Karya-karya dengan genre teenlit sering dipandang sebelah mata oleh praktisi dunia sastra. “Teenlit itu dangkal!” Mereka mengklaim begitu salah satunya setelah mengamati betapa dominannya penggunaan bahasa gaul yang mengacaukan kaidah bahasa Indonesia. Sudah begitu, isi teenlit cenderung miskin ungkapan. Plus, kosakata yang dipakai penulisnya itu-itu saja.
book & e-book
Tips Mencuri Hati Penerbit
Mencari penerbit yang bersedia menerbitkan naskah kita ibarat mencari pacar. Langkah-langkah yang perlu dipraktikkan pun hampir serupa. Yang perlu dilakukan pertama, gali informasi sebanyak-banyaknya tentang si dia (penerbit).
Memperkenalkan Genre Baru Penulisan: Cinelit
By: Mochammad Asrori
Cuaca yang tidak menentu dewasa ini rasanya cukup membuat aktivitas menjadi lesu darah. Musibah bertebaran di berbagai daerah dengan konsistensi yang mulai rapat. Ketika menulis catatan kecil ini saya sedang terjebak di toko buku, di luar sana hujan deras disertai angin keras membuat ciut nyali untuk menerobosnya meski dengan tameng jas hujan. Saya pun melihat rak-rak bagian novel yang dipenuhi teenlit. Genre satu ini memang punya pangsa yang luas, jadi eksistensinya (di luar kualitasnya) saya rasa tidak bakal ada matinya. Tapi wow, saya melihat deretan novel yang saya sendiri bingung menyebutnya. Sebagai chicklit? Bukan ah. Novel teenlit? Bukan kok. Namun tanpa perlu petugas sensus handal untuk mengetahui jumlahnya yang terus bertambah secara signifikan: Novel adaptasi dari film.
Setangkup Problematika Sastra Anak Indonesia
Secara umum, bacaan anak-anak sekarang cenderung tak lepas dari komik. Daftar buku terlaris anak pada jaringan toko buku terkemuka menunjukkan golongan buku komik Crayon Shinchan, Yu Gi Oh!, Detektif Conan Special, New Kung Fu Boy, Samurai Deeper Kyo, Naruto, Baby Love, Gals, atau Cerita Spesial Doraemon