Penuh warna. Mungkin itulah frasa yang bisa saya berikan untuk menggambarkan masa kecil Seno Gumira Ajidarma. Anak pertama dari dua bersaudara ini gemar sekali melawan aturan sekolah, sampai-sampai harus diskors dan dicap sebagai penyebab setiap kasus.
Berharap Kebangkitan Film Animasi Indonesia
Film animasi. Untuk urusan satu ini rasanya kita akan selalu menoleh ke Hollywood. Terutama bila kita bicara film layar lebarnya. Karena di sanalah film-film animasi menjelma jadi ikon baru produk box office. Sekedar memberi contoh, tatap saja film Ice Age, Shrek, Surf’s Up, Ratatouille, Persepolis atau Kungfu Panda. Dan senangnya, kegairahan yang sama pun terjadi di ranah film animasi lokal. Bila saya perhatikan, hingga awal tahun ini pertumbuhan film animasi lokal telah menampakkan wajah sumringahnya.
Surabaya Skate Board, Indie Skate Board
Berjalan-jalanlah ke Taman Bungkul yang sekarang telah menjadi hijau dan modern. Di sebelah utara taman, Anda akan melihat sekumpulan anak usia sekolah sedang bermain papan beroda alias skate board. Mereka tergabung dalam Surabaya Skate Board.
Upaya Hanung Bramantyo Membumikan Cerita Ayat-ayat Cinta
Wuah, akhirnya! Jadi juga menonton Ayat-ayat Cinta.
Di media novel, kehebatan kisah karya Habiburrahman El Shirazy ini terfasilitasi oleh kesempatan seluas-luasnya pengarang untuk bertutur detail. Sementara di filmnya, kedahsyatan cerita ini terfasilitasi oleh efek audio serta visualisasi yang memanjakan mata. Mana yang lebih saya rekomendasikan? Tidak salah satunya. Saya merekomendasikan dua-duanya. Karena, baik novelnya maupun filmnya, sama-sama membuat saya merinding.