Jarum jam sudah menunjuk angka 9, tapi sepasang muda-mudi masih asyik memilah VCD-VCD yang hendak mereka sewa. Di tangan wanita itu telah terselip banyak kotak VCD dari film-film Mandarin dan Hollywood. Oh, ternyata masih kurang. Sebuah kotak berhiaskan aksara hangeul pun dipungut. Hanya dalam hitungan detik sang pria di sebelahnya merespon, “Jangan! Film Korea itu gitu-gitu aja.” Dan si wanita segera mengembalikan kotak tadi, tanpa sedikit pun berusaha mendebat.
Mengulik Sendi-sendi Seksualitas dalam BH Emha Ainun Najib
By: Mochammad Asrori
Sebagian masyarakat Indonesia menganggap seksualitas sebagai sesuatu yang alami, kodrati, sehingga tak perlu dikomunikasikan, apalagi diajarkan. Namun seks akhirnya menjadi bagian dari perkembangan budaya. Secara pelak, sebuah cerita pendek sebagai cermin realitas sosial pun banjir akan tema-tema seksualitas. Bahkan seorang Emha Ainun Najib turut mengulik tema tersebut dalam cerita-cerita di BH-nya.
Hm, Rupanya Begini Cara Dan Brown Menulis

Siapa tak kenal novelis Amerika satu ini? The Da Vinci Code-nya telah memantik obor pro-kontra di seantero planet, termasuk di Indonesia. Tapi saya bukan berniat mengulik-ngulik kontroversi itu. Di sini saya cuma ingin membahas teknik Dan Brown yang menurut saya mengusung cara baru dalam penulisan thriller modern. Yah, saya tahu, kalau dirunut ke belakang, Brown bukanlah yang pertama melakukan kombinasi teknik ini. Namun setidaknya dia kan yang terkenal.
Lika-liku Membisniskan Agama melalui Film
Kata kawan saya, di kampungnya ada pemuda yang bandelnya nggak ketulungan: Kurang ajar terhadap orangtua, maling sandal di musala, mencuri kotak amal masjid. Benar-benar menjengkelkan, pokoknya. Sampai-sampai salah satu ibu di sana nyeletuk, “Aku pingin tau matinya tuh anak. Pasti ada banyak belatung di mayatnya.”