Film Indonesia mulai bangkit. Sastra Indonesia sudah lama jadi tuan di rumah sendiri. Komik Indonesia? Boro-boro membuat komikusnya hidup makmur, sekadar menjadi sandang-pangan saja terseog-seog lantaran konsumennya cenderung memilih komik manca. Tapi di tengah-tengah kelesuan tersebut, komik digital hadir sebagai senjata baru untuk menggempur hati konsumen. Patut diapresiasi.
Perspective Shifting
Ajakan untuk melihat sudut pandang baru dalam dunia kepenulisan.
Berharap Kebangkitan Film Animasi Indonesia
Film animasi. Untuk urusan satu ini rasanya kita akan selalu menoleh ke Hollywood. Terutama bila kita bicara film layar lebarnya. Karena di sanalah film-film animasi menjelma jadi ikon baru produk box office. Sekedar memberi contoh, tatap saja film Ice Age, Shrek, Surf’s Up, Ratatouille, Persepolis atau Kungfu Panda. Dan senangnya, kegairahan yang sama pun terjadi di ranah film animasi lokal. Bila saya perhatikan, hingga awal tahun ini pertumbuhan film animasi lokal telah menampakkan wajah sumringahnya.
Upaya Hanung Bramantyo Membumikan Cerita Ayat-ayat Cinta
Wuah, akhirnya! Jadi juga menonton Ayat-ayat Cinta.
Di media novel, kehebatan kisah karya Habiburrahman El Shirazy ini terfasilitasi oleh kesempatan seluas-luasnya pengarang untuk bertutur detail. Sementara di filmnya, kedahsyatan cerita ini terfasilitasi oleh efek audio serta visualisasi yang memanjakan mata. Mana yang lebih saya rekomendasikan? Tidak salah satunya. Saya merekomendasikan dua-duanya. Karena, baik novelnya maupun filmnya, sama-sama membuat saya merinding.
Cerpen = Investasi
Cerita pendek (cerpen) adalah genre sastra populer yang selama ini keberadaannya kurang dianggap bergengsi. Padahal, inilah jenis karya berbasis penuturan yang paling ringkas, baik di sisi penulis maupun pembacanya.