
Kebanyakan penulis bekerja sendiri dalam menghasilkan karya. Namun, ketika berhadapan proyek yang besar dan tenggat yang padat (seperti penulis-penulis industrial), ia tak bisa lagi mempertahankan kesendiriannya. Ide harus segera mucul, tak peduli kita dihinggapi ilham atau tidak.
Solusinya? Mintalah orang lain bersama-sama memikirkan ide itu.
Dalam industri kreatif, ada istilah brainstorming. Metode ini sudah lama terbukti produktif menelurkan ide-ide kreatif secara berkelompok. Cara kerjanya sederhana. Para anggota yang mengikuti brainstorming harus mengutarakan ide sebanyak mungkin, segila mungkin, sambil menghindari penghakiman atas ide-ide orang lain.
Namun, tahukah Anda, pada 1987, Michael Diehl dan Wolfgang Stroebe dari Tubingen University di Jerman mempertanyakan efektivitas metode ini. Ide-ide yang dihasilkan dalam sesi brainstorming, kata mereka, ternyata lebih sedikit dari ide-ide yang berhasil dikumpulkan ketika masing-masing orang bekerja sendirian.
Mengapa bisa demikian? Ada beberapa alasan di sini:
- Free rider phenomenon. Beberapa anggota sengaja menyimpan pendapatnya dan membiarkan anggota lain berpartisipasi. Bisa jadi mereka merasa sesi tersebut takkan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi diri mereka sendiri.
- Evaluation apprehension. Para anggota kemungkinan tidak berani menghasilkan ide-ide yang berkualitas karena takut ditertawakan.
- Blocking. Sewaktu rekannya berbicara, sementara muncul ide baru di otak, seorang anggota harus menunggu giliran. Manusia mudah lupa. Ia sulit menciptakan ide baru saat masih harus mengingat ide sebelumnya. Bahkan bisa saja dia malah melupakan semuanya.
Namun demikian, kelebihan brainstorming yang tidak bisa ditandingi oleh berpikir sendirian adalah kemampuannya dalam menggabungkan ide dari beberapa individu. Jadi, yang harus dipikirkan adalah memanfaatkan kelebihan sambil mengurangi kelemahannya.
Untuk melakukan itu, cobalah langkah-langkah berikut:
- Masing-masing peserta diberi kertas untuk menuliskan daftar idenya (kerja individu).
- Adakan diskusi (kerja berkelompok).
- Bila seorang peserta lain kebetulan menyinggung ide yang mirip, ia (yang punya ide sama) harus mengutarakan versinya untuk memperkaya ide tersebut.
- Terus kumpulkan ide-ide lain.
- Pastikan semua ide pada daftar peserta sudah dibahas.
- Pilih ide-ide yang paling relevan. Evaluasi. Gabungkan. Kembangkan.
Dengan cara tersebut, metode brainstorming diharapkan lebih optimal. Selamat mencoba!
Seperti inilah Satin Merah ditulis, walaupun dalam jarak jauh. I’m very proud of it. 🙂
Iya. Coba kalau kerjanya face to face. Pasti lbh cepat lg selesainya, hahaha.
Hahaha… Eh, bisa aja ntar face to face. Pasti bisa. 😉
Hi,
I am emailing from a leading advertising agency based in London.
I am getting in touch with you as I am looking for quality websites,
such as yours, to place some adverts on your website and would like
to know if this is something which would be of interest to you?
The placement of our adverts are contextually matched to the content on
the page, therefore relevant.
Do let me know if you are interested to discuss any partnerships with us
as we feel the positioning of your website will have strong benefits for
both parties.
Please email me back with your thoughts or questions.
Kind regards,
Daniel
Daniel Revita
New Media Specialist
Thank you, Daniel. Is it some kind of Adwords? We’re looking for display ads. I’ve registered to yours, but unfortunately couldn’t see any payment method there.
menarik, sy juga coba teknik ini dalam menulis fiksi. Trm ksh.