Metode Penulisan Save The Cat!

Save The Cat!: Metode Penulisan Fiksi Populer

Sering merasa bingung ketika mulai menulis karya-karya fiksi panjang seperti novel atau skenario film? Ingin mengandalkan intuisi, tetapi tidak yakin apakah audiens bisa tertarik dari awal sampai akhir? Kalau situasinya demikian, mengapa Kakak tidak menggunakan Save the Cat! (STC) saja?

Metode ini memberikan peta yang jelas tentang apa yang harus kita lakukan terhadap struktur cerita film atau novel. Kita tinggal mengikutinya, Kak! Struktur STC sudah terbukti banyak digunakan di film-film dan buku-buku yang laris, baik penulisnya sadar atau tanpa sadar.

Mengapa Metode Penulisannya Dinamakan Save The Cat!

Namanya sebenarnya lucu: Selamatkan Kucingnya! Memangnya, ada apa dengan kucingnya?

Ternyata, penggunaan kata “kucing” di sini hanyalah perumpamaan. Konsep ini berangkat dari ide membuat pembaca peduli terhadap si tokoh utama atau TU (disebut juga pahlawan atau hero dalam istilah STC). Karena kucing umumnya membuat orang gemas dan luluh, metode ini dimulai dengan TU menyelamatkan “kucing”.

Dengan cara itu, sebagian besar pembaca atau penonton akan peduli dan bersimpati terhadap TU. Meskipun ia hanya manusia biasa yang memiliki banyak kelemahan, bukan seorang pahlawan super.

Contohnya, dalam film Sea of Love. Seorang detektif, Frank Keller (diperankan oleh Al Pacino), hendak menjebak penjahat. Saat ia melihat seorang ayah membawa anaknya ke lokasi tersebut, ia memberi kode agar ayah itu segera pergi supaya tidak tertangkap.

“Kucing” terselamatkan. Itulah momen penonton langsung tahu bahwa Frank adalah polisi yang memiliki hati nurani.

Sesederhana itu membangun empati audiens.

Adalah Blake Snyder, orang yang pertama mengembangkan metode penulisan STC ini. Pada 2005, penulis skenario di Hollywood dan guru penulisan ini menulis buku berjudul Save the Cat! The Last Book On Screenwriting You’ll Ever Need.

Lalu, pada 2018, Jessica Brody mengembangkan konsepnya lebih lanjut, tetapi khusus untuk novel. Di buku berjudul Save the Cat! Writes a Novel: The Last Book on Novel Writing You’ll Ever Need tersebut, Metode STC menjadi panduan yang lebih rinci.

Fokusnya tetap di Tokoh Utama, Bukan Kucingnya

Jantung dari metode STC bukan tentang berbuat baik menolong “kucing”, tetapi tentang transformasi karakter utama (character arc). Kucing ibaratnya hanya uang muka untuk menjamin penonton mau terus menonton berjam-jam film dan pembaca mau membaca ratusan halaman novel.

Dari menyelamatkan kucing, TU beralih ke menyelamatkan dirinya sendiri yang sedang rusak, berantakan, atau tidak sempurna. Nanti, di penghujung alur, keadaan itu sudah berubah drastis.

Makanya, metode ini juga disebut sebagai mesin transformasi, karena plotnya mengikuti perubahan karakter berdasarkan keinginan dan kebutuhan TU.

  • Keinginan: Tujuan eksternal yang biasanya terungkap dengan jelas di awal cerita.
  • Kebutuhan: Tujuan internal, pesan moral, atau nilai spiritual dalam cerita. Kebutuhan ini bersifat tersirat (sengaja tidak dikatakan melalui narasi atau dialog), karena tokoh itu sendiri mungkin tidak menyadarinya.

Kebutuhan TU biasanya baru menjadi jelas menjelang akhir cerita. Ini semacam momen insaf bagi TU, menyadari bahwa sebenarnya hal inilah yang jauh lebih penting.

Jadi, sebelum mulai membangun cerita, bangunlah sosok TU itu. Tanyakan kepada diri sendiri apakah:

  • TU berubah lebih bayak dibanding tokoh lain dalam cerita Kakak?
  • Masalah atau kekurangan TU bersifat spesifik dan mendesak untuk diubah?
  • Tujuan TU cukup konkret, dalam arti jelas dengan cara apa dan kapan harus dicapai?
  • Ada sesuatu yang menghalangi TU untuk mencapai tujuannya?
  • Kebutuhan TU bersifat universal dan bisa dipahami sembarang orang?

Kalau semua atau sebagian besar jawabannya adalah “ya”, maka selamat! Silakan lanjutkan ke kerangka atau 15 Beat Sheets STC.

Wah, apa lagi ini?

15 Beat Sheets: Struktur Cerita ala Save the Cat!

Sewaktu sekolah dahulu, terutama dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Kakak pasti pernah mendengar Struktur 3 Babak, bukan? Guru mewajibkan, setiap kali mengarang cerita, harus ada:

  1. Babak Pengenalan: Tentang TU dan kehidupannya.
  2. Babak Konflik: TU diterpa permasalahan atau konflik.
  3. Babak Resolusi: TU berhasil menyelesaikan konflik.

Di dalam STC pun kita masih menggunakan tiga babak yang klasik itu: Dunia Normal, Dunia Kebalikan, dan Dunia Sintetis. Bedanya, ketiga babak ini diuraikan lagi menjadi 15 Beat Sheets (alias 15 subplot).

I. Dunia Normal

    1. Opening Image (panjangnya sekitar 1% dari keseluruhan cerita): Gambaran awal tentang kehidupan tokoh dan dunia sekitarnya saat semuanya baik-baik saja.
    2. Theme Stated (sekitar 1%): Pernyataan yang mengungkapkan tema cerita dan memberikan petunjuk tentang kebutuhan TU.
    3. Setup (8-10%): Eksplorasi tentang kehidupan sehari-hari TU dan kelemahannya. Di sini, kita memahami bagaimana kehidupan tokoh sebelum terjadi perubahan besar.
    4. Catalyst (1%): Peristiwa yang mengubah hidup TU. Fase ini dicirikan dengan TU yang tertendang keluar dari dunia lamanya menuju dunia baru.
    5. Debate (10-12%): Kebingungan TU saat ia mempertimbangkan tindakan selanjutnya.

II. Dunia Kebalikan

    1. Break Into 2 (1%): TU memutuskan untuk terlibat dalam petualangan.
    2. B Story (2%): Karakter-karakter baru berdatangan untuk membantu TU memahami tema cerita (Theme Stated).
    3. Fun and Games (20-25%): Kehidupan TU dalam dunia baru yang bertolak belakang dengan dunia awalnya. Ini bagian yang paling panjang dibanding empat belas beat sheets lainnya.
    4. Midpoint (1%): Puncak dari Fun and Games yang diikuti oleh kemenangan semu atau kekalahan semu. Di sinilah, pertaruhan dinaikkan.
    5. Bad Guys Close In (20-22%): Jika Midpoint adalah kemenangan semu, bagian ini akan mengarah pada momen-momen terburuk bagi tokoh (atau sebaliknya). Bentuknya bisa konflik internal tokoh (dalam dirinya sendiri) atau musuh sebenarnya (antagonis utama), atau kombinasi keduanya.
    6. All is Lost (1%): Titik terendah TU dalam cerita. Suatu momen ketika TU menghadapi tantangan dan keterpurukan besar.
    7. Dark Night of the Soul (3-5%): Reaksi TU ketika ia mencoba memproses semua yang telah terjadi sampai saat ini. Keadaan tokoh harus lebih buruk dan kacau dibanding bagian awal cerita.

III. Dunia Sintesis (pertemuan Dunia Normal dan Kebalikan)

    1. Break Into 3 (1%): Momen “aha!” ketika TU menyadari bahwa ia harus menyelesaikan semua masalah yang timbul di Babak II (Dunia Kebalikan) dan memperbaiki diri.
    2. Finale (20-22%): TU membuktikan bahwa ia telah mempelajari tema cerita dan menjalankan rencana yang telah ditetapkan di Break Into 3.
    3. Final Image (1%): Keadaan yang bertolak belakang dari Opening Image. Inilah gambaran tentang apa yang terjadi setelah TU mengalami transformasi yang signifikan dan memuaskan.

