SCTV dan berhasil menembus posisi 10 besar. Tidak main-main, film pertama Studiokasatmata ini kemudian dipertontonkan ke pelbagai kota.

Tak puas dengan Kelolodhen, pada Agustus di tahun yang sama mereka menggarap Loud Me Loud. Satu orang bergabung, Muhammad Ihlas sebagai Art Director. Boleh dibilang film berdurasi 28 menit ini kelanjutan dari Kelolodhen. Tokoh Muki kali ini diceritakan mengacaukan pagi hari Jowee yang indah. Inilah perjumpaan pertama saya dengan Studiokasatmata. Karena VCD Loud Me Loud beredar bebas di rental-rental.

By the way, film ini akhirnya memperoleh Konfiden Award 2002 sebagai film favorit dan Kuldesak Award 2002 di Festival Film Video Independen Indonesia. Film yang dirampungkan dalam empat bulan ini sempat pula diputar di Jiffest (Jakarta International Film Festival) 2002. Lalu secara resmi Studiokasatmata didirikan pada 20 Februari 2002, meskipun tanpa badan hukum.

Pada 28 Maret 2003, kelompok yang juga berkarya secara profesional menghasilkan iklan layanan masyarakat dan video klip animasi ini memperoleh Visi Anak Bangsa Award, menyisihkan sembilan nominator lainnya. Penghargaan ini diberikan kepada kelompok seni yang oleh Yayasan Visi Anak Bangsa dinilai kreatif, inovatif, populer, bermanajemen baik serta menggunakan teknologi tepat guna. Wujudnya berupa subsidi produksi hampir sebesar 150 juta untuk menghasilkan sebuah karya dengan kriteria-kriteria tersebut.

Visi Anak Bangsa Award bersifat kompetitif, dengan nominator yang dipilih secara tertutup oleh Yayasan Visi Anak Bangsa. Setidaknya, untuk yang pertama (tahun 2003 adalah Visi Anak Bangsa Award perdana), sistem penilaian dilakukan dengan cara “jemput bola”.

Kelik mengaku kepada saya, dari ajang penghargaan inilah Studiokasatmata bisa melengkapi alat-alat produksinya. Ditambah dengan sejumlah penghasilan dari proyek-proyek lain, mereka akhirnya memiliki studio kontrakan yang mereka anggap lebih nyaman dan strategis, tujuh unit komputer plus UPS yang dilengkapi LAN (Local Area Networking) beserta scanner dan printernya, lisensi asli Sistem Operasi Windows XP dan program 3D Studio Max.

Namun tugas berat menanti mereka. Kelik dkk. segera menyiapkan proposal untuk memproduksi film animasi panjang (bioskop) berdurasi 90 menit berjudul Homeland. Kerja keras ini diawali dari usaha Gangsar Waskito. Sebuah film selalu bermula dari ide cerita. Maka Gangsar pun berusaha mengorek memori lamanya, sesuatu yang nantinya diubahnya menjadi skenario Homeland (tanah air).

Di Bonbin waktu itu aku ada tugas penulisan karya ilmiah ‘perjalanan penyanyi dangdut’ tapi di sana ternyata seru banget! ada 3 orangutan yang dilepas bareng ama ular phyton gede dan kura-kura gede. aku suka hewan dan mengagumi mereka. Btw aku merasakan suatu yang nyaman. dari jauh aku melihat kombinasi sosial antara manusia dan hewan yang… indah, enggak ada kata lain. kalo aja manusia dan hewan bisa hidup tanpa terpisah oleh sangkar kayaknya seru. dari sini aku mendapat ide ‘tanah air’. (Gangsar Waskito, 19 Februari 2005)

Saat proses brainstorming selesai, anggota lainnya mulai bekerja. Mereka mendapat pendampingan kreatif dari sineas Garin Nugroho, Jujur Prananto (penulis skenario Ada Apa dengan Cinta?), serta wartawan Bre Redana. Baru pada rentang Juni 2003—Mei 2004, proses visualisasinya (seperti 3D modelling, teksturing dan animasi) digarap.

Film yang merchandise-nya diproduksi Dagadu Jogja ini melibatkan sejumlah pengisi suara, antara lain Icha Sastrowilogo (sebagai Bumi), Puguh Indarso (Nino), Teddy Sutadhy (Sal), Giras Basuwondo, Project Pop, Enno Lerian, dan tak ketinggalan mantan vokalis Dr. PM: Edwin Moron. Proses dubbing ini dikerjakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2003. Sementara posproduksinya dikerjakan di Jakarta, mulai April hingga Mei 2004.

