By: Mochammad Asrori
Cuaca yang tidak menentu dewasa ini rasanya cukup membuat aktivitas menjadi lesu darah. Musibah bertebaran di berbagai daerah dengan konsistensi yang mulai rapat. Ketika menulis catatan kecil ini saya sedang terjebak di toko buku, di luar sana hujan deras disertai angin keras membuat ciut nyali untuk menerobosnya meski dengan tameng jas hujan. Saya pun melihat rak-rak bagian novel yang dipenuhi teenlit. Genre satu ini memang punya pangsa yang luas, jadi eksistensinya (di luar kualitasnya) saya rasa tidak bakal ada matinya. Tapi wow, saya melihat deretan novel yang saya sendiri bingung menyebutnya. Sebagai chicklit? Bukan ah. Novel teenlit? Bukan kok. Namun tanpa perlu petugas sensus handal untuk mengetahui jumlahnya yang terus bertambah secara signifikan: Novel adaptasi dari film.
