5 Alasan Kita Dapat Surat Penolakan dari Penerbit

Surat penolakan selalu menyakitkan bagi penulis. Yang lebih menyakitkan, beberapa penulis tidak tahu-menahu kenapa karya mereka ditolak. Sehingga, terkadang muncullah pertanyaan, “Kok, bisa-bisanya karyaku ditolak, padahal teman-teman dan keluargaku memuji-muji karya ini!”

4 Alasan Kita Dapat Surat Penolakan dari Penerbit

Nah, kalau itu yang Kakak pertanyakan, jawabannya sebenarnya mudah saja. Keluarga dan teman Kakak melihat Kakak dalam karya itu. Mereka cenderung tidak ingin hati Kakak hancur, atau malas berkonflik ketika Kakak mungkin tidak terima. Di sisi lain, seorang editor seringnya tidak mengenal Kakak, sehingga bisa lebih objektif dalam menilai.

Ada setidaknya lima alasan mengapa Kakak menerima surat penolakan dari penerbit.

1. Tidak Sesuai Selera Editor

Memang, alasan penolakan bisa sangat subjektif: cuma masalah selera. Saya pernah menerima naskah novel saya plus surat penolakan hanya satu minggu setelah saya mengirimkannya. Penolakan cepat semacam ini bisa jadi karena masalah tadi: editor tidak suka dengan gaya menulis kita.

Kakak tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali kalau Kakak memang mau menyesuaikan tema atau gaya penulisan dengan selera editor.

2. Alasan Teknis Penulisan

Ini penyebab utama, dan rasanya yang paling mudah terdeteksi. Misalnya, alur cerita Kakak membingungkan, protagonisnya tidak cukup menonjol, konfliknya terlalu umum, terlalu klise, banyak salah ketik (saltik), temanya basi, dan lain-lain.

Untuk menghindari penolakan dengan alasan ini, Kakak bisa membaca tip-tip penulisan. Salah satunya, tentu saja, blog Warung Fiksi ini, hehehe.

3. Cerita Kakak Mengandung Unsur Kebencian

Beberapa penerbit tidak mau ambil risiko dengan menerbitkan karya yang berpotensi membawa masalah. Kakak pun jika punya usaha penerbitan pasti berpikir seratus kali sebelum menerbitkan karya-karya kontroversial, bukan? Sebab, viral bukan selalu berarti cuan atau menaikkan citra penerbitan. Viral seringnya berarti masalah.

4. Sesuatu Yang Mirip Baru Saja Diterbitkan

Bagaimana mau menerbitkan buku tentang kripto jika bulan lalu penerbit itu juga menerbitkan buku tentang kripto? Kecuali kalau karya Kakak benar-benar berbeda.

Atau, pasar ditengarai sudah jenuh dengan hal-hal terkait kripto. Lagi pula, mata uang kripto sedang tiarap semua, misalnya. Karya semacam ini akan dihindari oleh penerbit-penerbit.

5. Ada Pergantian Kebijakan

Ini faktor yang paling sulit kita prediksi. Coba bayangkan, Kakak mengirim naskah fiksi ke penerbit, eh, ternyata beberapa saat kemudian, ada pergantian staf. Misalnya, editornya ganti. Kebijakannya pun ganti. Kalau seperti ini, naskah-naskah yang awalnya diputuskan diterima bisa saja tiba-tiba dikembalikan.

Bisa juga penerbit sedang mengurangi daftar buku yang mereka terbitkan. Saya pernah jadi korban kasus semacam ini.

Nah…

Apakah karya Kakak terbentur salah satu dari lima hal di atas? Perbaikilah! Kecuali poin nomor lima, Kakak senantiasa bisa memperbaiki “kesalahan-kesalahan” itu, kalau mau. Surat penolakan yang baik selalu dapat memberi kita pelajaran untuk menjadi penulis yang lebih baik.

