Film Indonesia mulai bangkit. Sastra Indonesia sudah lama jadi tuan di rumah sendiri. Komik Indonesia? Boro-boro membuat komikusnya hidup makmur, sekadar menjadi sandang-pangan saja terseog-seog lantaran konsumennya cenderung memilih komik manca. Tapi di tengah-tengah kelesuan tersebut, komik digital hadir sebagai senjata baru untuk menggempur hati konsumen. Patut diapresiasi.
Brahmanto Anindito
Upaya Hanung Bramantyo Membumikan Cerita Ayat-ayat Cinta
Wuah, akhirnya! Jadi juga menonton Ayat-ayat Cinta.
Di media novel, kehebatan kisah karya Habiburrahman El Shirazy ini terfasilitasi oleh kesempatan seluas-luasnya pengarang untuk bertutur detail. Sementara di filmnya, kedahsyatan cerita ini terfasilitasi oleh efek audio serta visualisasi yang memanjakan mata. Mana yang lebih saya rekomendasikan? Tidak salah satunya. Saya merekomendasikan dua-duanya. Karena, baik novelnya maupun filmnya, sama-sama membuat saya merinding.
Cerpen = Investasi
Cerita pendek (cerpen) adalah genre sastra populer yang selama ini keberadaannya kurang dianggap bergengsi. Padahal, inilah jenis karya berbasis penuturan yang paling ringkas, baik di sisi penulis maupun pembacanya.
Breaking News: Resume Film Layar Lebar Indonesia 2007
Finis! Secara psikologis, tahun 2007 sudah habis. Kalau tak salah catat, industri perfilman kita merilis 48-an film bioskop tahun ini. Dan Tiga Besar Sementara-nya: Nagabonar Jadi 2 (film Komedi dengan 1,3 juta penonton), Get Married (film Komedi dengan 1,2 juta penonton), dan Terowongan Casablanca (film Horor dengan 1,1 juta penonton). Saya sebut “sementara” karena ada film yang berpeluang menyodok ke posisi Tiga Besar, seperti Quickie Express (Komedi) dan Film Horor (Komedi). Cuma lantaran rilis mereka baru November, belum bisalah kita membandingkannya dengan film-film lain yang telah mencapai ujung lifecycle-nya pada tahun ini juga. Tapi ngomong-ngomong, dari film-film yang saya sebutkan tadi apakah Anda menangkap bahwa kilau film Horor mulai meredup?