Bulan ini, Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-62. Umur perfilman Indonesia sendiri sudah 80 tahun lebih. Namun, di usia segitu, ternyata kita belum merdeka dari adegan-adegan tertentu yang klise.
Perspective Shifting
Ajakan untuk melihat sudut pandang baru dalam dunia kepenulisan.
Menonton Orang-orang Korea, Kenapa Tidak?
Jarum jam sudah menunjuk angka 9, tapi sepasang muda-mudi masih asyik memilah VCD-VCD yang hendak mereka sewa. Di tangan wanita itu telah terselip banyak kotak VCD dari film-film Mandarin dan Hollywood. Oh, ternyata masih kurang. Sebuah kotak berhiaskan aksara hangeul pun dipungut. Hanya dalam hitungan detik sang pria di sebelahnya merespon, “Jangan! Film Korea itu gitu-gitu aja.” Dan si wanita segera mengembalikan kotak tadi, tanpa sedikit pun berusaha mendebat.
Lika-liku Membisniskan Agama melalui Film
By: Brahmanto Anindito
Kata kawan saya, di kampungnya ada pemuda yang bandelnya nggak ketulungan: Kurang ajar terhadap orangtua, maling sandal di musala, mencuri kotak amal masjid. Benar-benar menjengkelkan, pokoknya. Sampai-sampai salah satu ibu di sana nyeletuk, “Aku pingin tau matinya tuh anak. Pasti ada banyak belatung di mayatnya.” Komentar ini dipicu—apalagi kalau bukan—oleh sinetron-sinetron religius kegemaran warga sana. Kami pun geleng-geleng berjamaah.
Sekadar Usulan demi Perfiksian Indonesia
Setelah bertahun-tahun malang melintang sebagai penikmat fiksi, saya jadi semakin prihatin dengan perkembangannya di Indonesia. Yang paling kentara adalah filmnya (sinetron termasuk film). Di sana banyak pencontekan, bahkan plagiat, terhadap film-film luar. Memang, mereka terkadang memiliki ijin memproduksi versi Indonesianya (remake). Tapi bukankah dengan begitu kian terbukti bahwa kita telah dan sedang kekeringan ide cerita?