Bahkan penulis sekelas Stephen King sampai memalu paku di dinding dan menusukkan setiap slip penolakan ke paku itu. Paku di dinding itu sampai tak muat lagi dengan slip-slip penolakan karyanya, sebelum cerpen pertamanya dimuat di Starting Mystery Stories.

Ingat juga, A Time to Kill karya John Grisham sempat ditolak 25 kali oleh penerbit. Nasib serupa dialami J.K. Rowling, Dan Brown, Sidney Sheldon, serta hampir semua penulis besar lainnya.

Dan jangan pernah mengira penulis-penulis yang sudah punya nama itu tidak lagi mengalami penolakan. Jadi, tetap semangat! Ayo, kirim lagi!

BAGIKAN HALAMAN INI DI

9 thoughts on “5 Alasan Kita Dapat Surat Penolakan dari Penerbit”

  1. Aku mengalami tiga kali penolakan. Jawabannya sama: tidak sesuai minat. Salahku sih, nggak membaca karakter penerbitnya dulu. Katanya kalo mau tau selera penerbit, cari tahu aja buku terbitannya yg best seller.

    Reply
  2. Kalau novel2ku sudah ditolak empat penerbit. Kalah lomba sekali. Diterima dua kali (maksudnya dua penerbit). Hm, nggak seru ya. Kalau dipikir2, “penderitaan” ini terasa enteng dibandingkan perjuangan penulis2 di atas yg kutulis. Aih, kadang2 kita memang kurang bersyukur.

    Reply
  3. punteun! ka sadayana bilih abdi ngaganggu anu sanes, karuhun di situs ieu atawa bapak ibu anu parantos ningal blog ieu mudah-mudahan diterima amal solehna. kiwari abdi tos ningal blog ieu ayeuna meuni seeur anu ngoment teu paruguh geuningan, ah keun welah nyak nu pentingmah ngabacklinkan sing seeur jeung situsna tiasa tampil di pagehiji amien!

    Reply
  4. Bram, pernahkah kau disetujui terbit, sudah tanda tangan, tapi tiba-tiba batal? Temenku pernah. Tapi buku non fiksi. Dianya langsung drop, sudah koar-koar kemana-mana, sich. Kasian. Bagaimana etika atau hukumnya pernerbit seperti itu?

    Reply
  5. Alhamdulillah, blm pernah. Tp sampai udah di-layout, penerbitannya dibatalin sepihak, pernah. Nah kalau sampai udah teken tiba2 dibatalin ya nggak etis lah. Soal hukum, kamu lihat aja di kontraknya. Ada pasal yg memungkinkan pembatalan dari penerbit nggak? Biasanya, bahasanya halus, misalnya: “Kalau dalam jangka sekian bulan blm dicetak, naskah DIKEMBALIKAN ke penulisnya.”

    Posisi kita penulis, sayangnya, emang lemah. Tp kabar baiknya, kasus yg menimpa temenmu itu jarang banget terjadi, setahuku. Yah, semoga dia dpt ganti penerbit yg lbh baik.

    Reply
  6. Misalnya menyinggung SARA. Tokohmu dari suku tertentu, tp melecehkan suku lain. Tokohmu menggugat agama tertentu. Semua itu fiksi, semua tahu. Tp fiksi itu punya kekuatan utk mempengaruhi alam bawah sadar pembaca. Jd ini akan bermasalah jg.

    Berhadapan dg naskah2 spt ini, penerbit (besar) males ambil risiko. Kalau aku jd penerbit pun lbh baik kutolak 🙂

    Reply
  7. oh… oh… begitu…
    yaya… betul juga.
    di Film Angel & Demon-nya, buku Dan Brown. Assasin (pembunuh bayaran)yang seharusnya kulit hitam juga dirubah jadi berkulit putih. takut menimbulkan isu rasis (kebencian) kali ya.
    makasih ya infonya, membantu 🙂

    Reply

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!