Menulis Premis, Logline, dan Sinopsis ala Save The Cat

Selain 15 Beat Sheets yang penting, kita juga memerlukan premis, logline, dan sinopsis. Ketiga hal ini sering membuat penulis bingung, karena semuanya ringkasan cerita. Namun, dalam metode STC, ketiganya memiliki fungsi yang berbeda.

Premis (ringkasan pendek)

Inilah ide dasar untuk memberi gambaran umum what if cerita kita secara sekilas. Ketika ada teman atau saudara yang basa-basi bertanya, “Wah, kamu barusan nulis novel, ya? Tentang apa, tuh?” jawab saja dengan premis.

  • Premis = TU + [Situasi/Kondisi] + [Masalah Utama]

Contohnya, “Seorang pembunuh bayaran yang memutuskan untuk pensiun tetapi malah dikejar-kejar oleh masa lalunya.”

Logline (ringkasan agak panjang)

Ini juga rangkuman cerita, tetapi lebih detail dan (menampilkan sisi-sisi) menarik. Tujuannya untuk menjual cerita kita kepada pihak-pihak yang lebih serius. Misalnya, untuk memikat hati penerbit atau produser film. Maka, logline harus sudah mengandung karakter, konflik utama, antagonis, dan pertaruhannya.

  • Logline = Ketika [Catalyst], TU yang tidak sempurna harus melakukan [Tindakan/Tujuan], atau jika tidak, terjadilah [Risiko Buruk]

Contohnya, “Ketika anjing peninggalan mendiang istrinya dibunuh oleh putra seorang bos mafia, seorang mantan pembunuh bayaran terpaksa kembali ke dunia bawah tanah untuk membalas dendam, atau ia akan selamanya dihantui oleh rasa bersalah dan kehilangan satu-satunya koneksi dengan mendiang istrinya.”

Sinopsis (ringkasan menyeluruh)

Terdapat dua jenis sinopsis. Kita tidak sedang membahas blurb atau teaser yang biasa ada di kover belakang novel atau punggung boks DVD. Sebab, sinopsis semacam itu hanya bertujuan untuk membuat calon audiens tertarik dan penasaran.

Sinopsis di sini merupakan rangkuman cerita yang menjelaskan alur dari awal sampai akhir, termasuk twist dan ending ceritanya. Tidak ada rahasia yang disembunyikan, karena sinopsis ini bukan untuk pembaca/penonton umum, melainkan untuk editor atau produser.

Begini rumus menulis sinopsis dengan cara STC:

  • Paragraf 1: Fokus pada Opening Image, Setup, Theme Stated, dan diakhiri dengan Catalyst yang memaksa tokoh melakukan Break into 2.
  • Paragraf 2: Fokus pada B-Story (hubungan kunci), Fun and Games, lalu puncaknya di Midpoint. Ceritakan bagaimana Bad Guys Close In, hingga TU hancur di All is Lost dan merenung di Dark Night of the Soul.
  • Paragraf 3: Fokus pada Break into 3 (solusi), Finale (pertempuran akhir/perubahan nyata), dan diakhiri dengan Final Image.

Bisa dibayangkan, siapapun yang membaca sinopsis ini akan langsung mengetahui keseluruhan ceritanya.

Logline ditambah sinopsis adalah kombinasi maut untuk membuat editor penerbit atau produser berpotensi membaca naskah kita secara lengkap (meski tidak jaminan juga).

Namun, logikanya begini. Para editor atau produser itu biasanya dikepung oleh puluhan hingga ratusan naskah, sehingga tidak memiliki waktu untuk membaca cerita dari penulis-penulis “kurang terkenal”. Dengan menghadirkan logline dan sinopsis yang rapi, kita meringankan beban kerja mereka.

Jika logline dan sinopsis Kakak menarik, tentu mereka akan memprioritaskan membaca naskah utuhnya dari halaman pertama.

Apa Save The Cat! Cocok untuk Segala Jenis Cerita?

