Kemarin saya blogwalking, lalu nyasar ke Studiokasatmata.com. Sunyi senyap. Kondisi situs itu seperti rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. “Haloooo? Ada oraaang??” Masih sunyi. Hanya terdengar gaung dari suara saya sendiri. Iseng-iseng, saya masuk ke ruang News. Eh, kosong juga! Bahkan kalender yang dipajang masih tahun 2005. Saya tiba-tiba jadi merasa sendirian dan angker. Tanda tanya pun berjejalan di otak ketika saya melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. Studiokasatmata pindah rumah? Atau kebetulan saja penghuninya sedang pergi semua tadi? Atau … Studiokasatmata memang telah tiada?
Melihat Plagiat melalui Kacamata Posmodernisme

Mengejar Matahari itu bagus. Namun saya tak bisa menikmatinya. Masalahnya satu: Saya lebih dulu menonton Chingu (judul Inggrisnya Friend), film jempolan asal Korea. Mengejar Matahari dan Chingu serupa tapi tak sama. Antara lain:
Fiksi sebagai Alat Revolusi
Di siang yang cerah, kami mendapat pertanyaan menarik dari seorang pembaca Wufi (terima kasih, Nurul). Kalau tak salah tangkap, pertanyaannya begitu filosofis dan mendasar. Kata Nurul, “Saya hanya dan sempat terpikir, apa sumbangsih karya fiksi terhadap perubahan masyarakat (tentu saja ke arah yang lebih baik, ato revolusi)?” Alamaaaak, habis liburan disodori pertanyaan begini ….
SuaraSurabaya.net Menyambut Era Visual Radio
Siapa tak kenal Suara Surabaya (SS) 100 FM? Saluran radio ini nekat menyiarkan berita setelah beredar SK Menpen yang melarang radio swasta menyiarkan berita, memelopori civic journalism ketika trennya justru request lagu dan titip salam, menjadi radio pertama di Indonesia yang bersistem digital, pemancarnya pun kini digital.