Yang saya tahu, tim inti Homeland berjumlah 10 orang, masing-masing sudah mempunyai keahlian khusus. Misalnya untuk praproduksi (script, previsualisasi, character/environment design, storyboard), produksi (3D modeller, animator), dan posproduksi (audio dan sound editing, visual effect editing). Sejak menggarap proyek sebesar Homeland, mereka melengkapi tanggung jawab organisasi dengan Divisi Managerial, seperti Tim Marketing maupun Tim Manager Produksi. Bagian inilah yang kemudian menyiapkan materi-materi marketing dan sponsorship bagi pihak Visi Anak Bangsa.

Setelah digarap selama total 14 bulan oleh 14 orang, Homeland ditayangkan secara premiere di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 5 Mei 2004. Tim marketing Visi Anak Bangsa bertindak lincah, Homeland pun di-roadshow-kan pada 7 Mei—3 Juni 2004. Tiga belas kota yang masuk dalam rutenya adalah Denpasar, Batam, Menado, Pekanbaru, Balikpapan, Padang, Pontianak, Lampung, Jember, Purwokerto, Malang, Salatiga dan Solo.

Kisah besar ini pun berakhir. Namun Homeland sempat meraih penghargaan sebagai film animasi panjang pertama produksi Indonesia, yaitu di Pusan Film Festival (Korea Selatan) dan Sarasvati Award 2004. Sarasvati Award adalah penghargaan yang diberikan di acara tahunan Bali International Film Festival (Biffest). Lantas pada Festival Film Animasi 2005, Homeland terpilih sebagai film terbaik kategori feature.

Info terakhir yang saya tahu, karya Studiokasatmata berikutnya adalah Alpha Hero Omega Zero (AHOZ) yang dirilis pada November 2005. Saya belum menonton film ini, tapi agaknya tidak seheboh Homeland.

Ah, biarlah. Yang penting sekarang, Mas Kelik, Mas Enggi, dan semua penghuni Studiokasatmata …. Semangat lagi, my friends!!

9 Replies to “Setelah Homeland, Quo Vadis Studiokasatmata?”

  1. Ree

    Penghuninya lagi pulang kampung x, mas Brahm. Moga2 pas balik bawa “sodara2” ke Studiokasatmata, jd lebih keren d karya2nya. Meski belum pernah liat film animasinya ( tp liat promonya di TV :p ), tp sy ikut bangga loh ada film animasi made in Indonesia yg menang p’hargaan2 b’gengsi dr dalam en luar negri. Salute & Semangat!!!

    Reply
  2. Brahm

    Trims, Ree. Nah, itu dia. Mrk ini kan banyak berprestasi, tp kok sekarang aku nggak denger lg kiprahnya? Semoga ini memang krn mrk sedang “pulang kampung” menyiapkan karya baru ya.

    Reply
  3. animatedbajoe

    weh…. thanks atas ulasan kasatmata. 🙂
    well, kita sekarang emang lagi “bertapa” ..
    berkarya tidak semudah itu. selain butuh biaya, kita juga mau mengasah orak dulu. tenang aja, kasatmata masih ada kok. yah.. emang ga ada yang ngurusin web ajah. heuhe. mau?

    tungguin aja yah.. tapi ga janji kapan.. pasti bikin karya yang bagus lagi deeh..

    support terus! 😀

    Reply
  4. Brahm

    Terima kasih udah mampir dan mengonfirmasi. Oh, ternyata lg pd bertapa to. Kami pasti support. Tp kalau ada informasi apa2, woro2 ya. Atau bs jg langsung ditulis di laman Anda. Sukses ya …. Tapi jgn lama2 tapanya 😛

    Reply
  5. Ulf

    Ayo mas buat lagi film animasi nya..

    biar Indonesia gk dibilang kuno..

    jangan sinetronnya aja yang diperbanyak..
    tapi animasinya juga donk….

    Reply
  6. Andri

    pelem animasi terpanjang pertama di Indonesia? bukannya ini ajaib!? emang dr org2 berpengaruh kita gak ngenyuport gt? gpp, pokoke maju terus mas kreatifitasnya!

    Reply
  7. Pingback: Balada Adit, Sopo dan Jarwo | Brahmanto Anindito's Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge