Baru-baru ini, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) merilis 13 program televisi yang dianggap mengandung makian, kekerasan, seks, atau pelecehan. Tayangan itu adalah Jelita (RCTI), Namaku Mentari (RCTI), Silet (RCTI), Rubiah (TPI), Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI), Si Entong (TPI), Mask Rider Blade (Antv), Mister Bego (Antv), Extravaganza (TransTV), Insert (TransTV), I Gosip Siang (Trans7), Super Seleb Show (Indosiar) dan Cinta Bunga (SCTV).
film & video
Independent Film Surabaya (Infis), Komunitas untuk Penyuka Film Indie
Komunitas Independent Film Surabaya alias Infis berdiri sejak 2000. Penggagasnya adalah I.G.A.K. Satrya Wibawa, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga. Sebagai insan komunitas film, Infis banyak dihuni oleh sineas (indie) muda, terutama mereka yang kuliah di Surabaya. “Namanya saja komunitas film indie Surabaya,” seloroh Renzy, mahasiswi Fakultas Kedokteran Unair yang didaulat sebagai PR Infis.
Berharap Kebangkitan Film Animasi Indonesia
Film animasi. Untuk urusan satu ini rasanya kita akan selalu menoleh ke Hollywood. Terutama bila kita bicara film layar lebarnya. Karena di sanalah film-film animasi menjelma jadi ikon baru produk box office. Sekedar memberi contoh, tatap saja film Ice Age, Shrek, Surf’s Up, Ratatouille, Persepolis atau Kungfu Panda. Dan senangnya, kegairahan yang sama pun terjadi di ranah film animasi lokal. Bila saya perhatikan, hingga awal tahun ini pertumbuhan film animasi lokal telah menampakkan wajah sumringahnya.
Upaya Hanung Bramantyo Membumikan Cerita Ayat-ayat Cinta
Wuah, akhirnya! Jadi juga menonton Ayat-ayat Cinta.
Di media novel, kehebatan kisah karya Habiburrahman El Shirazy ini terfasilitasi oleh kesempatan seluas-luasnya pengarang untuk bertutur detail. Sementara di filmnya, kedahsyatan cerita ini terfasilitasi oleh efek audio serta visualisasi yang memanjakan mata. Mana yang lebih saya rekomendasikan? Tidak salah satunya. Saya merekomendasikan dua-duanya. Karena, baik novelnya maupun filmnya, sama-sama membuat saya merinding.