E-A-T: Faktor Kredibilitas Kreator dalam Algoritma Google

E-A-T: Faktor Kredibilitas Kreator dalam Algoritma Google

Apakah Anda juga merasakan perubahan hasil pencarian Google yang semakin baik? Tulisan-tulisan yang ditulis bukan oleh ahlinya di internet pun satu per satu mulai dipinggirkan oleh mesin penelusuran nomor satu dunia ini. Tampaknya, itu berkat semakin canggihnya mesin Google Medic alias Google E-A-T.

Dulu, ketika kita googling sesuatu, yang muncul di halaman pertama biasanya konten-konten dari forum daring. Tulisan-tulisan di sana sebenarnya tidak bisa dibilang baik. Banyak pula yang hasil salin tempel dari portal-portal berita. Tetapi karena sangat populer, tingkat engagement-nya tinggi, akhirnya Google menghadiahinya dengan posisi strategis di halaman hasil pencariannya.

Begitu juga blog-blog yang, secara bahasa, tak kalah kacaunya. Terlihat sekali, niat sang penulis memang ingin artikelnya dibaca oleh mesin crawler Google, supaya bisa menyodok peringkat atas. Sementara, pembaca manusia cenderung diabaikan. Akibatnya, tata bahasanya keriting, berputar-putar, banyak pengulangan yang tidak perlu. Itu pasti karena penulisnya mengejar kepadatan kata kunci (keywords density).

Kata kunci memang faktor yang sangat berpengaruh, pada zaman itu. Namun, belakangan Google tidak terlalu ambil pusing dengan itu, karena algoritmanya sudah semakin pintar. Tahun 2019, Google meluncurkan BERT, algoritma yang mampu mengenali konteks tulisan, alih-alih cuma kata kunci yang bolak-balik diulang.

Namun, bukan algoritma itu yang hendak dibahas di sini. Kita justru ingin menyoroti peran E-A-T.

Apa Itu Google Medic atau E-A-T

Expertise (keahlian), Authoritativeness (kewenangan), dan Trustworthiness (amanah) atau disingkat E-A-T adalah salah satu parameter atau bagian dari algoritma Google yang berfungsi untuk mendeteksi kredibilitas pembuat konten dan situs webnya.

Aturan tak tertulis mengenai penulisan dalam dunia nyata pun diadopsi: Jangan menulis sesuatu yang bukan bidang kita!

Jika Anda bukan pebisnis, jangan menulis kiat-kiat bisnis. Salah-salah, itu berpotensi menyesatkan pembaca Anda sehingga membuat bisnisnya bangkrut. Jika Anda belum menikah, jangan menulis buku Resep Pernikahan Langgeng. Atau lebih sederhana lagi: Jika Anda belum menonton film Dreams (Akira Kurosawa), jangan menulis resensi film Dreams.

Saran tersebut berlaku spesifik untuk karya nonfiksi. Sebab, karya fiksi lebih bebas. Sudah banyak kita lihat, penulis yang tidak pernah bertemu kuntilanak saja bisa menulis novel kuntilanak. Pun, yang di dunia nyata selalu gagal dalam percintaan tetap bisa menulis skenario film romantis.

Menulis lagu juga bebas. Asal melodinya enak di telinga dan video klipnya menyentuh, itu sudah cukup membuat fansnya klepek-klepek membayangkan betapa romantisnya sang idola. Padahal, bisa jadi sang idola tidak seromantis itu. Bahkan terbukti, ada yang digugat cerai istrinya karena kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Berbeda dengan karya nonfiksi. Dalam tulisan jenis ini, harus sesuai antara siapa yang menulis dan apa yang ditulisnya. Ini terutama berlaku untuk penulis jurnal ilmiah atau artikel di media. Namun belakangan, menulis di internet juga dituntut seperti itu. Google E-A-T yang menjadi “hakimnya”.

Warung Fiksi pernah memiliki blog di ceruk kesehatan. Trafiknya lumayan, antara 20-40 ribuan pengunjung per bulan. Namun, pelan-pelan, grafiknya menurun. Hingga dua tahun lalu, pengunjung bulanannya menjadi ratusan saja. Akhirnya, domain dan hos blog tersebut tidak kami perpanjang. Karena tema kesehatan sebenarnya bukan passion kami.

Berdasarkan statistik blog, sumber trafik utama blog tersebut adalah Google. Dari sana, dapat disimpulkan bahwa penurunan trafik terjadi karena perubahan algoritma Google, khususnya terkait masalah E-A-T.

Kami sadar, Warung Fiksi tidak memiliki kompetensi di bidang dunia kesehatan dan kedokteran. Maka dari itu, sebenarnya kami tidak berhak menulis tema-tema medis seperti itu. Karena nekat, maka Google satu per satu melorot halaman-halaman blog tersebut dari halaman hasil pencariannya.

Ini tidak seperti 5-10 tahun silam, ketika banyak bloger bermain AdSense secara liar. Mentang-mentang tiap klik di iklan-iklan bertema kanker, misalnya, bernilai dolar besar, mereka memaksakan diri membuat blog bertema kanker. Tidak peduli mereka bukan dokter.

Dokter pun tidak semuanya boleh berbicara panjang-lebar mengenai kanker. Supaya afdal, dia harus spesialis kanker atau onkologis. Lantas, demi apa seorang onkologis ngeblog dengan Adsense?