Tidak! Metode STC bukan formula sapu jagat yang dapat diterapkan di segala jenis cerita. Kakak harus tahu kapan sebaiknya menggunakannya, dan kapan menggunakan metode yang lain.

Kapan sebaiknya menggunakan metode Save The Cat?

  1. Saat Kakak tidak tahu harus menulis apa atau terkena writer’s block. Metode STC memberikan kerangka kerja yang terstruktur, dengan tahapan yang jelas. Kakak seperti dipandu langkah demi langkah, apa yang harus ditulis di setiap bagian cerita, sehingga tanpa banyak drama kebuntuan, naskah pun sudah selesai.
  2. Saat fokus cerita Kakak adalah TU. Metode STC sangat karakter-sentris, berfokus pada pengembangan TU yang memiliki kelemahan dan tujuan yang jelas. Jika penciptaan tokoh ini (dan perubahannya) penting sekali dan membuat Kakak bangga, maka kembangkanlah cerita dengan metode STC. Dijamin cocok!
  3. Saat tujuan Kakak adalah menulis untuk industri secara praktis. Banyak pelaku industri kreatif yang sudah familier dengan kerangka ala STC dan variasinya. Sehingga, Kakak takkan kewalahan bila harus ditanya ini-itu oleh editor atau produser. Sebab, hampir semuanya pasti sudah ada dalam kerangka STC. Ditanya soal premis, logline, motivasi tokoh, dan macam-macam, Kakak pasti langsung nyambung karena bahasanya sudah sama. Tinggal memperbaiki apa yang mereka minta.

Kapan Save The Cat! tidak disarankan dipakai?

  1. Ketika Kakak butuh kebebasan bereksperimen dalam menulis. Untuk menulis cerita eksperimental, non linear, fokusnya latar belakang, gaya, suara (bukan alur atau tokoh yang bertransformasi), kerangka STC jelas terasa kaku atau malah membuat alurnya mudah ditebak. Banyak penulis berpengalaman juga menganggap STC hanya cocok untuk pemula. Jika Kakak sudah sepiawai Stephen King, struktur semacam ini justru menjadi belenggu.
  2. Ketika cerita Kakak minim konflik besar. STC sangat berbasis konflik eskalatif dengan titik balik yang jelas. Untuk cerita slice of life, kontemplatif, atau narasi yang memakai pola seperti Kishotenketsu (struktur cerita ala orang Timur yang menghindari konflik dan mengutamakan perubahan perspektif), jangan memaksakan menggunakan STC.
  3. Ketika Kakak merencanakan naskah yang pendek atau sangat panjang. Untuk cerpen atau fiksi mini (flash fiction), menjejalkan 15 beat sheets rasanya berlebihan. Demikian juga sebaliknya, untuk novel epik atau serial panjang, level detail dan kompleksitas konflik sering melampaui pola 15 beat sheets. Kalau karya sepanjang itu dipaksakan memakai STC, naskah mungkin akan terasa hambar dan membosankan.
  4. Genre Kakak tidak umum. Oh ya, sebenarnya ada pembagian genre-genre STC tersendiri, meskipun tidak terlalu berbeda dengan genre pada umumnya. Nah, beberapa praktisi menilai STC memang lebih pas untuk karya-karya bergenre mainstream begitu. Sementara untuk genre minoritas (misalnya, beberapa bentuk horor, misteri puzzle berat, drama ensemble, atau bed time story), pembagian beat sheets STC barangkali sulit diselaraskan.

Belajar Langsung Menyusun Kerangka Save The Cat!


Pada akhirnya, penggunaan metode STC sepenuhnya tergantung pada preferensi dan kebutuhan Kakak selaku penulis. STC hanyalah salah satu alat yang bermanfaat untuk mengembangkan cerita dengan struktur yang kuat dan menghubungkan emosional dengan pembaca. Bukan satu-satunya!

Kakak selalu perlu menjaga kreativitas dan fleksibilitas dalam proses penulisan, dan menggunakan metode apa pun yang paling sesuai dengan gaya dan visi Kakak sebagai penulis.

BAGIKAN HALAMAN INI DI

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Don't do that, please!