Salah seorang klien kami pernah mengajak menghadiri seminar onkologi di Ballroom Hotel Shangri-La, salah satu hotel bintang lima di Surabaya. Seminar yang mewah. Suvenirnya saja iPad! Ya, tiap peserta seminar mendapat satu iPad.

Kira-kira, masih butuhkah orang-orang seperti itu penghasilan tambahan dari Adsense? Sulit dipercaya. Apalagi, tampilan blog-blog yang kami lihat itu pakai Blogspot.com gratisan, desainnya amatiran, tulisannya amburadul, gambarnya comot sana-sini.

Tidak mungkin bloger-bloger itu dokter, apalagi spesialis kanker. Namun, mereka tetap nekat menulis artikel tentang Tips Survive Kemoterapi, Pencegahan Kanker Getah Bening, Kanker Sembuh Total Hanya dengan Minum Susu. Betapa berbahayanya ini. Kalau tulisannya tidak benar, nyawa taruhannya!

Itulah artikel-artikel yang diincar oleh Google E-A-T alias Google Medic. Google tidak akan lagi mempromosikan tulisan-tulisan yang dibuat bukan oleh ahlinya, khususnya untuk tema-tema yang berkaitan dengan nyawa, keselamatan, dan hajat hidup manusia.

Selain meninjau kredibilitas di profil penulis, Google juga akan melihat jenis webnya sendiri. Kalau blog, situs web, atau portalnya tepercaya, penulis tidak terkenal dan tidak memiliki kredibilitas pun bukan masalah.

Misalnya, di bidang olahraga sepak bola. Anda bukan pengamat, atlet, manajer, atau siapapun yang berkaitan langsung dengan industri sepak bola. Anda seharusnya tidak punya kredibilitas di bidang sepak bola. Namun, bila menulisnya di portal Detik Sport, tulisan-tulisan Anda masih berpeluang ranking di halaman hasil pencarian.

Lain soal kalau menulisnya di blog Anda sendiri. Pasti Google acuh tak acuh dengan artikel itu.

Mengantisipasi Google E-A-T

Update E-A-T inilah yang membuat hasil penelusuran di Google semakin relevan dan memuaskan. Terutama, untuk penggunanya (searcher). Sebaliknya, untuk penulis kontennya, ini sama dengan kerjaan ekstra.

Terkadang, kita ingin menulis bebas tanpa aturan-aturan di blog kita. Temanya terserah kita. Mau menulis politik, bisnis kilang minyak, galaksi-galaksi di alam semesta, pembangkit listrik tenaga nuklir, dan macam-macam lainnya. Gaya penulisannya pun sesuka kita, maunya.

Silakan. Boleh-boleh saja. Namun, bila tema itu bukan wilayah keahlian kita, pilihannya dua:

  1. Jangan menggantungkan diri pada Google sebagai sumber trafik. Lantas, pembacanya datang dari mana? Dari mana saja: mesin penelusuran selain Google, lewat woro-woro manual kita di media sosial (medsos), email, WA, atau lainnya.
  2. Kalau kita masih tergantung Google, lakukan riset dengan baik. Kita mungkin bukan ahli di bidang itu, tetapi tunjukkanlah kalau kita juga tidak asal-asalan dalam menulis setiap artikel.

Ketika masih memulai bekerja sebagai wartawan dulu, redaktur penulis pernah menugasinya meliput dan menulis kolektor piringan hitam di Surabaya. Saat itu, penulis langsung menego, “Bos, jangan saya, dong. Saya nggak ngerti apa-apa soal piringan hitam. Bukan ahlinya. Penikmat aja bukan.”

Apa jawaban beliau? Simpel, “Ya makanya, cari tahu dulu. Itu tugasmu, tugas wartawan!”

Intinya, redaktur saya menyuruh, pertama, cari sumber-sumber tepercaya sebagai bahan tulisan. Dua, tulisannya nanti jangan luapan dari isi kepala kita, melainkan dari isi kepala narasumber yang jauh lebih layak berkomentar mengenai piringan hitam.

Bila saran ini diterapkan di artikel blog kita, yang perlu kita lakukan supaya dilirik Google meskipun kita bukan ahli di tema yang kita tulis, kurang-lebih begini:

  1. Artikel harus berdasarkan referensi. Gunakan sumber-sumber seperti jurnal ilmiah, buku-buku bermutu, Google Scholar, atau minimal berita dari media-media mainstream seperti Kompas, Tempo, Jawa Pos, dan lain-lain.
  2. Pinjamlah opini seorang eksper. Contohnya, kita hendak menulis artikel blog tentang Ya’jud Ma’jud, kaum yang akan muncul menjelang Hari Kiamat, menurut agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Bukan masalah bila latar belakang kita cuma lulusan ekonomi. Hanya, jangan beropini sendiri. Wawancarailah orang-orang yang tepat: ulama, pendeta, dan rabi yang punya pengetahuan mendalam tentang Ya’jud dan Ma’jud atau Gog and Magog.
  3. Perkaya artikel tersebut dengan konten-konten pendukung. Misalnya, dengan foto, infografik, tabel, video, podcast, atau hal-hal lain yang relevan.

Kalau merasa langkah-langkah ini ribet, kita selalu dapat memilih opsi pertama tadi: woro-woro ke medsos, WA, atau email, supaya teman, saudara, atau kenalan ada yang berkunjung dan membaca. Terserah kita saja, sebenarnya, mau memilih cara yang mana.

Begitulah sekelumit tentang Google E-A-T dan cara untuk mengantisipasinya. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.